It’s Slasher, But No Built Some Tensions At All. Review Of “Paranormal Xperience (PX) 3D”

Spanyol sepertinya selalu punya ide cemerlang untuk membuat film yang berkualitas, mengingat kesuksesan “Rec” yang fenomenal tema horor dan thriller punya khas tersendiri dari produksi negara yang terkenal dengan telenovela-nya ini. Kali ini, tema slasher diangkat dengan dicampur bumbu horor lewat “Paranormal Xperience (PX)” dengan judul asli “Xperimenta El Miedo (XP)” dengan format 3D. Slasher 3D? PAstinya darah bermuncratan keluar layar…….harusnya.

Empat mahasiswa sedang melakukan tugas dari dosennya tentang fenomena paranormal, awalnya fenomena paranormal itu dianggap suatu omong kosong sama salah satu mahasiswa itu. Sampai akhirnya, untuk memperbaiki nilai mereka, empat mahasiswa ini pergi ke sebuah kota tua yang pernah terjadi pembantaian oleh dokter gila. Dipercaya, konon hantu dokter gila itu masih berkeliaran di kota tua itu. Dibantu oleh adik salah satu mahasiswa itu menaiki sebuah van, mereka mengunjungi kota tua itu. Sampai di sana terjadilah suatu kejadian yang membuat satu persatu dari mereka harus kehilangan nyawa.

Okay, here’s the review. Menggunakan kata ‘paranormal’ sebagai judul yang ada di pikiran kita pastinya adalah penampakan hantu di dalam adegan film. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, film ini lebih ke slasher dengan memasukkan unsur horor. Pertama, mari kita lihat ceritanya, cerita sebenarnya sudah bagus dengan premise penyelidikan paranormal. Tapi, begitu melihat eksekusi ke dalam slasher-nya, film ini masih tanggung jika dibilang slasher. Pada intinya, slasher diciptakan untuk melihat adegan berdarah-darah. Hanya sedikit ketegangan sdari unsur slasher yang ditampilkan disini. Efek 3D juga nggak terlalu maksimal, walaupun sudah menciptakan gambar ‘timbul’ seolah kita bisa menyentuh gambar itu, tapi efek keluar layar cuma sedikit, bahkan ada adegan darah muncrat dan jari tangan lepas kelihatan sekali kalau itu efek komputer. Yang paling menarik di film ini, adalah setting kota tua yang sangat menyeramkan. Bayangkan saja kalau kita tinggal disana sendirian, pastinya nggak akan betah sendirian. Termasuk penambangan garam berbentuk goa yang menyeramkan sekaligus penacapan paku lobotomi di mata korban. Quiet good. Twist ending-nya pun nggak terlalu istimewa, bahkan sudah bisa ditebak di pertengahan film siapa dalang dibalik pembunuhan itu. Boring.

Overall, walaupun tanggung dinilai sebagai slasher, ada baiknya kalau ingin terhibur melihat pemandangan wajah indah dari aktor-aktris Spanyol bisa menonton film ini. Kalaupun nantinya akan ada sequel, sepertinya harus bisa lebih berani dari yang ini. Sayang banget, padahal masih bisa lebih maksimal untuk ukuran slasher dengan premise cerita yang lumayan menjanjikan.

A Beautifully-Great Finale of The Caped Crusader. Review of “The Dark Knight Rises”

