“V/H/S” Trailer Finally Release

Bagaimana kalau format found footage dikumpulkan dalam 5 cerita horor dalam satu kemasan film? Pastinya akan menjadi omnibus yang keren. 5 cerita dengan 6 sutradara yang menggarap per segmen di film ini, mereka adalah: Ti West, Joe Swanberg, Radio Silence, David Bruckner, Adam Wingard, dan Glenn McQuaid. Film yang jadi official selection di Sundance Film Festival 2012 dan beberapa Fantastic Film Festival internasional lainnya, akan dirilis di Amerika bulan Oktober 2012, dilaporkan beberapa penonton yang menonton film ini ada yang sampai muntah karena disturbing pictures yang ditampilkan di film ini. Artwork poster film yang dirilis oleh Magnet ini sangat unik, banyak video VHS yang dibentuk menjadi tengkorak dengan tagline yang membuat penasaran: “The Collection Is Killer“. AWESOME!!!

Trailer sudah di publish di IMDB dan You Tube, menampilkan cuplikan beberapa adegan per segmen yang membuat kita merinding. Yang menariknya, found footage juga ada yang lewat Skype, tentunya ini belum pernah diangkat di sebuah format found footage. Sepertinya, kalian pecinta horor-thriller-gore, film ini wajib kamu tunggu. Watch the trailer below.

 

Great Action, Nice Premise, Bad Execution. Review of “Abraham Lincoln: Vampire Hunter”

Sepertinya Hollywood sedang asyik mengangkat tema twisted story, entah itu dari fairy tales atau kisah sejarah sekalipun. Seperti contoh film ini yang diangkat dari novel berjudul “Abraham Lincoln: Vampire Hunter” karya Seth Grahame-Smith yang sukses menjadi New York Best Sellers karena mengangkat cerita yang berbeda tentang presiden Amerika ke-16 ini. Sebelumnya, Seth juga menulis twisted story dari karya Jane Austen berjudul “Pride and Prejudice” menjadi “Pride and Prejudice and Zombies” yang sukses juga menjadi New York Best Sellers. Dengan kolaborasi Tim Burton dan Timur Bekmanbetov sebagai produser dan disutradarai langsung oleh Timur, awalnya kita akan tergiur dengan premise cerita yang seru lengkap dengan trailer yang bikin kita harus menontonnya di bioskop. Apalagi dengan film “Wanted” (2008) arahan Timur, pastinya akan disuguhkan adegan aksi yang spektakuler lengkap dengan slow motion untuk mendramatisir adegan aksi itu. Dengan unsur gothic dan noir ala Tim Burton, pastinya kolaborasi ini akan semakin lengkap menjadi kemasan film yang seru.

Cerita dimulai dari narasi sang presiden, Abraham Lincoln (Benjamin Walker), yang menceritakan kisah hidupnya dari kecil leat jurnal rahasia miliknya. Pada waktu kecil, Abraham harus menghadapi kesedihan karena ibunya meninggal karena gigitan vampire. Rasa dendam menyelimuti hatinya dan bersumpah akan membasmi semua vampire di muka bumi. Dengan bantuan Henry Sturgess (Dominic Cooper), Abraham dilatih untuk menjadi pembasmi vampire tangguh yang nggak kenal ampun. Abraham juga serius di dunia politik dan menikahi putri bangsawan Mary Todd (Mary Elizabeth Winstead), sekaligus menjadi presiden Amerika Serikat yang memperjuangkan persamaan ras. Perseteruan dengan vampire yang dipimpin oleh Adam (Rufus Sewell) dan Vadoma (Erin Wasson), mengakibatkan tercetusnya perang sipil yang tersohor itu. Perseteruan Abraham dan pemimpin vampire semakin sengit, Abraham harus ikut bertarung untuk terakhir kalinya.

