It’s a Really Fun Movie About Greeks Mythology. Review of “Percy Jackson: Sea of Monsters”

Image

Sudah 3 tahun sejak dirilisnya “Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief” (2010), sequel yang diadaptasi dari pentalogi petualangan Percy Jackson karya Rick Riordan ini, tetap dibuat, even hampir nggak terdengar promosinya. Posisi sutradara pun berganti dari Chris Colombus menjadi Thor Freudenthal yang dikenal lewat film “Diary of Wimpy Kid”, pastinya akan ditambah elemen komedi di film bergenre action-fantasy-myth ini. As we know, film ini memasukkan mitologi Yunani yang bercampur di dunia modern dengan tambahan unsur magis ala kekuatan dewa dewi Yunani. Film pertamanya kurang sukses karena banyak elemen novelnya yang dihilangkan (benar banget), dan pemasukan box office nya pun juga biasa saja. Untuk film keduanya ini, dijanjikan akan tetap setia dengan apa yang ada di novelnya, pastinya juga harapan fans dari novelnya akan terpuaskan lewat film ini.

Image

Percy Jackson (Logan Lerman), anak dari dewa air Poseidon, harus kembali lagi berpetualang bersama kedua sahabatnya, Annabeth (Alexandra Daddario) dan Grover (Brandon T. Jackson), mencari The Golden Fleece untuk menyembuhkan pohon yang berfungsi sebagai perisai Camp Half-Blood. Percy dikejutkan dengan kehadiran Cyclops bernama Tyson (Douglas Smith), yang mengaku sebagai anak dari Poseidon juga, yang berarti juga saudara kandung Percy dengan ibu yang berbeda yang jelas bukan manusia. Percy juga dihadapkan dengan ramalan tentang dirinya di masa lalu dan masa depan, dengan meninggalkan banyak pertanyaan. Masalah Percy dan sahabat-sahabatnya semakin banyak karena Luke Castellan (Jake Abel), putra dewa Hermes (Nathan Fillion), yang membelot ingin mengincar The Golden Fleece juga untuk membangkitkan dewa Kronos yang bisa membuat dunia hancur.

Image

Okay, here’s the review. bukan berarti membuat film sequel ini semakin buruk, Thor Freudenthal justru membuat sequel ini menjadi lebih menarik untuk ditonton. Untuk yang sudah membaca novel-nya, dari awal sampai akhir sangat setia seperti yang tertulis dalam novel walaupun ada beberapa elemen yang dihilangkan tapi nggak melenceng dari ceritanya. Menambahkan unsur komedi di film ini cukup efektif dengan script yang lumayan cerdas dalam segi jokes. Screen-stealer dinobatkan sama Douglas Smith yang memerankan Tyson yang lugu namun bisa mengundang tawa karena kekonyolannya. Kalian juga akan dimanjakan sama visual effects yang keren dari segi monster ala mitologi Yunani kuno, salah satunya Hippocamus yang hidup di air. Sayangnya, durasinya hanya 107 menit kurang lama untuk ukuran action-fantasy.

Image

Overall, entah kenapa banyak kritikus dunia yang menilai film ini buruk. Padahal, film ini masih seru sekaligus fun untuk disaksikan. The 3D is still recommended to choose for watching this movie and the 4DX in Blitzmegaplex.

Advertisements

WOnderful Dystopia. Review of “Elysium”

Image

Jangan remehkan negara Afrika Selatan dan jangan cuma kenal sama Charlize Theron sebagai aktris peraih Oscar yang berasal dari sana saja, kalian harus kenal lebih dekat sama sineas satu ini, Neill Blomkamp. Dia pernah sukses membuat film sci-fi berjudul “District 9” (2009) tentang alien berwujud udang yang tinggal sementara di Bumi, dan berhasil dapat 4 nominasi Oscar di tahun 2010 termasuk Best Picture. Visual effects yang keren dan membuat nama Sharlto Copley, sang aktor utama di film itu dikenal di Hollywood, well, dia juga berasal dari Afrika Selatan. Neill kembali lagi membuat genre yang sama di tahun ini, menghadirkan kembali nuansa sci-fi yang digabung dengan teknologi canggih bercampur dengan nuansa Dystopia berjudul “Elysium”. Memasang Matt Damon dan Jodie Foster sebagai dua pemain utama, akan bikin film ini sebagai film sci-fi paling dinanti tahun ini.