Mari kita sedikit kembali ke film “Batman Begins” (2005), Christopher Nolan dinilai berhasil menceritakan kembali superhero rekaan Bob Kane dibawah rilisan DC Comics dengan cerita yang lebih dark mendekati realita di kehidupan manusia sehari-hari. Film ini menceritakan ‘ketakutan’ yang dialami seorang manusia yang kemudian bisa menghilangkan ketakutan itu dengan cara yang mungkin kebanyakan orang bisa depresi kalau melakukan hal itu. Kemudian, sukses di film pertama, dilanjut dengan sequel berjudul “The Dark Knight” (2008), dimana film ini lebih menunjukkan ‘crime drama‘ yang mencekam sekaligus kelam yang menunjukkan kebusukkan beberapa penghuni kota Gotham yang korup. Sequel itu lengkap juga dengan kisah tragis Heath Ledger, pemeran The Joker yang gila dan sangat brutal untuk melakukan kejahatan untuk kesenangan, meninggal karena diduga overdosis. Karakternya memang gila, jauh lebih gila dibandingkan versi Jack Nicholson di film “Batman” (1989) arahan Tim Burton. Mendiang Heath diganjar nominasi Oscar dan kemudian menang sebagai Best Supporting Actor tahun 2009. Melihat kembali ke masa-masa kejayaan Batman, komiknya sukses, disusul dengan animated series-nya yang menjadi favorit anak-anak (termasuk Saya waktu masih SD), dan juga melahirkan versi Tim Burton di dwilogi filmnya yang noir dan gothic. Lalu , sengaja dibuat komikal ala era Adam West di tahun 1960-an lewat arahan Joel Schumacher di “Batman Forever” (1995) dan dirusak secara keseluruhan di flm “Batman & Robin” (1997). Batman sebenarnya adalah pahlawan super (walaupun kenyataannya kekuatannya dibantu oleh peralatan canggih yang dimilikinya), yang sangat mencintai kotanya, Gotham, dibanding kecintaannya dengan banyak pasangan yang pernah dikencaninya. That’s why, dia sering juga disebut The Dark Knight, Caped Crusader, atau mungkin psikopat yang nggak suka dengan korupsi dan kejahatan di kotanya, you decide. Dibalik semua itu, Saya setuju kalau versi Christopher Nolan tentang Batman di trilogy filmnya ini, hampir mendekati yang ada di komik. Visualisasi dan visioner dari Nolan khas-nya, bisa menyatau secara utuh. Pastinya, selalu ada kubu fans komik Batman dan juga fans Christopher Nolan, but I’m talking about his movie now. Jadi kalian mau ada di kubu mana, pilihlah sesuai dengan keyakinan kalian sendiri, for me I choose abstain.

Bercerita 8 tahun setelah kejadian di film “The Dark Knight“, Harvey Dent setelah kematiannya dipandang sebagai pahlawan kota Gotham dan menyalahkan Batman atas kematian Harvey lalu dianggap sebagai penjahat yang harus ditakuti. Padahal, Harvey Dent menjadi jahat dan hampir membunuh anak dari Komisaris Gordon (Gary Oldman). Di sisi lain, Bane (Tom Hardy) membuat keonaran dengan menyerang kota Gotham tanpa ampun atas dasar kebebasan untuk mengontrol Gotham atas nama masyarakat Gotham, dan berencana menyingkirkan orang-orang kaya yang dianggap koruptor. Bruce Wayne (Christian Bale), yang 8 tahun setelah kematian Rachel Dawes, harus pensiun secara paksa karena menganggap masyarakat Gotham nggak memerlukan jasa Batman lagi. Sampai seorang polisi yang mengetahui identitasnya, John Blake (Joseph Gordon-Levitt), menasihatinya untuk kembali beraksi dengan cara memperhatikan sekelilingnya melalui hal-hal kecil. Belum kelar masalah Bane, Bruce diganggu dengan Selina Kyle a.k.a Catwoman (Anne Hathaway), cewek lihai pencuri kelas atas yang punya agenda tersendiri, Selina sendiri masih abu-abu antara melakukan hal yang benar dan melakukan hal yang terpaksa. Batman harus kembali beraksi untuk membereskan kekacauan di kota Gotham, dan dibalik semua kekacauan itu ada agenda lain yang mengancam semua 12 juta penduduk kota Gotham.