Okay, here’s the review. Sebenarnya, film ini punya cerita yang menarik untuk dijadikan film, tapi begitu melihat keseluruhan film ini premise yang awalnya sudah di publish nggak digarap dengan serius. Kesalahan ada di skenario yang dibuat sendiri oleh sang author novelnya, Seth Grahame Smith, banyak elemen di novelnya menurut interview yang Saya lihat di berbagai sumber, dirubah sama dia hampir 70%. Saya memang belum baca novelnya, tapi Saya dibuat boring dengan jalan ceritanya yang kacau dan nggak meaningful. Kekuatan film ini memang hanya adegan berdarah-darah, dan action sequences-nya yang seru (memang khas Timur Bekmanbetov), walaupun ada beberapa adegan yang dibuat berlebihan. Efek 3D juga menjadi kekuatan di film ini, memang nggak terlalu eye-popping, tapi bisa membuat kita merasakan darah keluar layar dan vampire yang seolah-olah menyerang kita. Dengan akting yang sempurna dari semua cast-nya, Saya pikir sayang saja hanya mengandalkan aksi dengan cerita yang lemah. Pembawaan sinematografi yang mengikuti tone warna sephia dengan gothic noir, menandakan kita seperti menonton film sejarah Amerika pada akhir abad ke-19 yang kelam, that’s brilliant.

Overall, buat kalian yang suka dengan tema vampire dan berdarah-darah plus slow motion ala The Matrix, bisa menjadikan film ini sebagai pilihan untuk hiburan. Tips-nya tontonlah di hari biasa karena tiketnya lebih murah, dan pilih format 3D untuk menikmati filmnya. Because it’s a so so movie, too bad the collaboration of Burton and Bekmanbetov didn’t work perfectly in this movie.

Entertaining and Manipulative. Review of “Get The Gringo”

Mel Gibson back in action!!! Pastinya kita sudah kangen dengan penampilan ‘gebag gebug‘ opa Mel di layar lebar untuk memberantas kejahatan seperti di quadrilogy “Lethal Weapon” dan trilogy “Mad Max“. Walaupun masih aktif sebagai aktor, Mel Gibson mencoba drama seperti “The Beaver” yang hasilnya biasa saja. Kita juga tahu kalau opa Mel sukses menyutradarai film “The Passion Of  The Christ” dan “Apocalypto“, menjadikan dia salah satu aktor sekaligus sutradara nomor satu di Hollywood. Lewat film terbarunya ini, dia hanya sebagai aktor utama dan juga sebagai salah satu penulisnya. Sayangnya, keputusan merilis film ini lewat video on demand sepertinya hanya terbatas saja orang yang melihatnya di seluruh dunia. Khusus Indonesia, kita beruntung bisa melihat aksi opa Mel di layar lebar.

Mel Gibson sebagai perampok uang 4 juta dollar yang gagal melarikan diri dari kejaran polisi. Dia akhirnya masuk penjara di Meksiko yang biasa disebut “El Pueblito“. Penjara ini bukan hanya penjara biasa, tapi seperti mall underground yang narkotika sampai marijuana saja bisa dijual bebas di sini, sekaligus dibuat bisnis real estate kumuh oleh para narapidana di sini. Sadar dirinya adalah orang asing atau biasa disebut gringo dalam bahasa Spanyol, dia selalu direndahkan dan nggak dipercaya. Dia ingin sekali keluar dari penjara itu dengan dibantu seorang anak kecil berumur 10 tahun tapi berperilaku dewasa (Kevin Hernandez), dia melakukan berbagai cara untuk keluar dari sana, dengan syarat uang 4 juta dollar itu juga dibawanya.

