More Action But Weak In Story – Review of Underworld: Awakening

Sukses dengan prequel film “Underworld: Rise Of The Lycans” (walaupun biasa-biasa saja), Saga Underworld kembali lagi ke layar lebar dengan kembalinya pendekar cewek vampir, Selene. Kali ini, film yang merupakan sequel langsung film kedua, “Underworld: Evolution“, sedang latah mengikuti tren 3D movie. Mengeruk keuntungan box office, bisa saja. Tapi kualitas bagus? I don’t think so.

Okay, Saya menonton film ini dalam format 3D, dan memang saya maniak dengan teknologi 3D Cinema apalagi kalau Real D, mari cerita jalan ceritanya dulu. Selene (Kate Beckinsale) terbangun dari tidur panjangnya selama 12 tahun, dia mencari kekasihnya, Michael Corvin, yang hilang. Lalu dia menemukan fakta bahwa adanya genosida (pembersihan) yang dilakukan manusia untuk bangsa Lycans dan Vampire. Perang dimulai antar vampir dengan manusia, dan fakta mengejutkan lagi ada satu makhluk Hybrid perpaduan Vampir dan Lycans yang lebih kuat dari kekasih Selene. Ternyata fakta demi fakta terkuak dibalik Genosida itu.

Dari segi action, Saya menilai film ini lebih dahsyat dari 3 film sebelumnya. Efek 3D nya juga tidak mengecewakan. Bayangkan saja darah serasa keluar layar. Apalagi melihat Kate Beckinsle beraksi seperti kalian ditendang oleh dia. Kelemahan film ini hanya di segi cerita saja, eksekusinya sedikit kurang kuat dan kurang ending yang menggigit. Bahkan, hampir tidak banyak diceritakan soal asal muasal makhluk Hybrid baru secara detail (even dijelaskan sedikit). Sedikit bosan dengan ceritanya? Buat penonton awam mungkin nggak bikin bosan, tapi yang mengikuti saga Underworld dari awal, so sorry to say film ini mengalami penurunan. Mungkin ini akan menjadi trilogy baru, but we’ll see, semoga ada peningkatan lagi di sequel selanjutnya…..kalau dibikin.

 

Review of “Journey 2: The Mysterious Island”

Action fantasy atau film anak-anak??? Sepertinya ini memang dikhususkan buat anak-anak tapi biar menarik orang dewasa, dipasang Dwaynne Johnson yang dulu dikenal dengan naman “The Rock” plus keseksian Vanessa Hudgens. Dan jangan lupa, fantastic creatures yang ada di film ini, yang sebenarnya….khayal.

Okay, cerita dimulai waktu Sean Anderson (Josh Hutcherson) yang bermasalah, menguak keberadaan Mysterious Island yang ada di buku Jules Verne. Hank (Dwaynne Johnson), ayah tiri Sean, awalnya nggak percaya dengan semua itu. Begitu dia membantu mencari kordinat pulau itu, Hank dan Sean memutuskan ke pulau misterius yang letaknya dekat Indonesia itu. Mereka berdua dibantu oleh Kailani (Vanessa Hudgens) dan ayahnya untuk pergi ke pulau itu. Berbagai rintangan yang dilalui, dan pada akhirnya mereka sampai di pulau misterius yang benar-benar ada. Misi Sean sebenarnya mencari kakeknya (Michael Caine) yang juga ada di pulau itu. Bersama-sama mereka mencari jalan keluar dari ulau itu yang ternyata dalam beberapa hari kemudian akan tenggelam.

Benang merah dari film pertamanya “Journey To The Center Of The Earth” cuma si Sean Anderson. Lainnya hanya cerita anak-anak yang dibalut dengan action yang mungkin orang dewasa juga menganggap membosankan (yup, it’s true). Kelebihan dari film ini adalah efek 3D yang berhasil membuat mata kita nggak berkedip sama sekali. Sepertinya, petualangan di buku Jules Verne jika dibuat sesuai dengan aslinya akan lebih menarik daripada harus menambahkan elemen di masa sekarang. Buat yang belum menonton, better watch in 3D or nggak usah nonton sama sekali.

Review Of “Chronicle”

Sepertinya Hollywood lagi ketagihan dengan format found-footage untuk membuat film. Apa sih found-footage itu? Format ini adalah orang yang sedang merekam , lalu hasil rekamannya entah itu dalam bentuk video DV atau CD diperlihatkan, seakan-akan adegan itu benar-benar terjadi.

Pasca “Cloverfield” dan “Paranormal Activity” yang sukses, sepertinya format found-footage akan menjadi mainstream paling keren yang akan terus dipakai Hollywood, asal jangan monoton saja hasilnya. Salah satunya yang nggak membosankan dalam format ini adalah film “Chronicle”, film persembahan 20th Century Fox terbaru dengan sutradara yang masih baru juga, Josh Trank. Awalnya Josh Trank dikenal karena menambah adegan tambahan untuk film ‘Paranormal Activity 2’, sekarang dia menunjukkan idealisnya.

Andrew Detmer (Dane Dehaan), cowok high school yang punya Ayah yang bermasalah karena ibunya sakit parah. Dia baru saja membeli kamera video baru yang dipakai untuk merekam kejadian sehari-hari. Satu-satunya teman yang dia punya adalah sepupunya sendiri. Matt Garetty (Alex Russell). Dalam sebuah pesta, Andrew diajak oleh Matt dan teman satu sekolahnya, Steve Montgomery (Michael B. Jordan) untuk menyelidiki lubang misterius yang ada di hutan belakan tempat pesta itu. Ketiganya memasuki lubang itu dan ternyata ada sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka. Keesokan harinya, ketiga teman ini mempunyai kekuatan telekinesis yang menggerakkan benda dengan pikiran. Eksperimen demi eksperimen mereka coba sampai bisa terbang dan mendokumentasikan kegiatan ‘superhero’ mereka. Mereka tidak tahu ada salah satu dari mereka yang menggunakan kekuatannya untuk dendam pribadi.

It’s a really dude movie, kita akan dilihatkan berbagai kenakalan cowok high school dengan kekuatan superhero mereka. Mulai dari yang usil, sampai membahayakan jiwa mereka. Walaupun di tengah cerita film terasa membosankan, keseluruhan film ini sangat berbeda dari film-film dengan found footage lainnya, karena sudut pandang kamera nggak hanya dari satu orang saja, tapi semuanya yang ada di film itu yang membawa kamera apapun mulai dari camcorder, smartphone, sampai kamera TV. Lupakan naskah yang biasa saja, nikmati saja ketegangan demi ketegangan di film ini.

This article also published in http://www.freemagz.com written by Diaksa, also the owner of MovTastic