Okay, here’s the review. Saya menonton film ini 3 kali di minggu yang sama. Pertama, Saya sedikit ter-distract dengan hal-hal kecil di sekeliling Saya sampai Saya kurang memperhatikan cerita filmnya. Kedua, Saya penasaran untuk memperhatikan karakter Bane kenapa bisa melakukan hal-hal keji itu. Ketiga, Saya akhirnya bisa nonton di IMAX. Harus Saya akui, Nolan did a great job on this Batman finale, dan kesintingannya lebih WAH lewat film ini. Cerita mengalir dengan lembut, pelan tapi JEDAANNNNGGGGG sampai akhir film, Duo bersaudara Nolan (Christopher dan Jonathan) dan David S. Goyer harus diacungi jempol untuk membuat cerita dan skenarionya, karena dialog cerdas dan bikin dahi berkerut berhasil dibawa dengan bagus di sini. Sinematografi yang memukau, kita akan disuguhi panorama yang spektakuler, Saya berani bilang kalau film ini sangat indah untuk ukuran sinematografi dengan minus CGI yang HARUS kalian tonton di IMAX untuk experience menonton yang WAH. Lalu adegan aksi yang dari awal sudah mencekam berhasil membuat kita semua nggak akan meninggalkan bioskop walaupun lagi menahan pipis. Ditambah dengan alunan music score film dari Hans Zimmer yang menambah ketegangan adegan demi adegan terutama di adegan fighting sequence. Saya salut dengan Anne Hathaway yang berhasil memainkan Selina Kyle a.k.a Catwoman dengan bagus, di sini dia cantik tapi manipulatif dan sesuai dengan penggambaran karakternya di komik Batman walaupun minus cambuk yang jadi ciri khas Catwoman dan kurang menggoda seperti yang ada di “Batman Returns” (1992) dibawakan oleh Michelle Pfeiffer. Tom Hardy juga berhasil membawa Bane menjadi ‘normal’ nggak seperti Bane yang ada di “Batman & Robin“, Bane versi komik memang jahat, nggak kenal ampun, dan dingin.  Bahkan, hampir saja kita nggak akan mengenali Tom Hardy lewat peran ini. Banyak elemen komik Batman yang sebenarnya lewat film ini, walaupun Saya sebenarnya nggak mengikuti komik Batman, kalau ingin riset dari komik mana saja sebagai referensi film ini, just googling. Banyak kejutan yang disajikan yang selalu dibilang twist menjelang akhir film, but I will never write which part of it, Saya nggak ingin menulis spoiler siapa karakter yang sebenarnya dalang di balik semua kekacauan, dan karakter misterius yang ada di film ini. Satu lagi, montage demi montage yang ada di film ini clearly make us understand, asal usul di setiap kejadian yang ada di sepanjang film dan juga masing-masing karakter.

Overall, this is a ‘war drama’ with full of action sequences which Nolan did the right thing for end the saga of the caped crusader. Walaupun pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan setelah melihat ending-nya, bagaimana nasib Batman, bagaimana nasib karakter misterius itu, dan apakah masih akan ada sequel atau nggak? Kalau Saya boleh menyimpulkan, ending ini mungkin bisa terbuka oleh siapa saja, I mean other directors who want to continue this saga. Saya berpendapat, ada potensi sequel yang besar di sini dengan cerita yang lebih kelam lagi, atau mungkin reboot dengan menyurutkan elemen asal mula Batman sekaligus menghadirkan musuh yang lebih GILA lagi. Apapun pendapat kalian, Saya tetap berpendapat, Christopher Nolan sangat total dalam memvisualisasikan ke-SINTING-annya lewat film ini. You did a great job Nolan!!!

A One Girl Thriller Show. Review “Silent House”

Tahun 2010, perfilman horror – thriller disuguhkan teknik handheld camera one – take shot lewat film “The Silent House (La Casa Muda)” asal Uruguay dengan sutradara Gustavo Hernandez. Film ini sukses dipuji para kritikus film, dan hak edarnya di Amerika dibeli IFC Films. Selain terinspirasi dari kejadian nyata yang pernah terjadi di tahun 1940-an, yang menarik dari film ini adalah teknik pengambilan gambar yang sudah disebutkan di atas. Kita seolah-olah menjadi saksi atas kejadian horor yang mencekam, sekaligus bisa membuat kalian merasakan apa yang dirasakan sang tokoh utama ketika mengalami kengerian luar biasa di sebuah rumah. Sekarang, sudah ada versi remake Hollywood yang digarap oleh pasangan suami istri Chris Kentis dan Laura Lau, dengan teknik yang sama siap membuat kengerian selama 88 menit itu terulang kembali di layar lebar.