Okay, here’s the review. Film yang juga punya judul “How I Spent My Summer Vacation” ini, awalnya membuat Saya nggak tertarik untuk menontonnya. Begitu melihat dari awal sampai akhir film ini, this is one of the SURPRISINGLY BRILLIANT action movie ever made. Berbagai cara yang dilakukan tokoh Mel Gibson di sini, sangat manipulatif yang membuat kita sebagai penonton sampai nggak terpikirkan bagaimana cara yang simple untuk bertahan hidup di penjara. Adegan action-nya juga lumayan mengjibur waktu adegan tembak-tembakan di penjara, tapi entah mengapa Saya selalu terganggu dengan slow motion waktu adegan ini jadi terkesan terlalu dramatis walaupun sedikit berdarah-darah. Cerita yang solid dan konsisten karena memang lebih difokuskan kepada si Mel a.k.a the gringo untuk kabur dari penjara itu sekaligus juga punya motif tersendiri kenapa dia merampok uang 4 juta dollar itu. Akting dari Kevin Hernandez sebagai bocah 10 tahun yang berperilaku dewasa di film ini, patut diacungi jempol karena bermain sangat bagus dan mencuri perhatian penonton disamping sang aktor utama, Mel Gibson. Walaupun tema film dengan tema kehidupan penjara sudah sering diangkat, Saya berpendapat ini adalah salah satu film dengan kehidupan penjara yang seru.

Overall, film ini cukup worth untuk ditonton. Mungkin kalian yang belum menontonnya akan ragu dengan judulnya yang agak-agak menuju ke film action kelas B. Tapi, kalian harus menghilangkan pikiran itu, dan biarkan kalian terpukau dengan cara-cara manipulatif yang dilakukan oleh karakter yang dimainkan Mel Gibson di sini. Untuk ukuran sutradara debutan, Adrian Grunberg yang sebelumnya jadi asisten sutradara untuk film-film besar, sukses membuat film ini sangat entertaining.

 

Close Encounter Of “88:88”, a Sci-Fi Short Film

Film ber-genre Sci-Fi identik dengan budget yang besar untuk special effects yang spektakuler, dan biasanya hanya untuk film feature berdurasi minimal 90 menit. Ternyata, nggak semua film Sci-Fi harus berdurasi panjang dan nggak harus dengan special effects yang WAH tapi kulitas content-nya masih dibilang bagus untuk ukuran short film. Film pendek berjudul yang disutradarai dan ditulis oleh Joey Ciccoline, dan dibantu penulisannya juga oleh Sean Wilson ini, sudah menjadi official selection di beberapa international film festival diantaranya di LES Film Festival New York, Nashville Film Festival, Maryland Film Festival, Faint Bilbao Spain, dan CFC WSFF Canada, dan mungkin akan menyusul di festival lain di beberapa belahan dunia lain. Cerita film ini terbilang simple, seorang cewek sedang melakukan DIY (Do It Yourself) projects. Ternyata apa yang dia lakukan itu ada hubungannya dengan alien.

Okay, here’s the review. Memang singkat dan to the point, karena itulah kenapa short film dibuat supaya cerita nggak bertele-tele. Penampakan alien hanya sekilas dengan menambahkan elemen horor di film ini. Special effects yang juga dilakukan oleh Joey Ciccoline di film ini, minimalis tapi sudah mewakilkan keseluruhan film tanpa harus dengan CGI yang dahsyat layaknya film Sci-Fi. Mungkin untuk orang awam, kurang mengerti apa maksud judul “88:88” dengan melihat keseluruhan film. Tapi, jika kalian jeli, pastinya akan tahu kenapa dipakai judul itu untuk film ini. Overall, keseluruhan film ini KEREN, walaupun dengan cerita yang sederhana dan efek yang minimalis. Sepertinya sudah saatnya Indonesia menjadikan film ini sebagai inspirasi (khususnya untuk para sineas muda) untuk mencoba membuat film Sci-Fi tanpa harus dengan efek yang dahsyat. Buat yang ingin lihat filmnya, enjoy the film below. Log on to http://www.8888film.com for more info.

