Beautiful Cinematography and Fun Story. Review of “The Hobbit: an Unexpected Journey”

20121227-152027.jpg

Cerita tentang dunia fantasi dan khayalan dengan makhluk-makhluk seperti peri, kurcaci, raksasa, dan penyihir sudah banyak di filmkan sejak lama. Nggak hanya cerita anak-anak saja yang menciptakan dunia fantasi, namun orang dewasa juga bisa menikmati cerita film bergenre fantasi dengan ceritanyang lebih gelap dan sedikit banyak adegan kekerasan. Thanks to J.R.R. Tolkien, yang membuat literatur trilogyThe Lord Of The Rings“. Dengan setting Middle Earth yang dihuni para makhluk fantasi seperti peri, penyihir, raksasa, orc, goblin, kurcaci, dan juga hobbit. Thanks also to Peter Jackson yang berhasil menghidupkan trilogy “The Lords Of The Rings” menjadi film yang sampai sekarang diminati pecinta film fantasi (khususnya semuanpecinta film) sekaligus mendekati penggambaran novel yang ditulis oleh Tolkien. Kesuksesan film ini mengganjar 11 piala Oscar untuk saga terakhir berjudul “The Return of The King” termasuk Best Picture di tahun 2004. Setelah itu, sutradara yang pernah menyutradarai film remake “King Kong” ini, berminat untuk kembali ke dunia Tolkien dengan mengadaptasi novel “The Hobbit” yang merupakan prequel cerita trilogyThe Lord Of The Rings” mengisahkan Bilbo Baggins yang menemukan the one ring pertama kali sebelum harus dihancurkan Frodo Baggins, dan ikut berpetualang bersama para kurcaci untuk merebut tanah mereka yang sudah hancur. Awalnya, proyek film ini akan digawangi oleh Guillermo Del Toro yang sukses dengan “Pan’s Labyrinth“, bahkan Del Toro sudah mempunyai vision sendiri dengan dunia Tolkien. Setelah sekian lama, dan proyek hampir terbengkalai Del Toro mundur dan Peter Jackson lah yang turun tangan untuk menggarap film yang akan menjadi trilogy ini.

20121227-152418.jpg

Seperti yang diceritakan di atas, kisah film ini berfokus pada Bilbo Baggins (Martin Freeman), seorang hobbit yang menikmati hidup tenangnya di Shire, Middle Earth. Suatu hari, dia kedatangan Gandalf the Grey (Ian McKellen), penyihir yang mengajakanya berpetualang. Awalnya Bilbo nggak menghiraukan ajakan Gandalf malah justru mengabaikannya, dan terjadilah hal yang di luar dugaannya. Sekelompok kurcaci yang dipimpin oleh Thorin Oakenshield (Richard Armitage) datang ke rumah Bilbo, kedatangan mereka membuat Bilbo nggak nyaman karena persediaan makanan Bilbo habis dimakan mereka. Setelah menjelaskan petualangan mereka yang ingin merebut tanah para kurcaci yang hilang, Erebor, Bilbo masih enggan berpetualang malah diakaui sebagai master pencuri oleh Gandalf untuk membantu para kurcaci. Namun, Bilbo justru merubah niatnya untuk ikut berpetualang bersama mereka. Dan perjalanan yang nggak terduga pun terjadi.

20121227-152652.jpg

Okay, here’s the review. Keputusan tepat untuk Peter Jackson kembali menyutradarai film ini, karena dialah yang memang mengerti dunia Middle Earth. Terbukti dengan sinematografi yang indah, lengkap dengan visual effects yang spektakular untuk memanjakan mata kamu dari awal hingga akhir film ini. Alur ceritanya sangat flowy dan nggak membosankan, sampai kita nggak terasa sudah 3 jam duduk di bioskop. Suatu terobosan baru yang dilakukan oleh Peter Jackson, karena dia mengambil gambar dengan 48 frame/second High Frame Rate (HFR) yang membuat tampilan gambar menjadi lebih tajam, kita akan disuguhkan gambar seperti kita menonton film blu-ray di HD TV 1080p dengan layar lebar. Kalau kamu penikmat visualisasi dalam menonton film, format 3D dengan HFR sangat direkomendasikan. Tapi, jika kamu yang belum terbiasa dengan format ini, pastinya akan terganggu karena gambar terlalu cepat dan membuat mata capek sekaligus pusing. Jangan sedih,masih ada format 2D dan IMAX 3D yang recommended, tinggal pilih sesuai dengan kenyamanan kamu untuk menonton film ini.

20121227-152758.jpg

Overall, apapun format film ini yang kamu pilih, kamu akan tetap dimanjakan oleh visual yang sempurna lewat film babak pertama dari film ini. Tentunya film ini nggak boleh kamu lewatkan begitu saja. Dan sangat nggak sabar untuk menanti lanjutannya “The Hobbit: The Desolation of Smaug” yang akan rilis tahun depan.

Advertisements

The Horror’s So Silent Literally. Review of “Silent Hill: Revelation”

SHRposter

Tahun 2006, film yang diangkat dari video game berjudul “Silent Hill” dirilis. Antusias pecinta video game survival horror produksi Konami ini sangat tinggi karena tampilan visual di video game “Silent Hill” sangat bagus dengan penampakan monster unik dan artsy, terutama suster pembunuh yang berjalan meliuk-liuk. Film yang dibesut Cristophe Gans ini sukses menampilkan visual yang keren seperti di video game-nya, sayangnya dari segi cerita jauh di atas ekspektasi. Survival horror yang dibentuk lewat film ini sama sekali kurang memberikan suspense untuk penontonnya. Setelah sekian lama dan dijanjikan akan dibuatkan sequel. 6 tahun berlalu akhirnya lahirlah sequel film ini “Silent Hill: Revelation” yang dirilis dengan format 3D. Katanya, akan lebih seram daripada film pertamanya.

Mengambil jalan cerita dari video gameSilent Hill 3”, Heather Mason (Adelaide Clemens) dengan nama asli Sharon DaSilva, harus hidup berpindah-pindah karena tuntutan pekerjaan dari ayahnya, Harry Mason (Sean Bean). Sebenarnya itu trik ayahnya, agar Sharon tidak ingat dan tidak kembali ke kota terkutuk Silent Hill. Suatu hari, ayahnya menghilang dan Heather teringat lagi dengan kota Silent Hill. Dia percaya kalau ayahnya terjebak di sana. Heather kemudian menemukan kenyataan yang menyeramkan, dan misteri dibalik pengungkapan reinkarnasinya.

Okay, here’s the review. Lebih bagus dari yang pertama? Completely not. Film ini memang menampilkan visual yang sama persis dengan game-nya, itu yang menjadi kelebihan film ini. Ya, itu saja kelebihannya. Cerita yang dibangun dari awal sampai akhir sama sekali membosankan cenderung banyak dialog yang dipaksakan. Horor nya juga tidak menampilkan greget yang membuat kita kebayang-bayang, hanya sekedar kaget-kagetan saja. Ending yang ditampilkan juga antiklimaks, dan semua hanya bilang “that’s it?”

Overall, walaupun didukung efek 3D yang bagus, tetap saja membuat film ini banyak kekurangan. Ini adalah salah satu film yang gagal mengadaptasi kesuksesan video game yang terkenal.