Sarah (Elizabeth Olsen), sedang membantu ayahnya John (Adam Trese) dan pamannya Peter (Eric Sheffer Stevens), merenovasi rumah keluarganya yang sudah lama nggak dihuni karena akan dijual. Pemandangan danau yang indah di rumah itu membuatnya sedikit tenang pikirannya. Awalnya, memang kegiatan renovasi nggak ada masalah apapun, sapai akhirnya Sarah mendengar suara-suara aneh di lantai atas. Sarah kemudian dihantui oleh gangguan supranatural yang ada di rumah itu, dari pintu tertutup sendiri sampai ayahnya yang terluka cukup parah di bagian kepalanya karena ulah hantu…atau mungkin penyusup. Dia akhirnya menguak misteri di seluruh sudut rumah itu, yang berujung pada kenyataan di luar dugaannya.

Okay, here’s the review. Saya belum pernah menonton versi aslinya, tapi melihat versi Hollywood ini membuat Saya berhasil ketakutan sepanjang film diputar. Kentis dan Lau berhasil membuat atmosfer ruang sempit sebuah rumah (di setiap sudutnya) menjadi tempat horor yang sempurna. Mungkin sudah banyak tema rumah berhantu yang difilmkan, namun film ini adalah salah satu yang terbaik dari tema itu. Penataan lighting sepanjang film ini pas sekali dengan suasana ceritanya, apalagi untuk smua adegan sehari yang ada di sebuah rumah. Awalnya memang kita akan langsung menebak kalau ini film horor karena adanya kejadian supranatural, sekaligus penampakan hantu yang membuat takut, begitu kalian mengikuti sampai akhir seiring berjalannya cerita, film ini lebih tepat disebut film thriller. Teknik real time handheld camera and one-take shot sukses dibuat duo sutradara suami istri ini, seolah-olah kita dibuat percaya kalau pengambilan gambar hanya dilakukan secara sehari, editing yang sempurna untuk film ini. Sayangnya, walaupun mempunyai twist yang bagus, ending film ini kurang membuat mindfuck. Padahal dari awal sampai menjelang conclusion, sudah membuat penonton ketakutan apalagi yang punya claustrophobic. Elizabeth Olsen sekali lagi berhasil menampilkan akting yang sempurna setelah bermain di “Martha Marcy May Marlene” (2011), ekspresi ketakutannya juara sekali lewat film ini. Sepertinya dua kakak kembarnya, Mary-Kate & Ashley, harus belajar akting lebih dalam sama sang adik ini. Two thumbs up, girl.

Overall, sebuah thriller tentang pencarian jawaban misterius dengan one girl show yang menarik dan menghibur untuk pecinta film thriller. Rasakan ketakutan dalam sehari sepanjang 88 menit dalam ruang sempit di sebuah rumah, sebaiknya jangan dilewatkan film satu ini. (spoiler alert) By the way, kalau yang sudah menonton “Modus Anomali” karya Joko Anwar, silakan ber-dejavu mennton film ini.

The Failed Drama-Horror. Review of “I Miss U”

Film horor asal Thailand selalu punya twist dan kejutan yang seru untuk diikuti. Penampakan hantunya pun juga nggak main-main, dengan special effect make-up yang nggak terlalu menor, dijamin bisa membuat kamu mimpi buruk karena kebayang wajah hantunya. Horor Thailand, juga membuat kita diserang secara psikologis karena disamping menakut-nakuti, ada nilai moral tertentu yang terkandung di setiap ceritanya. Kali ini, horor Thailand memadukan drama lewat karya terbaru Monthon Arayangkoon berjudul “I Miss U“, yang katanya lagi jadi bahan pembicaraan di negeri asalnya. Beruntung sekali bisa masuk di Indonesia dan main di jaringan bioskop Blitz Megaplex.

Film ini bercerita tentang Bee (Apinya Sakuljaroensuk), seorang dokter cewek muda yang baru magang di sebuah rumah sakit di Bangkok. Dia mengagumi kepiawaian dokter bedah senior di rumah sakit itu, Dr. Tana (Jesdaporn Pholdee), dalam melakukan operasi di saat pasien sedang kritis. Bee diam-diam menyukai Dr. Tana, tapi dia diperingati oleh salah satu suster di rumah sakit itu, siapapun yang mencoba mendekati Dr. Tana akan didatangi hantu cewek. Ternyata, Dr. Tana dulu pernah bertunangan dengan Dr. Nok (Natthaweeranuch Thongmee). Menjelang pernikahannya, kecelakaan maut terjadi dan merenggut nyawa Dr. Nok. Bee kemudian percaya kalau hantu cewek itu adalah Dr. Nok yang nggak rela melihat Dr. Tana menaruh hati pada cewek lain. Benarkah itu? Lama-kelamaan, suatu rahasia dibalik penampakan hantu Dr. Nok pun terkuak.