An Introduction of Alien With Philosophy And Questionable. Review of “Prometheus”

Ridley Scott back to sci-fi!!! Yup, setelah lebih dari 30 tahun meninggalkan genre yang membesarkan namanya lewat “Alien” (1979) dan “Blade Runner” (1982). Film yang tadinya diberi judul “Paradise” ini, awalnya dipersiapkan untuk prekuel “Alien” yang script awalnya ditulis oleh Jon Spaiths. Proyek yang dari awal tahun 2000 sudah dipersiapkan ini, akhirnya sedikit dirombak oleh Ridley Scott dengan mengajak penulis serial “Lost“, Damon Lindelof, untuk menjadikan film ini berdiri sendiri dengan mitologi Alien universe dan tentunya masih berhubungan dengan asal mula Alien.Nggak ada tokoh Ellen Ripley di sini yang dulu diperankan Sigourney Weaver, saatnya Noomi Rapace yang dikenal sebagai Lisbeth Salander di “The Girl With The Dragon Tattoo” versi asli Swedia ini beraksi.

Ber-setting 30 tahun sebelum kejadian “Alien“, sekelompok ilmuwan dan kru menjelajahi luar angkasa dengan pesawat canggih Prometheus. Adalah sepasang ilmuwan, Dr. Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Dr. Charlie Holloway (Logan Marshall Green), yang menemukan lukisan di dinding batu di Islandia yang menunjukkan sebuah planet yang konon sebagai awal terciptanya manusia di muka bumi ini. Semua kru dengan berbagai macam background mulai arkeologis sampai geologis, bersatu untuk menjelajahi planet itu. Ketika masing-masing kru ternyata mempunyai agenda tersendiri, dan menghadapi sesuatu yang di luar dugaan mereka yang mengancam peradaban manusia di masa yang akan datang.

Okay, here’s the review. Opening film yang WAH dalam segi sinematografi, ketika sesosok makhluk yang mirip manusia meminum sebuah cairan aneh, dibuat sangat dramatis dan mengagumkan. Landscape planet yang dijelajahi dengan pahatan besar wajah manusia itu sukses membuat kita dibuat kagum. Chemistry antar pemain juga terbilang hebat, karena mempunyai agenda tersendiri di masing-masing karakternya, jelas terlihat “aslinya” ketika kita mengikuti dari awal sampai akhir film ini. Ini adalah sebuah introduction, karena kalau diperhatikan adegan yang membuat kita breathtaking nggak terlalu banyak, bisa jadi untuk orang yang (hanya) suka aksi belaka di sci-fi akan dibuat bosan. Tapi, di sini kita akan dibuat berfilosofi dan mempertanyakan tentang berbagai macam hal, sebenarnya siapa pencipta manusia? Kenapa embrio Alien bisa ada di planet itu? Bagaimana embrio Alien itu diciptakan? Dan berbagai macam pertanyaan lainnya yang bisa membuat kita menciptakan universe sendiri di film ini. Saya kagum dengan Michael Fassbender yang berperan sebagai android bernama David, aktingnya sebagai robot yang diciptakan mempunyai perasaan itu, sangat luar biasa sampai nggak mengenali kalau Fassy is a real human. Adegan klimaks sebenarnya nggak perlu berlapis-lapis, apa yang harusnya disudahkan tapi sengaja diadakan lagi setelahnya jadinya sedikit membosankan. Tapi, special effects yang ada di film ini sungguh membuat kita kagum dan tentunya harus menonton di IMAX 3D yang bisa membuat tampilan keseluruhan efek film ini maksimal.

Overall, tontonan yang menghibur dengan beberapa dialog yang bisa kita petik sebagai filosofi sekaligue quotes. Ridley Scott sukses kembali ke ‘mainan’ nya, menjadikan film ini adalah salah satu summer movie yang layak tonton. Sepertinya, film introduction ini akan melahirkan sebuah sequel, mungkin sequel-nya nanti akan lebih menceritakan tentang asal mula embrio dan DNA Alien. We’ll see.