Image

ber-setting tahun 2154, Bumi hampir nggak layak untuk dihidupi. Orang-orang kaya hidup di sebuah tempat bernama Elysium yang subur dan penyakit mereka bisa disembuhkan dengan cepat, sedangkan orang-orang miskin tetap hidup di Bumi dengan keadaan yang mengkhawatirkan layaknya di tempat kumuh. Max Da Costa (Matt Damon) seorang warga Bumi yang penuh dengan catatan kriminal, mulai hidup dengan nyaman karena mempunyai pekerjaan di sebuah perusahaan pabrik, tiba-tiba terkena radiasi mematikan yang membuatnya punya waktu hidup tinggal 5 hari saja. Satu-satunya jalan untuk menyembuhkannya dengan pergi ke Elysium. Max pergi secara ilegal dibantu oleh temannya, tapi nggak semudah yang dibayangkan. Karena dia harus berhadapan dengan Menteri Pertahanan Elysium, Delacourt (Jodie Foster) yang berdarah dingin dengan agen suruhannya yang mematikan di Bumi bernama Kruger (Sharlto Copley). Bisakah dia Bertahan hidup?

Image

Okay, here’s the review. Kalian akan deja vu dengan film “District 9”, karena Neill berhasil kembali menggambarkan nuansa Dystopia-future yang memukau lengkap sama reruntuhan gedung yang meyakinkan hampir nggak terlihat kalau itu efek spesial. Lengkap dengan teknologi canggih yang digambarkan ada di tahun 2154 layaknya esensi sci-fi pada umumnya, really great. Ada beberapa adegan yang berdarah-darah di sini, tapi tetap keren untuk ditonton walaupun sedikit ada yang di sensor. Matt Damon dan Sharlto Copley berhasil bertransformasi lewat film ini, dan terutama untuk Copley, hampir semuanya nggak mengenalinya karena perubahan fisik yang lebih atletis dan wajahnya disini dipenuhi brewok. Sayangnya, penampilan Jodie Foster cuma sebentar dan terkesan hanya ‘tempelan’, even perannya cukup mengundang perhatian karena karakternya yang bengis. Ending-nya pun kurang menggigit padahal pertengahan film sudah thrilling.

Image

Overall,  masih bisa dinikmati untuk film sci-fi. Silakan terpukau dengan nuansa Dystopia-future yang keren, visual dan action yang seru. You will not regret.

It’s Scary. Period. Review of “The Conjuring”

20130806-143953.jpg

Film bertema rumah berhantu? Sudah sering. Jumping scared-scene? Biasa terjadi. Tapi, ada cerita yang flowy untuk film horor? Itu baru keluar dari mainstream film horor. James Wan yang merupakan sutradara keturunan Malaysia-Australia ini berhasil membuat pecinta film horor mengalami mimpi buruk setelah menonton film karyanya. Contohnya waktu dia membesut “Saw” dengan twist di luar dugaan dengan darah dimana-mana membuat penonton bertepuk tangan meriah. Lalu “Insidious” yang sukses membuat kita bergidik merinding melihat penampakan hantu-hantu yang ingin merasuki tubuh manusia (lupakan hantu utama yang berwarna merah itu). Sebelum berlanjut di sequelInsidious” September nanti, James Wan menakut-nakuti kalian dengan film horor “The Conjuring” yang berdasarkan kisah nyata dari salah satu kasus paling menyeramkan dan belum pernah diceritakan sebelumnya dari pasangan penyidik paranormal terkenal di dunia, Ed dan Lorraine Warren, yang juga dialami oleh The Perron Family. Ditambah memasukkan kasus boneka setan Anabelle yang pernah terjadi di tahun 1968, sukses juga membuat kalian semua mimpi buruk.

20130806-144158.jpg

Ber-setting tahun 1970-an, keluarga Perron baru pindah ke rumah yang dibelinya dari lelang bank. Awalnya acara pindah rumah itu menyenangkan dan 5 anak mereka mencari kamar sendiri. Tiba-tiba saja ada hal ganjil yang menghantui mereka dan bersikap menyakiti. Terganggu dengan hal itu, keluarga Perron memanggil Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine (Vera Farmiga) untuk menyelidiki rumahnya beserta kejadian ganjil itu. Sampai mereka menemukan hal paling menyeramkan yang selama ini mereka hadapi.