Okay, here’s the review. Dibuka dengan kejadian kecelakaan maut dan mawar putih yang selalu ada di lokasi kecelakaan itu, membuat Saya yakin ini 100% horor dengan dibalut sedikit drama. Begitu melihat keseluruhan,keyakinan Saya hilang semenjak ada di tengah-tengah cerita. Saya mengalami kebosanan tingkat dewa waktu menonton film ini, dan semoga buat para pecinta horor Thailand juga sependapat dengan Saya waktu menonton film ini. Terlalu banyak adegan PeDeKaTe antara Bee dan Dr. Tana, lalu penampakan hantu yang nggak menakutkan sama sekali walaupun tensi ketegangan sengaja dibuat untuk menambah ketakutan penonton. Skenario yang bisa dibilang mirip sinetron juga menambah kekacauan di film ini. Yang paling mengganggu, theme song film ini yang terus diputar menjelang akhir film untuk menandakan lagu favorit sang hantu. Sayang sekali, premise yang berbeda karena memadukan drama ke horor, menjadi film ini lebih tepat dibilang film drama yang dibalut horor. Yang terselamatkan dari film ini adalah chemistry setiap pemain yang ada disini. Apinya dan Jesdaporn, menunjukkan kualitas akting yang bagus, yang satu berhasil dalam peran cowok galau dan yang satu lagi bertahan dari serangan hantu.

Overall, sama saja seperti menonton “The Witness” (2012) film ini bisa membuat kalian menguap sepanjang film. Jangan terlalu ber-ekspektasi lebih dari film ini. Entah kenapa, akhir-akhir ini film horor Thailand mengalami penurunan sejak di rilisnya “Dark Flight” (2012). Tapi, jangan sedih dulu siapa tahu film terbaru omnibus horor “Heaven and Hell” yang siap rilis tahun ini akan menawarkan sesuatu yang lebih segar dari khas horor Thailand yang sudah jadi template. Think again, if you decide to watch “I Miss U” on cinema.

 

Typical Ghost’s Revenge Movie. Review of “Don’t Click”

Tema video menakutkan yang pada akhirnya menghantui kehidupan orang-orang yang menontonnya pernah kita lihat dalam film “Ringu” (1998), dengan berdasarkan dari cerita novel, film ini sukses menakut-nakuti penonton dengan ikon hantu Sadako. Lalu, seiring berjalannya teknologi, tema video hantu sudah canggih karena bisa di akses lewat You Tube, atau internet yang berisikan disturbing pictures seperti di film “Pulse” (2001) dan “FeardotCom” (2002). Kali ini, tema serupa yang menggabungkan teknologi video dan internet diangkat lagi oleh sineas asal Korea, Tae-Kyeong Kim, dalam film terbarunya “Don’t Click“.

Jeong Mi (Byeol Kang), merasa bangga video belly dance nya banyak viewers dan membuat dia menjadikan itu sebagai mata pencaharian sampingannya disamping menjadi siswi SMA. Sedangkan kakaknya, Se-Hee (Bo-Hyeong Park), harus berusaha menghidupi dia dan adiknya yang sering bermasalah itu dengan bekerja sebagai pramuniaga foto. Jeong-Mi mendengar desas desus tentang video seram yang kalau ada yang menonton sampai akhir, orang yang menontonnya akan mati. Jeong-Mi meminta Joon-Hyeok (Won Joo), pacar kakaknya yang bekerja sebagai IT freelance di kepolisian untuk mengambil video kasus yang sudah di close. Awalnya, video itu menjadi kesenangan saja pada waktu menontonnya, tapi berubah menjadi mimpi buruk menimpa Jeong-Mi sekaligus kakaknya dan teman-teman dekatnya.