Slowly But Keep Thrilling. Review of “The Road”

Kelebihan horor Asia memang selain dibuat ketakutan dengan sosok hantunya yang khas di setiap masing-masing negaranya, pastinya kita dibuat merasakan ketegangan untuk melihat tokoh protagonis yang ada di film itu menyelamatkan diri dari teror hantu itu. Filipina mungkin bisa dibilang yang paling bisa mempertahankan kedua elemen di atas, ketakutan dengan nuansa horor yang creepy (termasuk hantunya), sekaligus dibuat thrilling dengan menganbil nuansa thriller. Salah satu film produksi GMA Films yang disutradarai oleh Yam Laranas ini, adalah salah satunya. Dengan kesuksesan yang luar biasa di Filipina, kemudian film ini dirilis di Hollywood dibawah rilisan Freestyle Releasing. Yam Laranas dikenal sukses dengan film horornya yang berjudul “The Echo” (2004) dan kemudian di remake dengan judul sama di tahun 2008. Kesuksesan itu membuat film “The Road” meraih Golden Screen Awards 2012 kategori Best Sound. Great job, Yam.

Film ini mempunyai 3 bagian dengan judul “2008”, “1998”, dan “1988”, dengan latar belakan seorang polisi yang baru naik pangkat bernama Luis Medina (TJ Trinidad), membuka lagi kasus orang hilang 12 tahun yang lalu. Tahun 2008 yang merupakan setting utama film ini, menceritakan 3 orang anak muda diam-diam membawa mobil orang tuanya untuk mengasah kemampuan menyetir mereka. Karena belum punya SIM, mereka melewati jalan yang ditutup untuk jalan pintas melewati polisi itu, ternyata jalan itu nggak mempunyai ujung dan kejadian horor menghantui mereka sekaligus mengancam nyawa mereka. Cerita beralih flashback ke tahun 1998, sepasang kakak beradik cewek harus bernasib sial karena mobilnya overheating, mereka meminta tolong seorang cowok yang lewat di jalan itu untuk mencarikan air. Cowok itu mengajak ke rumahnya untuk mengambil air, bukan air yang kakak beradik cewek itu didapatkannya tapi mereka menjadi tawanan psycho dibalik wajah tampan. Beralih flashback lagi ke tahun 1988, diceritakan ada keluarga yang hidup pas-pasan di sebuah rumah dekat jalan. Sang ibu selalu berlaku kasar kepada anak cowoknya yang masih kecil, yang membuatnya otomatis harus menurut. Rasa ketakutan yang ditimbukan dari sang anak ternyata mempengaruhi sang ayah yang religius sehingga berbuat nekat. Ketiga bagian itu dirangkai menjadi satu untuk membentuk puzzle misteri apa yang sebenarnya terjadi di jalan itu, misteri yang terangkai ternyata terkuak dengan satu pelaku yang nggak terduga.

Okay, here’s the review. Pembawaan film ini memang lambat, tapi pacing yang lambat itu menjadi kekuatan dari film ini. Yam Laranas berhasil membuat kelambatan itu tetap membuat kita thrilling untuk mengikuti jalan ceritanya. Setiap tokoh mempunyai misteri tersendiri di setiap segmennya. Penampakan hantunya yang lumayan mengerikan, juga menjadikan nilai plus di film ini. Twist ending di film ini mungkin sudah sering dipakai untuk ukuran film horor atau thriller, walaupun mungkin bisa ditebak siapa sebenarnya tokoh dibalik kejadian-kejadian horor itu tetap membuat film ini nggak hilang dari segi suspense. Sound editing yang creepy juga sukses meningkatkan adrenalin kita, tata sinematografi yang mendukung dengan tone warna yang sangat pas, kita berhasil dibuat ketakutan.

Overall, ini adalah road movie versi horror-thriller Asia yang cukup creepy. Kalau kalian baca tulisan ini dan bertanya-tanya siapa yang sebenarnya membuat kejadian-kejadian aneh di jalan itu, harus menonton filmnya dulu, because I’m not gonna give the spoiler. Jarang sekali melihat film horor Filipina (Saya malah baru kali ini nonton horor Filipina), dan ini adalah horror-thriller yang worth to watch.

