It’s Scary. Period. Review of “The Conjuring”

20130806-143953.jpg

Film bertema rumah berhantu? Sudah sering. Jumping scared-scene? Biasa terjadi. Tapi, ada cerita yang flowy untuk film horor? Itu baru keluar dari mainstream film horor. James Wan yang merupakan sutradara keturunan Malaysia-Australia ini berhasil membuat pecinta film horor mengalami mimpi buruk setelah menonton film karyanya. Contohnya waktu dia membesut “Saw” dengan twist di luar dugaan dengan darah dimana-mana membuat penonton bertepuk tangan meriah. Lalu “Insidious” yang sukses membuat kita bergidik merinding melihat penampakan hantu-hantu yang ingin merasuki tubuh manusia (lupakan hantu utama yang berwarna merah itu). Sebelum berlanjut di sequelInsidious” September nanti, James Wan menakut-nakuti kalian dengan film horor “The Conjuring” yang berdasarkan kisah nyata dari salah satu kasus paling menyeramkan dan belum pernah diceritakan sebelumnya dari pasangan penyidik paranormal terkenal di dunia, Ed dan Lorraine Warren, yang juga dialami oleh The Perron Family. Ditambah memasukkan kasus boneka setan Anabelle yang pernah terjadi di tahun 1968, sukses juga membuat kalian semua mimpi buruk.

20130806-144158.jpg

Ber-setting tahun 1970-an, keluarga Perron baru pindah ke rumah yang dibelinya dari lelang bank. Awalnya acara pindah rumah itu menyenangkan dan 5 anak mereka mencari kamar sendiri. Tiba-tiba saja ada hal ganjil yang menghantui mereka dan bersikap menyakiti. Terganggu dengan hal itu, keluarga Perron memanggil Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine (Vera Farmiga) untuk menyelidiki rumahnya beserta kejadian ganjil itu. Sampai mereka menemukan hal paling menyeramkan yang selama ini mereka hadapi.

20130806-144305.jpg

Okay, here’s the review. James Wan sekali lagi membuktikkan dia tidak main-main dalam membuat film horror. Minus efek CGI (kecuali bagian kerasukan dan penampakan bayangan), dan mengandalkan teknik pergerakan kamera yang membuat mata kita serasa ingin ditutup supaya tidak kaget. Cara dia menampilkan atmosfer horor sudah efektif, tidak melulu kaget dengan penampakan hantu lalu berlalu begitu saja, this film is your worst nightmare. Mungkin tampilan hantunya memang kurang menakutkan, tapi sebelum penampakan hantu itu dimulai kalian akan merasakan atmosfer creepy. Vera Farmiga, Lili Taylor, dan Joey King berperan sangat bagus di sini terutama adegan Joey King yang ketakutan setelah kakimya ditarik hantu, lalu Lili Taylor yang sangat total ketika adegan merasukan. Atmosfer yang seru, dan ini adalah salah satu karya terbaik James Wan.

20130806-144447.jpg

Overall, scary and so creepy. Selain bernuansa horor, film ini memang punya cerita yang flowy dan memang berdasarkan pengalaman penyidik paranormal itu dan keluarga Perron, that’s the truth. Silakan capek nonton film ini, dan disarankan berteriak di beberapa adegan tertentu. Dare to watch? I already watch twice.

A Drama Wolverine Story in Japan

20130725-212151.jpg

Hellooooo…I’m back!!!!
Long time nggak posting karena kesibukan tiada henti di penulisan. Well, kalau mau lihat review film yang lain yang Saya tulis, bisa langsung lho ke http://www.freemagz.com. Okay, let’s talkin’ about the new Wolverine movie.

Mungkin banyak yang ahirnya lega menuggu kemunculan karakter X-Men yang paling jadi favorit pecinta komik khususnya Marvel, Wolverine, di layar lebar sejak terakhir muncul di “k” (2009). Banyak yang beranggapan, film asal usul Wolverine itu kurang bagus, sementara nggak sedikit juga yang bilang kalau film solo pertamanya itu seru di action-nya. Well, pro dan kontra dalam menikmati sebuah film selalu ada. Pada akhirnya, Wolverine muncul kembali dengan judul “The Wolverine“, dan ber-setting di Jepang. Sutradara pun berganti dari Gavin Hood menjadi James Mangold yang sukses mengantarkan Reese Whiterspoon mendapat piala Oscar lewat film “Walk The Line” (2005). Pastinya ekspektasi semua penikmat film terutama pecinta komik Marvel akan tinggi, dan sang sutradara pun pernah berargumen kalau ini cerita yang berdiri sendiri. But not reboot, and a lil’ bit sequel.