Okay, here’s the review. Dibuka dengan perekam CCTV yang sedikit creepy karena merekam kegiatan sehari-hari manusia, bayangkan saja kalau kalian yang di intai pasti ketakutan. Dilanjut dengan kaget-kagetan dengan musik jrang-jreng, sukses membuat penonton bisa jantungan walaupun bukan penampakan hantu. tampilan video horor yang menjadi awal kengerian berhasil divisualisasikan dengan baik, kita bisa dibuat merinding jika video itu beneran ada di kehidupan kita. Sayang, awal sampai pertengahan film sudah mulai menegangkan, tapi menjelang pertengahan cerita jadi menimbulkan banyak pertanyaan sekaligus membuat tensi kengerian menjadi turun. Sebenarnya, ini memang cerita tentang hantu balas dendam dengan format video, tapi nggak terlalu diceritakan lebih dalam asal usulnya hanya dengan video saja. Untuk pemeran Jeong Mi, sepertinya terlalu tua untuk peran anak SMA, seharusnya ditukar pemeran kakaknya, Se-Hee. Ini memang film horor, tapi yang membuat nggak konsisten menjadikan film ini berubah menjadi slasher yang nggak jelas. Seharusnya, ide yang sudah tercetus dengan baik, bisa konsisten dengan pakem horor yang ada. Too bad.

Overall, walaupun bisa bikin kaget dan sedikit menegangkan, film horor ini sangat tanggung. Tanggung dalam segi horor, tanggung juga dalam segi slasher. Yang jadi kelebihan justru format perekam seperti handphone dan CCTV yang ditampilkan di film ini untuk membuat kita hati-hati dengan alat perekam itu. Dan juga visualisasi video-video seram yang bisa membuat kita merinding. Jangan beranjak dulu dari tempat duduk kalian, karena ada adegan tambahan pada waktu penampilan credit title, walaupun nggak terlalu mengerikan, at least nggak membuat penasaran. Another sequel maybe? Hope the sequel will better than this. Film ini hanyalah satu dari banyak tipikal film hantu balas dendam yang kurang jelas asal usul nya.

The Amazing Story and Action. Review of “The Amazing Spider-Man”

Tahun 2007, masih ingat di ingatan kita seri terakhir dari trilogi “Spider-Man” karya sutradara Sam Raimi yang suskses besar untuk worldwide. Sam Raimi dan Sony Pictures rencananya akan melanjutkan “Spider-Man 4” dengan musuh The Lizard, tapi sayangnya rencana itu gagal karena nggak ada kata sepakat dari Sam Raimi dan Sony Pictures. Pihak Sony Pictures akhirnya memutuskan me-reboot cerita Spider-Man untuk jadwal rilis tahun 2012. Setelah menemukan sutradara yang pas, Marc Webb ((500) Days Of Summer), dan diumumkan Andrew Garfield sebagai the new Peter Parker a.k.a Spider-Man, lahirlah film terbaru dengan cerita baru, “The Amazing Spider-Man“. Hollywood sedang asyik dengan trend re-boot tau remake, sebenarnya untuk ukuran re-boot film ini terlalu cepat untuk dibuat filmnya. Kalau dibandingkan dengan Batman-nya Christopher Nolan, butuh waktu lebih dari satu dekade untuk re-boot kembali dari jarak waktu “Batman & Robin” (1997) versi Joel Schumacher. Untungnya, film yang memang salah satu jagoan summer movies ini, sudah dinantikan para penikmat film aksi superhero dan tentunya para penggemar komik Spider-Man keluaran Marvel.

Peter Parker (Andrew Garfield), cowok yang kurang populer di sekolahnya dan tertarik pada dunia science. Di sekolahnya dia sering di bully oleh teman-temannya, tapi perhatiannya nggak lepas dari cewek yang dia suka, Gwen Stacy (Emma Stone). Peter tinggal bersama Paman Ben (Martin Sheen) dan Bibi May (Sally Field) sejak masih kecil. Peter yang sudah beranjak remaja, menemukan fakta tersembunyi dibalik kematian kedua orang tuanya dari koper tua milik ayahnya. Dengan rasa ingin tahunya yang tinggi, Peter berhasil masuk ke OSCORP untuk bertemu dengan Dr. Curt Connors (Ryhs Ifans) yang juga menjadi partner ayahnya dulu. Berkat keisengannya sampai masuk ke laboratorium perkembang biakan laba-laba, Peter tergigit laba-laba itu dan tiba-tiba mempunyai kekuatan super layaknya gerakan insting laba-laba.Peter sempat terlena dengan rasa penasaran akan kekuatannya, sampai harus melupakan tanggung jawabnya di rumah yang mengharuskan bertengkar dengan Paman Ben. Peter yang sedang kalut melihat sendiri pamannya mati tertembak perampok, dan membuatnya menjadi sosok Spider-Man. Di sisi lain, Dr. Curt Connors masih mencoba menyelesaikan formula khusus untuk menyembuhkan tangannya yang cacat. Pada saat yang bersamaan, Peter yang pada dasarnya suka science membantunya untuk menyelesaikan formula itu. Formulanya berhasil, tapi justru merubah Dr. Curt Connors menjadi The Lizard yang menjadi teror untuk semua orang di New York. Perang kebaikan melawan kejahatan dimulai antara Spider-Man melawan The Lizard.