Found Footage Without A Very Clear Conclusion. Review of “Area 407”

Sepertinya Hollywood (walaupun itu produksi di production house besar atau kecil) suka sekali dengan format found footage yang seolah-olah itu kejadian nyata terekam dalam kamera. Baru saja fresh di ingatan kita dengan film dengan format yang sama, “Chronicle“, yang lumayan sukses dengan mengangkat tema superhero dengan sudut pandang semua kamera perekam termasuk kamera smart phone. Kali ini, IFC Films menggunakan format ini dengan budget yang minim, dan juga minim special effects. Sekaligus mengangkat tema…….dinosaurus.

Diceritakan sekelompok survivor dari kecelakaan pesawat mencoba bertahan hidup dan timbul kepanikan di masing-masing orang karena mereka nggak tahu berada di mana. Semua sinyal handphone mati, dan mereka memutar otak untuk keluar dari lokasi itu. Sambil berusaha keluar dari lokasi kecelakaan pesawat, mereka ternyata menemukan makhluk yang memangsa satu-persatu survivor kecelakaan itu. Makhluk yang seharusnya sudah punah berjuta-juta tahun yang lalu.

Okay, here’s the review. Film yang awalnya berjudul “Tape 407” ini awalnya menampilkan ketegangan waktu awal kejadian pesawat itu jatuh. Kita akan dibuat ikut panik melihat masing-masing survivor itu kebingungan mencari jalan keluar dari tempat kecelakaan pesawat. Dinosaurus yang muncul di sini juga tampil sekilas, nggak terlalu di tampilkan keseluruhan (seperti penampakan hantu yang lewat sekelebat), sayangnya begitu mengikuti film ini sampai menuju akhir kita dibuat bingung sebenarnya dinosaurus itu dari mana asal usulnya. Diceritakan, di tempat itu ada sebuah eksperimen, tapi eksperimen itu nggak dijelaskan secara gamblang hanya dibuat penasaran saja. Penjelasan eksperimen itu juga dibicarakan di akhir film dengan ending yang sangat gampang ditebak. Jujur, Saya bingung dengan film ini, banyak teriakan yang annoying, dinosaurus yang nggak jelas asal usulnya, dan banyak conclusion lainnya yang seharusnya lebih penting dijelaskan daripada harus dibanyakin tokohnya teriak-teriak panik.

Overall, seharusnya duo sutradara sekaligus penulis film ini, Dale Fabrigar dan Everette Wallin, mempertahankan ketegangan yang awal sudah dibentuk. Conclusion yang lebih penting seharusnya ditampilkan cukup dengan narasi atau mungkin seperti site map yang ditemukan di tempat itu, daripada harus melihat tokoh-tokohnya lari nggak jelas sambil teriak. “Jurassic Park” versi found footage??? ABSOLUTELY NOT!!!

Eerrie, Creeppy, Army, But So So. Review of “23:59”

Setelah kesuksesan “Rumah Dara” a.k.a “Macabre” a.k.a “Darah” secara internasional, Gorylah Pictures bekerja sama dengan Clover Films yang berpusat di Singapura, merilis film horor terbaru berjudul “23:59“. Kali ini, film pure horor itu menampilkan salah satu hantu terkenal di Indonesia yaitu Kuntilanak. Ternyata, Kuntilanak juga terkenal di Singapura (kalau di Malaysia terkenal dengan nama Pontianak) dengan berbagai mitos. Salah satunya di asrama militer yang punya banyak cerita horor dengan berbagai versi. Lewat film ini, penulis sekaligus sutradara Gilbert Chan, mengangkat satu dari sekian banyak versi cerita horor militer yang berfokus pada hantu Kuntilanak sekaligus cerita seram yang sering dibicarakan di Pulau Tekong tempat latihan militer di Singapura, that’s interesting. Film ini sudah dirilis tanggal 3 November 2011 lalu di Singapura dan sukses secara lokal sekaligus mendapat berbagai pujian.