20130806-144305.jpg

Okay, here’s the review. James Wan sekali lagi membuktikkan dia tidak main-main dalam membuat film horror. Minus efek CGI (kecuali bagian kerasukan dan penampakan bayangan), dan mengandalkan teknik pergerakan kamera yang membuat mata kita serasa ingin ditutup supaya tidak kaget. Cara dia menampilkan atmosfer horor sudah efektif, tidak melulu kaget dengan penampakan hantu lalu berlalu begitu saja, this film is your worst nightmare. Mungkin tampilan hantunya memang kurang menakutkan, tapi sebelum penampakan hantu itu dimulai kalian akan merasakan atmosfer creepy. Vera Farmiga, Lili Taylor, dan Joey King berperan sangat bagus di sini terutama adegan Joey King yang ketakutan setelah kakimya ditarik hantu, lalu Lili Taylor yang sangat total ketika adegan merasukan. Atmosfer yang seru, dan ini adalah salah satu karya terbaik James Wan.

20130806-144447.jpg

Overall, scary and so creepy. Selain bernuansa horor, film ini memang punya cerita yang flowy dan memang berdasarkan pengalaman penyidik paranormal itu dan keluarga Perron, that’s the truth. Silakan capek nonton film ini, dan disarankan berteriak di beberapa adegan tertentu. Dare to watch? I already watch twice.

A Drama Wolverine Story in Japan

20130725-212151.jpg

Hellooooo…I’m back!!!!
Long time nggak posting karena kesibukan tiada henti di penulisan. Well, kalau mau lihat review film yang lain yang Saya tulis, bisa langsung lho ke http://www.freemagz.com. Okay, let’s talkin’ about the new Wolverine movie.

Mungkin banyak yang ahirnya lega menuggu kemunculan karakter X-Men yang paling jadi favorit pecinta komik khususnya Marvel, Wolverine, di layar lebar sejak terakhir muncul di “k” (2009). Banyak yang beranggapan, film asal usul Wolverine itu kurang bagus, sementara nggak sedikit juga yang bilang kalau film solo pertamanya itu seru di action-nya. Well, pro dan kontra dalam menikmati sebuah film selalu ada. Pada akhirnya, Wolverine muncul kembali dengan judul “The Wolverine“, dan ber-setting di Jepang. Sutradara pun berganti dari Gavin Hood menjadi James Mangold yang sukses mengantarkan Reese Whiterspoon mendapat piala Oscar lewat film “Walk The Line” (2005). Pastinya ekspektasi semua penikmat film terutama pecinta komik Marvel akan tinggi, dan sang sutradara pun pernah berargumen kalau ini cerita yang berdiri sendiri. But not reboot, and a lil’ bit sequel.

20130725-212337.jpg

Film ini bercerita tentang kehidupan Logan/Wolverine (Hugh Jackman) setelah kejadian di “X-Men: The Last Stand” (2006) dan sedikit dari film pertama Wolverine. Logan dihantui oleh bayang-bayang Jean Grey (Famke Janssen) setelah membunuhnya karena membunuh banyak orang dan berubah menjadi Phoenix. Lalu, cerita berganti Logan diajak ke Jepang oleh Yukio (Rila Fukushima) mutant yang bisa meramal masa depan karena atasannya, Yashida (Hal Yamanouchi), sekarat dan ingin sekali bertemu dengan Logan karena ucapan terima kasihnya waktu menyelamatkannya di zaman perang ketika Nagasaki di bom atom. Banyak rahasia yang disimpan Yashida menjelang kematiannya yang membuat Logan harus tinggal di Jepang dan melindungi Mariko (Tao Okamoto), cucu Yashida yang terancam dibunuh oleh ayahnya sendiri, Shingen (Hiroyuki Sanada). Ancaman datang bertubi-tubi mulai dari Yakuza dan kemunculan mutant wanita jahat, Viper (Svetlana Khodchenkova) dan Silver Samurai yang sama kuatnya dengan Wolverine.