20130725-212337.jpg

Film ini bercerita tentang kehidupan Logan/Wolverine (Hugh Jackman) setelah kejadian di “X-Men: The Last Stand” (2006) dan sedikit dari film pertama Wolverine. Logan dihantui oleh bayang-bayang Jean Grey (Famke Janssen) setelah membunuhnya karena membunuh banyak orang dan berubah menjadi Phoenix. Lalu, cerita berganti Logan diajak ke Jepang oleh Yukio (Rila Fukushima) mutant yang bisa meramal masa depan karena atasannya, Yashida (Hal Yamanouchi), sekarat dan ingin sekali bertemu dengan Logan karena ucapan terima kasihnya waktu menyelamatkannya di zaman perang ketika Nagasaki di bom atom. Banyak rahasia yang disimpan Yashida menjelang kematiannya yang membuat Logan harus tinggal di Jepang dan melindungi Mariko (Tao Okamoto), cucu Yashida yang terancam dibunuh oleh ayahnya sendiri, Shingen (Hiroyuki Sanada). Ancaman datang bertubi-tubi mulai dari Yakuza dan kemunculan mutant wanita jahat, Viper (Svetlana Khodchenkova) dan Silver Samurai yang sama kuatnya dengan Wolverine.

20130725-212517.jpg

Okay, here’s the review. Better than the first film? Absolutely not. Walaupun masih setia dengan salah satu penggambaran komik nya yang ber-setting Jepang, justru lebih mengutamakan sisi drama yang terlalu banyak dialog dan banyak adegan romance yang membosankan dan nggak penting. Ada satu adegan yang thrilling ketika battle di kereta api cepat, sisa action-nya menjelang akhir sedikit kurang maksimal untuk mendapatkan thrilling. Hugh Jackman masih punya pesona kuat sebagai Wolverine, lalu karakter Yukio yang dimainkan Rila Fukushima berhasil menjadi scene-stealer yang membuat kita kagum atas aksinya sebagai jagoan yang bisa memainkan pedang. About Jean Grey? Not really interesting cuma tempelan belaka. Bahkan karakter Viper kurang berbahaya dan kurang sadis disamping dia bisa berganti kulit layaknya ular dengan efek yang cukup bagus.

20130725-212604.jpg

Overall, jangan terlalu berharap lebih untuk banyak adegan ‘gedebak gedebuk’ beli large popcorn untuk menghilangkan bosan, plus 3D juga kurang begitu membantu. Yang menyelamatkan film ini cuma di post end credit scene yang epic, karena itu adalah clue dari film “X-Men: Days of Future Past” yang rilis tahun depan. So, jangan buru-buru untuk beranjak dari kursi bioskop.

Smart Slasher From Thailand. Review of “Countdown”

20130124-212928.jpg

Sub genre slasher di fantastic genre sepertinya masih menjadi favorit untuk para pecinta film. Terutama film Hollywood yang sudah banyak memproduksi film ber genre ini, sayangnya hanya sedikit buatan Hollywood yang berkualitas, hanya mengutamakan darah bermuncratan dan keseksian para pemainnya, sekaligus unsur sex explicit yang juga jadi nilai jualan utamanya dibanding ceritanya. Apa jadinya kalau Thailand membuat film slasher? Kita pasti sedikit skeptis dengan hasilnya, karena negri itu justru lebih kuat di genre horor. Dengan production house GTH yang sukses dengan film “4Bia” dan “Phobia 2”, mereka optimis dengan genre slasher baru berjudul “Countdown”. Karya debut sutradara Nattawut Poonpiriya ini diharapkan bisa membuat film slasher yang tidak hanya menonjolkan kesadisan tapi juga cerita yang bagus.

20130124-213116.jpg

Perayaan malam tahun baru selalu dinanti di setiap negara. Terutama di New York selalu ramai di Time Square untuk berkumpul bersama-sama. Tapi, tidak berlaku oleh 3 sahabat asal Thailand yang tinggal di sana. Mereka adalah Jack (Pachara Chirativat), Bee (Jarinporn Junkiet), dan Pam (Pataraya Krueasuwansiri). Mereka tinggal di satu apartemen dan ingin pergantian malam tahun baru 2013 tidak membosankan. Lalu Jack menemukan brosur pengedar ganja bernama Jesus yang bisa dipanggil ke rumah untuk private party. Ketika Jesus ke apartemen mereka, awalnya berjalan sangat fun sambil menunggu detik-detik pergantian tahun. Tapi, justru malam tahun baru itu berubah menjadi malam mimpi buruk mereka.

20130124-213225.jpg

Okay, here’s the review. Kamu berpikir film ini menjadi tipikal film slasher mainstream yang biasa dibikin Hollywood? At first mungkin kamu akan berpikir begitu, tapi kamu harus membuang pikiran itu. Film ini adalah film slasher yang bagus dan mengutamakan cerita tanpa harus banyak darah bersimbah. Cerita yang mengalir dengan sangat rapi dengan akting para pemainnya yang chemistry-nya seimbang. Film ini juga bisa mempermainkan pikiran kamu ketika menontonnya, kamu akan berpikir apakah itu nyata atau bukan. Twist ending yang pintar sekaligus cerdas yang bisa bikin kamu tertipu tanapa menghilangkan esensi cerita sepanjang film. Sutradara debutan ini patut diberi applause meriah karena berhasil membuat film slasher yang sebenarnya.

20130124-213326.jpg

Overall, terganggu dengan banyaknya adegan banyak darah yang tidak logis? Sepertinya kamu harus menonton film ini. Walaupun tidak terlalu berdarah, siap-siap saja merasa miris dengan beberapa adegan sadisnya. Salah satu film fantastic genre yang recommended untuk ditonton di awal tahun ini.

This review also published in http://www.freemagz.com