Ber-setting tahun 1983 di tempat latihan mliter di sebuah pulau, Tan (Tedd Chan), dihantui sosok hantu cewek misterius yang selalu menampakkan diri tepat di jam 23:59. Karena ketakutannya itu, dia dijadikan bahan lelucon teman-teman satu asramanya dan di bully. Padahal, semua sudah tahu bahwa mitos mengatakan tepat jam 23:59 selalu muncul kejadian aneh yang menampakkan sesosok hantu yang dinamakan Kuntilanak. Ted meyakinkan kepada teman baiknya, Jeremy (Henley Hii), tapi Jeremy nggak percaya dan menenangkan temannya itu. Sehingga kejadian misterius itu terus muncul dan Jeremy menjadi sasaran hantu berikutnya, mau nggak mau Jeremy menguak misteri sosok hantu Kuntilanak itu dan kenapa selalu muncul di jam 23:59.

Okay, here’s the review. Banyak pujian dari film ini? Hmmm….mungkin karena sukses menampilkan suara eerie, suasana creepy di asrama militer, dan make-up effect hantu yang ada di film ini. Di awal film, sangat menjanjikan yang langsung menampilkan sosok Kuntilanak yang menyeramkan, dilanjut dengan ilustrasi tentang mitos cerita horor yang ada di asrama militer sebagai opening credit. Saya awalnya mengira, jalan cerita dan kejadian horornya sama persis yang digambarkan di ilustrasi itu, ternyata nggak. Padahal kalau sesuai, pastinya akan lebih membuat penonton ketakutan. Menuju ke tengah-tengah film, kita masih dibuat ketakutan dengan kejadian-kejadian aneh sewaktu latihan militer dimulai salah satunya adegan kesurupan dan pada waktu berada di hutan. Begitu menjelang akhir, horornya menjadi terasa datar dan suspense menjadi turun, too bad. Kekuatan film ini berada di sound editing, biasanya kita selalu kaget dengan penampakan hantu dengan musik yang ‘JRANG JRENG’, di film ini tanpa musik itu pun kita akan dibuat takut dan kaget. Sayangnya, akting semua pemainnya nggak menunjukkan chemistry yang pas, terkesan datar apalagi Benjamin Lim yang berperan sebagai Captain Hong dibawakan secara datar.

Overall, horor asal Singapura ini kurang greget meskipun kita sudah dibuat ketakutan di awal sampai ke tengah saja, bahkan ada dialog yang sengaja dibuat kucu tapi sebenarnya nggak lucu lengkap membuat film ini sukses membuat adrenalin turun. . Tapi, Singapura juga sukses membuktikan kalau mereka bisa membuat horor, karena selama ini mereka terkenal dengan drama komedi ringan. Rencananya film ini akan dibuat sekuel, mari berharap akan lebih baik dan menyeramkan dari yang sekarang.

The Dark Twist Of Snow White. Review of “Snow White And The Huntsman”

Once upon a time, di tahun 1937 Walt Disney merilis animasi panjang pertama yang berdasarkan dongeng karangan Brothers Grimm, “Snow White and The Seven Dwarfs“. Film animasi itu sampai sekarang menjadi animasi klasik yang bagus sepanjang masa, bahkan sampai sekarang banyak yang mencari film ini untuk dikoleksi. Disney berhasil membuat dongen klasik menjadi mimpi anak-anak akan adanya kalimat ‘happily ever after…‘ sekaligus cikal bakal Disney’s Princess diikuti dengan animasi lainnya yang mengangkat tokoh princess seperti Cinderella, Sleeping Beauty, dan Ariel dari The Little Mermaid menjadi favorit anak kecil cewek. Identik dengan cerita anak-anak, rupanya sejak dirilis “Alice In Wonderland” karya sutradara Tim Burton dan “Red Riding Hood” karya sutradara Catherine Hardwicke, dongeng klasik yang menjadi mimpi anak kecil ‘dirombak’ ceritanya menjadi lebih dewasa dan dark. Even kedua film yang sudah disebutkan nggak banyak mendapat respon positif, tetap saja produser Hollywood masih ingin merombak dongeng lainnya untuk dibuat menjadi lebih dewasa. Snow White memang dongeng yang paling terkenal, bahkan sudah 2 film yang dirilis di tahun ini menceritakan tentang Snow White. Pertama “Mirror, Mirror” karya sutradara Tarsem Singh yang dibuat komedi namun sedikit konyol, dan sekarang “Snow White and The Huntsman” karya sutradara debutan Rupert Sanders dengan casts hebat seperti Charlize Theron, Kristen Stewart, Chris Hemsworth, dan Sam Claflin. Tentunya melihat promosi film ini dari poster sampai trailer, jelas versi Saunders ini lebih gelap dan dewasa daripada versi Tarsem Singh.