Okay, here’s the review. Awalnya, Saya agak skeptis dengan versi baru Spider-Man ini. Pertama, Marc Webb baru menyutradarai satu film dan itu drama, lalu karakter nerd yang melekat dengan Peter Parker dihilangkan. Begitu melihat film dari awal sampai akhir, ke-skeptis-an Saya langsung hilang. Marc Webb berhasil membawa cerita Spider-Man baru ini jauh lebih menarik daripada versi Sam Raimi (no offense). Karakter Peter Parker berhasil dibawakan persis seperti komiknya walaupun menghilangkan sisi nerd-nya. Chemistry antara trio Andrew – Emma – Rhys berhasil dibawakan dengan baik, sehingga intrik yang dihasilkan masing-masing karakter menjadi seru untuk membuat kita nggak beranjak dari kursi. Mengusung “The Untold Story” sebagai tagline, sepertinya kurang tepat, karena banyak pertanyaan yang ada di otak kita salah satunya: apa sebab kematian orang tua Peter Parker yang sebenarnya? Untuk efek 3D, nggak usah mikir dua kali untuk menonton versi ini, efek 3D nya bagus sekali. Tapi, untuk yang ingin menonton di versi IMAX 3D, sepertinya nggak perlu untuk merogoh uang lebih karena adegan aksi yang menegangkan dengan efek 3D yang wah hanya ada di pertengahan menuju ke akhir saja. Sepertinya menonton 3D digital atau Real D sudah cukup.

Overall, film ini punya amazing story yang bagus. Marc Webb berhasil membuat cerita yang solid walaupun agak bertele-tele di depan. Banyak quotes di film ini dan pesan yang bagus di film ini yang bisa kalian ambil, nggak sedikit orang yang menangis sehabis menonton film ini.  Efek CGI yang memukau juga menjadi nilai plus di film ini, dan memang penggunaan CGI nya nggak terlalu banyak yang membuat menarik.Jangan beranjak dulu setelah film ini selesai, karena ada adegan tambahan walaupun tetap menimbulkan pertanyaan di otak kita. Great job Marc.

Kung-fu Meets Western In “The Man With The Iron Fists”

Kalau sebuah film yang di posternya tertulis “Quentin Tarantino Presents” pastinya langsung berpikir kalau film itu akan brutal, sadis, dan juga action sequences penuh dengan darah berceceran. Apalagi ditambah kolaborasi penulis skenario dari RZA dan Eli Roth, pastinya membuat film ini sangat menjanjikan untuk genre fantasy-action. RZA sebelumnya terkenal sebagai composer untuk motion pictures, salah satunya adalah film “8 Mile“. Film ini adalah debutnya menjadi sutradara, penulis cerita dan skenario. Kolaborasi trio Tarantino, RZA, dan Eli Roth pastinya ditunggu untuk para fans genre action.

Cerita film ini ber-setting di zaman feodal Cina, dimana seorang pandai besi di sebuah desa kecil,  membuat senjata untuk rakyat di desanya. Dia harus menaruh posisi untuk membela rakyat desa dan juga membela dirinya. Premise yang masih ‘ngambang’ untuk sebuah film action, tapi begitu melihat trailer-nya, banyak adegan action sekaligus fantasy yang memukau. Sekilas, ini seperti “Kill Bill” versi oriental dengan dicampur kung-fu. Well, tapi kita jangan sampai melewatkan film ini, terutama pas di adegan mata keluar. NICE!!! Semoga saja hasil keseluruhan filmnya sesuai dengan harapan kita.