20130725-212517.jpg

Okay, here’s the review. Better than the first film? Absolutely not. Walaupun masih setia dengan salah satu penggambaran komik nya yang ber-setting Jepang, justru lebih mengutamakan sisi drama yang terlalu banyak dialog dan banyak adegan romance yang membosankan dan nggak penting. Ada satu adegan yang thrilling ketika battle di kereta api cepat, sisa action-nya menjelang akhir sedikit kurang maksimal untuk mendapatkan thrilling. Hugh Jackman masih punya pesona kuat sebagai Wolverine, lalu karakter Yukio yang dimainkan Rila Fukushima berhasil menjadi scene-stealer yang membuat kita kagum atas aksinya sebagai jagoan yang bisa memainkan pedang. About Jean Grey? Not really interesting cuma tempelan belaka. Bahkan karakter Viper kurang berbahaya dan kurang sadis disamping dia bisa berganti kulit layaknya ular dengan efek yang cukup bagus.

20130725-212604.jpg

Overall, jangan terlalu berharap lebih untuk banyak adegan ‘gedebak gedebuk’ beli large popcorn untuk menghilangkan bosan, plus 3D juga kurang begitu membantu. Yang menyelamatkan film ini cuma di post end credit scene yang epic, karena itu adalah clue dari film “X-Men: Days of Future Past” yang rilis tahun depan. So, jangan buru-buru untuk beranjak dari kursi bioskop.

Smart Slasher From Thailand. Review of “Countdown”

20130124-212928.jpg

Sub genre slasher di fantastic genre sepertinya masih menjadi favorit untuk para pecinta film. Terutama film Hollywood yang sudah banyak memproduksi film ber genre ini, sayangnya hanya sedikit buatan Hollywood yang berkualitas, hanya mengutamakan darah bermuncratan dan keseksian para pemainnya, sekaligus unsur sex explicit yang juga jadi nilai jualan utamanya dibanding ceritanya. Apa jadinya kalau Thailand membuat film slasher? Kita pasti sedikit skeptis dengan hasilnya, karena negri itu justru lebih kuat di genre horor. Dengan production house GTH yang sukses dengan film “4Bia” dan “Phobia 2”, mereka optimis dengan genre slasher baru berjudul “Countdown”. Karya debut sutradara Nattawut Poonpiriya ini diharapkan bisa membuat film slasher yang tidak hanya menonjolkan kesadisan tapi juga cerita yang bagus.

20130124-213116.jpg

Perayaan malam tahun baru selalu dinanti di setiap negara. Terutama di New York selalu ramai di Time Square untuk berkumpul bersama-sama. Tapi, tidak berlaku oleh 3 sahabat asal Thailand yang tinggal di sana. Mereka adalah Jack (Pachara Chirativat), Bee (Jarinporn Junkiet), dan Pam (Pataraya Krueasuwansiri). Mereka tinggal di satu apartemen dan ingin pergantian malam tahun baru 2013 tidak membosankan. Lalu Jack menemukan brosur pengedar ganja bernama Jesus yang bisa dipanggil ke rumah untuk private party. Ketika Jesus ke apartemen mereka, awalnya berjalan sangat fun sambil menunggu detik-detik pergantian tahun. Tapi, justru malam tahun baru itu berubah menjadi malam mimpi buruk mereka.

20130124-213225.jpg

Okay, here’s the review. Kamu berpikir film ini menjadi tipikal film slasher mainstream yang biasa dibikin Hollywood? At first mungkin kamu akan berpikir begitu, tapi kamu harus membuang pikiran itu. Film ini adalah film slasher yang bagus dan mengutamakan cerita tanpa harus banyak darah bersimbah. Cerita yang mengalir dengan sangat rapi dengan akting para pemainnya yang chemistry-nya seimbang. Film ini juga bisa mempermainkan pikiran kamu ketika menontonnya, kamu akan berpikir apakah itu nyata atau bukan. Twist ending yang pintar sekaligus cerdas yang bisa bikin kamu tertipu tanapa menghilangkan esensi cerita sepanjang film. Sutradara debutan ini patut diberi applause meriah karena berhasil membuat film slasher yang sebenarnya.

20130124-213326.jpg

Overall, terganggu dengan banyaknya adegan banyak darah yang tidak logis? Sepertinya kamu harus menonton film ini. Walaupun tidak terlalu berdarah, siap-siap saja merasa miris dengan beberapa adegan sadisnya. Salah satu film fantastic genre yang recommended untuk ditonton di awal tahun ini.