Dikisahkan, Ravenna (Charlize Theron), Ratu baru di sebuah kerajaan antah berantah yang jahat, mengurung anak tirinya Snow White (Kristen Stewart) di penjara istana. Sang ratu bertanya kepada cermin ajaibnya siapa yang paling cantik di negerinya. Sang cermin mengatakan bahwa Snow White lah yang paling cantik, untuk membuat Sang Ratu menjadi yang paling cantik, Sang Ratu harus membunuh Snow White dan memakan jantungnya untuk tyetap cantik dan hidup abadi. Sebelum itu terjadi, Snow White berhasil melarikan diri sampai ke Dark Forest, Sang Ratu menyewa The Huntsman (Chris Hemsworth) untuk membunuh Snow White sekaligus membawa jantungnya. The Huntsman yang pada akhirnya justru nggak membunuh Snow White, berniat membantu Snow White untuk mengalahkan Sang Ratu dengan mengantarnya ke istana bangsawan yang ditinggali oleh Pangeran William (Sam Claflin) untuk membentuk pasukan, dan padahal sang pangeran mencari Snow White yang dikabarkan masih hidup. Di tengah perjalanan, Snow White bertemu dengan 8 kuracaci yang awalnya ingin merampok tapi begitu tahu Snow White adalah Putri Raja, 8 kurcaci itu ikut membantu Snow White dan The Huntsman untuk melawan Sang Ratu.

Okay, here’s the review. Dibandingkan dengan twist fairy tales yang sudah difilmkan, versi debutan Saunders ini jauh lebih bagus. Dengan root cerita dongeng asli karya Brothers Grimm (bukan fantasi animasi yang happily ever after versi Disney), nuansa kelam dan dark sangat terasa di versi terbaru Snow White ini. Cerita mengalir dengan enak , tapi di tengah-tengah sedikit terasa membosankan untuk penuturannya. Melihat makhluk-makhluk fantasinya di versi ini, mengingatkan Saya akan visualisasi Guillermo Del Toro di “Pan’s Labyrinth“, terutama makhluk Troll dan fairies yang ada di sini, mirip tetap khas Saunders masih jauh untuk menyamai Guillermo untuk makhluk fantasinya tapi masih bisa dinikmati pecinta film fantasi yang mungkin belum satupun menonton karya Guillermo. Charlize Theron menampilkan karakter Ravenna dengan sangat KEREN dan LUAR BIASA, ini karakter jahat yang berhasil diperankannya setelah diganjar Oscar lewat peran utama antagonis di film “Monster“, hanya saja porsi kemunculannya kurang banyak, but it’s okay ini fokusnya kepada karakter Snow White bukan Ratu Jahat-nya yang ditonjolkan. Sayangnya, Kristen Stewart kurang berhasil membawa karakter Snow White, Saya masih melihat karakter Bella Swann di sini, serasa melihat “Twilight Saga” versi medieval dark fairy tales sekaligus kurang perkasa karena dia juga memimpin perang melawan Sang Ratu, come on K-Stew, harusnya bisa lebih baik di peran selanjutnya…next time.

Overall, versi ini justru sangat mendekati cerita asli Brothers Grimm tentang Snow White. Walaupun ada beberapa kekurangan yang ada di film ini, masih recommended untuk ditonton dengan dimanjakan setting kelam, CGI yang rapi, dan one more thing…Charlize Theron yang dilumuri cairan susu kental di seluruh tubuhnya (itu sangat KEREN). And they’re happily ever after…………..eeerrrrrr………..aren’t they?