This review also published in http://www.freemagz.com

Beautiful Cinematography and Fun Story. Review of “The Hobbit: an Unexpected Journey”

20121227-152027.jpg

Cerita tentang dunia fantasi dan khayalan dengan makhluk-makhluk seperti peri, kurcaci, raksasa, dan penyihir sudah banyak di filmkan sejak lama. Nggak hanya cerita anak-anak saja yang menciptakan dunia fantasi, namun orang dewasa juga bisa menikmati cerita film bergenre fantasi dengan ceritanyang lebih gelap dan sedikit banyak adegan kekerasan. Thanks to J.R.R. Tolkien, yang membuat literatur trilogyThe Lord Of The Rings“. Dengan setting Middle Earth yang dihuni para makhluk fantasi seperti peri, penyihir, raksasa, orc, goblin, kurcaci, dan juga hobbit. Thanks also to Peter Jackson yang berhasil menghidupkan trilogy “The Lords Of The Rings” menjadi film yang sampai sekarang diminati pecinta film fantasi (khususnya semuanpecinta film) sekaligus mendekati penggambaran novel yang ditulis oleh Tolkien. Kesuksesan film ini mengganjar 11 piala Oscar untuk saga terakhir berjudul “The Return of The King” termasuk Best Picture di tahun 2004. Setelah itu, sutradara yang pernah menyutradarai film remake “King Kong” ini, berminat untuk kembali ke dunia Tolkien dengan mengadaptasi novel “The Hobbit” yang merupakan prequel cerita trilogyThe Lord Of The Rings” mengisahkan Bilbo Baggins yang menemukan the one ring pertama kali sebelum harus dihancurkan Frodo Baggins, dan ikut berpetualang bersama para kurcaci untuk merebut tanah mereka yang sudah hancur. Awalnya, proyek film ini akan digawangi oleh Guillermo Del Toro yang sukses dengan “Pan’s Labyrinth“, bahkan Del Toro sudah mempunyai vision sendiri dengan dunia Tolkien. Setelah sekian lama, dan proyek hampir terbengkalai Del Toro mundur dan Peter Jackson lah yang turun tangan untuk menggarap film yang akan menjadi trilogy ini.

20121227-152418.jpg

Seperti yang diceritakan di atas, kisah film ini berfokus pada Bilbo Baggins (Martin Freeman), seorang hobbit yang menikmati hidup tenangnya di Shire, Middle Earth. Suatu hari, dia kedatangan Gandalf the Grey (Ian McKellen), penyihir yang mengajakanya berpetualang. Awalnya Bilbo nggak menghiraukan ajakan Gandalf malah justru mengabaikannya, dan terjadilah hal yang di luar dugaannya. Sekelompok kurcaci yang dipimpin oleh Thorin Oakenshield (Richard Armitage) datang ke rumah Bilbo, kedatangan mereka membuat Bilbo nggak nyaman karena persediaan makanan Bilbo habis dimakan mereka. Setelah menjelaskan petualangan mereka yang ingin merebut tanah para kurcaci yang hilang, Erebor, Bilbo masih enggan berpetualang malah diakaui sebagai master pencuri oleh Gandalf untuk membantu para kurcaci. Namun, Bilbo justru merubah niatnya untuk ikut berpetualang bersama mereka. Dan perjalanan yang nggak terduga pun terjadi.

20121227-152652.jpg

Okay, here’s the review. Keputusan tepat untuk Peter Jackson kembali menyutradarai film ini, karena dialah yang memang mengerti dunia Middle Earth. Terbukti dengan sinematografi yang indah, lengkap dengan visual effects yang spektakular untuk memanjakan mata kamu dari awal hingga akhir film ini. Alur ceritanya sangat flowy dan nggak membosankan, sampai kita nggak terasa sudah 3 jam duduk di bioskop. Suatu terobosan baru yang dilakukan oleh Peter Jackson, karena dia mengambil gambar dengan 48 frame/second High Frame Rate (HFR) yang membuat tampilan gambar menjadi lebih tajam, kita akan disuguhkan gambar seperti kita menonton film blu-ray di HD TV 1080p dengan layar lebar. Kalau kamu penikmat visualisasi dalam menonton film, format 3D dengan HFR sangat direkomendasikan. Tapi, jika kamu yang belum terbiasa dengan format ini, pastinya akan terganggu karena gambar terlalu cepat dan membuat mata capek sekaligus pusing. Jangan sedih,masih ada format 2D dan IMAX 3D yang recommended, tinggal pilih sesuai dengan kenyamanan kamu untuk menonton film ini.

20121227-152758.jpg

Overall, apapun format film ini yang kamu pilih, kamu akan tetap dimanjakan oleh visual yang sempurna lewat film babak pertama dari film ini. Tentunya film ini nggak boleh kamu lewatkan begitu saja. Dan sangat nggak sabar untuk menanti lanjutannya “The Hobbit: The Desolation of Smaug” yang akan rilis tahun depan.

The Horror’s So Silent Literally. Review of “Silent Hill: Revelation”

SHRposter

Tahun 2006, film yang diangkat dari video game berjudul “Silent Hill” dirilis. Antusias pecinta video game survival horror produksi Konami ini sangat tinggi karena tampilan visual di video game “Silent Hill” sangat bagus dengan penampakan monster unik dan artsy, terutama suster pembunuh yang berjalan meliuk-liuk. Film yang dibesut Cristophe Gans ini sukses menampilkan visual yang keren seperti di video game-nya, sayangnya dari segi cerita jauh di atas ekspektasi. Survival horror yang dibentuk lewat film ini sama sekali kurang memberikan suspense untuk penontonnya. Setelah sekian lama dan dijanjikan akan dibuatkan sequel. 6 tahun berlalu akhirnya lahirlah sequel film ini “Silent Hill: Revelation” yang dirilis dengan format 3D. Katanya, akan lebih seram daripada film pertamanya.

Mengambil jalan cerita dari video gameSilent Hill 3”, Heather Mason (Adelaide Clemens) dengan nama asli Sharon DaSilva, harus hidup berpindah-pindah karena tuntutan pekerjaan dari ayahnya, Harry Mason (Sean Bean). Sebenarnya itu trik ayahnya, agar Sharon tidak ingat dan tidak kembali ke kota terkutuk Silent Hill. Suatu hari, ayahnya menghilang dan Heather teringat lagi dengan kota Silent Hill. Dia percaya kalau ayahnya terjebak di sana. Heather kemudian menemukan kenyataan yang menyeramkan, dan misteri dibalik pengungkapan reinkarnasinya.

Okay, here’s the review. Lebih bagus dari yang pertama? Completely not. Film ini memang menampilkan visual yang sama persis dengan game-nya, itu yang menjadi kelebihan film ini. Ya, itu saja kelebihannya. Cerita yang dibangun dari awal sampai akhir sama sekali membosankan cenderung banyak dialog yang dipaksakan. Horor nya juga tidak menampilkan greget yang membuat kita kebayang-bayang, hanya sekedar kaget-kagetan saja. Ending yang ditampilkan juga antiklimaks, dan semua hanya bilang “that’s it?”

Overall, walaupun didukung efek 3D yang bagus, tetap saja membuat film ini banyak kekurangan. Ini adalah salah satu film yang gagal mengadaptasi kesuksesan video game yang terkenal.

James Bond With A Touch Of Drama But All GREAT. Review of “Skyfall”

Nggak kerasa usia karakter fiktif terkenal James Bond karya novelis Ian Fleming ini sudah berumur 50 tahun sejak karakter ini mulai difilmkan. Pertama kali diperkenalkan di layar lebar dengan Sean Connery sebagai James Bond lewat “Dr. No” (1962), tokoh ini langsung disukai pecinta film dan punya fanbase sendiri. Berbagai generasi sudah memerankan James Bond setelah Sean Connery mulai dari Roger Moore, Timothy Dalton, George Lazenby, Pierce Brosnan, dan sekarang yang lebih garang Daniel Craig. Sejak muncul di “Casino Royale” (2006), sosok baru James Bond yang garang ini tambah disukai, membuktikkan kalau Daniel Craig berhasil membawa karakter james Bond menjadi lebih fresh. Setelah “Quantum Of Solace” (2008), sekarang James Bond beraksi lagi lewat “Skyfall” yang kali ini dijanjikan lebi punya sisi drama yang kelam tanpa harus meninggalkan action khas James Bond dengan sutradara peraih Oscar, Sam Mendes.

James Bond a.k.a 007 (Daniel Craig) sedang melakukan misi di Istanbul bersama agen MI6 Eve (Naomie Harris). Dalam misinya mengejar penjahat bernama Patrice (Ola Rapace), Bond tertembak dan dinyatakan tewas dalam misi. Sedangkan M (Judi Dench), harus menghadapi terror masa lalunya yang bisa mengancam nyawanya. Teror dimulai ketika kantor MI6 dibobol dan diledakkan, M harus memutar otak dan mengusut siapa dalang semua ini. Ternyata, Bond nggak tewas, dia masih hidup dan menyendiri. Ketika dia tahu kantor MI6 diserang, dia kembali ke London untuk membantu M mencari tahu apa motif sang teroris. Kali ini kesetiaan James Bond dengan M diuji, walaupun harus mengetahui masa lalu M yang penuh kejutan yang juga menyangkut dirinya.

Okay, here’s the review. Film James Bond ini bisa dibilang menjadi salah satu film James Bond yang terbaik. Sam Mendes berhasil membawa film ini lebih kelam dengan sentuhan drama. Memamg villain yang ditampilkan di sini lebih melakukan aksinya karena urusan personal bukan yang terlalu tembak-tembakan ke arah sadis. Intrik dari pertengahan film menuju akhir membuat kita nggak bisa melewatkan satu dialog karena permasalahan dan konklusi yang ada di dialog. Twist yang seru dan juga di akhir film membuat film ini menjadi utuh. Sampai banyak yang berkata ‘oohhh ternyata selama ini itu si dia… well, itu karakter tersembunyi yang akhirnya muncul lagi. I’m not gonna say in here. Javier Bardem keren sekali memerankan main villain yang penuh intrik, you will love him.

Overall, nggak bisa dilewatkan film ini. Kalau ingin lebih seru dan menikmati keindahan landscape sinematografi serta suara yang dahsyat, better watch in IMAX. Dan Saya sudah nggak sabar untuk menantikan petualangan James Bond selanjutnya. Go BOND!!!

It Makes You Scare About The ‘Jumping’ But It’s All Predictable. Review of “Paranormal Activity 4”

Teknik found footage lagi-lagi jadi hype di perfilman Hollywood, apalagi dengan genre horor dan thriller menjadi jualan utama untuk menambah kengerian penonton sewaktu menonton film itu. Pertama kali, film found footage dibuat ada di film “Cannibal Holocaust” (1980) dengan kesadisan penuh eksplisit di film ini tapi sampai sekarang dicari oleh penggemar film gore. Kesuksesan itu juga melahirkan film “The Blair Witch Project” (1999) yang pada awalnya tertipu karena itu adalah kejadian nyata karena menampilkan wawancara di sebuah acara TV (sebelum film itu rilis) yang mengaku anggota keluarganya hilang, padahal itu adalah viral marketing untuk mempromosikan film ini, tapi tertipu pun penonton merasa puas karena walaupun horor tapi menampilkan cerita yang bagus serta kengerian yang luar biasa bikin kaget. Sekarang, ada “Paranormal Activity” film berbudget sangat kecil tapi menjadi box office hits karena bukan ‘penampakan’ yang jadi jualan tapi fenomena layaknya ‘uji nyali’ yang membuat film ini punya nilai plus. Kesuksesan itu menjadikan sequel yang sekarang sudah masuk angka 4. Are we still scare to watch this?

Sekuel kali ini menceritakan 5 tahun sejak insiden di film “Paranormal Activity 2”, ketika Katie dan keponakannya, Hunter, hilang. Sebuah keluarga yang tampak baik-baik saja harus menghadapi fenomena gaib sejak kedatangan anak kecil yang menginap di rumahnya bernama Robbie. Keluarga itu terpaksa menerima Robbie yang tinggal di seberang rumah mereka karena ibunya masuk rumah sakit. Suara-suara mengganggu sampai kekerasan fisik yang nggak lazim dialami keluarga itu dan sepertinya incaran utamanya adalah Wyatt, anak kecil yang merupakan anak paling kecil di keluarga itu.

Okay, here’s the review. “Paranormal Activity” 1 dan 2 memang diakui bagus dan nggak terkesan scripted. Itu yang membuat film ini mempunyai nilai lebih untuk sebuah film horor yang menegangkan. Masuk ke “Paranormal Activity 3” yang merupakan prequel, walaupun ada bagian yang membuat kita ketakutan, tapi sudah terlihat kalau itu scripted, nggak ada lagi kejutan-kejutan seru seperti film pertamanya. Yang ke-4 ini justru lebih biasa saja, banyak adegan yang hanya mengagetkan tapi semua adegan sampai akhir bisa diprediksi, dan nggak ada kejutan-kejutan lainnya yang membuat film ini seperti horor ‘garing’. Walaupun teknik pengambilan kameranya nggak hanya handycam saja dan menggunakan kamera laptop, tetap saja masih kurang menggigit untuk sebuah film horor.

Overall, film yang biasa saja dan tetap akan dibuat sequel nya. Kalau yang belum menonton film ini, siap-siap kecewa tapi begitu filmnya selesai jangan beranjak dulu dari kursi kalian karena ada post credit scene selama 30 detik yang berbahasa Spanyol.

Good Remake and Nice Action. Review of “Dredd”

 

Sudah banyak tokoh komik yang di adaptasi menjadi film layar lebar Hollywood. Kayaknya, Hollywood ingin tokoh komik yang nggak terlalu dikenal masyarakat secara worldwide, cuma dikenal di Amerika dan Eropa saja, untuk diadaptasi ke layar lebar. Misalnya, “Hellblazer” dengan tokoh John Constantine lewat film “Constantine”, lalu ada “Sin City”, ‘The Spirit”, sampai serial “The Walking Dead”. Let’s flashback to 1995, tokoh Judge Dredd yang berasal dari komik diadaptasi menjadi film dengan bintang Slyvester Stallone berjudul sama. Dengan setting dystopia modern di tahun 2139, film yang mengandalkan action ini meskipun karakter Judge Dredd dibuat mirip seperti komik, tapi film ini sukses jadi sasaran cacian kritikus film yang menilai kalau film ini punya storyline yang lemah. Sekarang, tahun ini muncul remake pertama dari karakter hakim yang dikenal tanpa ampun ini dibuat dengan sutradara Pete Travis (Vantage Point) dan si hakim berwajah garang itu diperankan Karl Urban, kali ini dengan judul lebih singkat, “Dredd”. Walaupun remake, sang sutradara bilang kalau semua jalan cerita berdiri sendiri dan nggak ada hubungannya sama yang pertama. Lebih tepat dibilang reboot dong.

Setting masih dystopia yang menggambarkan kejahatan Amerika menjadi Mega City One, hukum yang berlaku di sini diawasi oleh para hakim (judges) yang berpatroli layaknya polisi untuk menghentikan kejahatan dengan langsung menyebutkan hukuman bagi pelaku kejahatan. Kali ini, Judge Dredd (Karl Urban), mengawasi dan menilai hakim baru bernama Judge Anderson (Olivia Thirlby) yang masih pemula dan mempunyai kemampuan psikis yaitu bisa membaca pikiran dan melihat masa depan. Mereka menyelidiki gembong narkoba bernama Ma-Ma (Lena Headey) yang menguasai satu blok gedung di Peach Trees dengan memproduksi narkoba bernama Slo-Mo yang membuat efek lambat bagi orang yang mengkonsumsinya. Berhasil menangkap anak buahnya, tapi Dredd dan Anderson terjebak tidak bisa keluar dari blok itu. Terjadilah aksi Judge Dredd melawan semua anak buah Ma-Ma.

Okay, here’s the review. mungkin yang sudah menonton film ini pasti akan teringat sama film ‘The Raid“, yes correct.. Kemiripannya adalah pertarungan besar-besaran di satu gedung selama film itu berjalan. Hanya saja kelebihan dari film ini, meskipun haya satu tempat lokasinya,  masih mempunyai alur cerita yang mengalir dengan enak walaupun hanya aksi baku tembak. Membuat remake film bukan hal yang mudah, untungnya remake film Judge Dredd ini lebih baik dari film pertamanya. Walaupun formulanya masih menyamai film awalnya dengan aksi tembak-tembakan yang seru, tetap masih ada satu kesatuan cerita yang bisa diikuti dengan baik. Karl urban berhasil memerankan Dredd dengan baik, dengan mimik muka yang garang even kita nggak akan melihat wajahnya di balik helm ala Judge Dredd. Visualisasi yang dibuat persis komiknya, dan musik yang noisy lengkap membuat film ini menjadi seru untuk dinikmati. Jangan lupa, efek slow motion yang divisualisasikan sangat bagus ketika oramg sedang mengkonsumsi Slo-Mo.

Overall, film yang menghibur dan sedikit berdarah-darah tapi seru untuk dinikmati. Sayangnya, format 3D yang harusnya jadi nilai jual utama film ini nggak dirilis di Indonesia, padahal banyak efek spektakuler yang bisa semakin seru untuk dinikmati dalam format 3D. Salah satu pilihan seru untuk mengisi waktu luang kalian, it’s worthed.