Dinosaurs Alive in “Area 407”

Sudah lama nggak melihat makhluk pre-historis bernama Dinosaurus diangkat menjadi film setelah trilogi “Jurassic Park“. Kali ini Dinosaurus tampil kembali di big screen untuk meneror sekelompok orang yang terdampar di daerah kekuasaan mereka. Lewat duo sutradara Dale Fabrigar dan Everette Wallin, mereka membawa film tentang dinosaurus yang berbeda dan lebih menegangkan dengan format found footage. Lagi-lagi format ini menjadi pilihan favorit sineas supaya membawa atmosfer ketegangan sewaktu menontonnya.

Diceritakan terjadi kecelakaan pesawat 37A yang terjatuh di daerah milik pemerintah yang tidak boleh dimasuki orang lain. Sekelompok orang yang selamat berusaha untuk mencari tahu daerah itu dan mencari pertolongan. Awalnya nggak ada yang mencurigakan di daerah itu, sampai akhirnya mereka melihat ada telur yang berserakan di tanah. Setelah diselidiki ternyata di sana ada sekelompok dinosaurus yang siap memangsa mereka satu persatu. Kenapa makhluk pre-historis itu bisa ada di masa sekarang? dan daerah yang dinamakan Area 407 sebenarnya tempat apa?

Dale Fabrigar memang masih asing di telinga kita sebagai sutradara, tapi dia sering membuat film pendek. Sedangkan Everette Wallin dikenal sebagai aktor di serial “Deadwood” dan “Bones” (dia juga bermain di film ini). Mereka juga menulis cerita film “Area 407″ ini yang tadinya berjudul “Tape 407“. Film ini sebenarnya sudah siap dirilis tahun 2011, tapi hanya rilis di beberaa festival saja. Dengan review beragam, ada yang menila biasa saja dan ada yang menilai kalau film ini adalah salah satu best found footage movie ever made. dari trailer-nya saja kita sudah dibuat penasaran kenapa dinosaurus itu bisa ada di sana, sekaligus menjadi misteri ada apa dengan “Area 407″ itu. Semoga saja bisa masuk Indonesia supaya kita nggak akan dibuat penasaran. So, let’s enjoy the trailer below.

Vividsm Now and Then

Sebagian besar penikmat film pasti cuma mengetahui film yang ditontonnya itu adalah film yang mempunyai genre sendiri antara lain drama, komedi, action, horror, thriller, animation, sci-fi, fantasy, dan lainnya, dengan menilai kualitas film yang ditontonnya itu bagus atau nggak sesuai pandangan mereka sendiri. Sepertinya, Indonesia saat ini lebih sering memproduksi film horror yang (katanya) jadi genre favorit penonton Indonesia. Is it true? Ya, tapi kalau dibuat dengan baik dan benar. Perhatikan saja horror yang dibuat beberapa sineas kita yang selalu punya tokoh utama pocong dan kuntilanak tapi dengan kelakuan bukan layaknya hantu, justru terlihat konyol. Jangan lupakan juga parade cewek seksi hampir bugil atau bintang film porno internasional yang jadi ‘jualan’ film ini. Kita jadi kembali ke era 1990’s yang juga sering memproduksi film dengan genre yang sama dengan ini apalagi dipasang cewek seksi sebagai bintamg utamanya. Itulah yang disebut vividsm, film yang dibuat dengan low budget dan mengesampingkan kualitasnya.

History of Vividsm

Sebenarnya istilah Vividsm ini diberikan untuk user name account bernama vivid95 di forum Kaskus karena kecintaannya menonton film-film yang dibilang jelek secara kualitas, melihat komen dan semua postingannya di forum itu justru membuat kita akan tertawa. Film seperti itu sebenarnya sudah ada sejak dulu, ayo kita flashback ke tahun 1950-an, sineas Hollywood bernama Ed Wood melejit namanya menjadi bahan pembicaraan di kalangan pengamat dan pecinta film di Hollywood bahkan di seluruh dunia. Bahan pembicaraan yang membuat dia terkenal itu bukan karena hasil karya filmnya yang bagus menonton di bioskop dan nggak rela untuk kualitasnya, tapi dinilai buruk secara keseluruhan awal sampai akhir film. Ed Wood terkenal juga menambahkan stock scenes yang nggak ada hubungannya dengan inti filmnya sendiri seperti tentara sedang perang untuk pertanda pergantian scene. Dia juga dikenal sebagai pelopor Hybrid Genre, yaitu menggabungkan dua genre yang berbeda dalam satu film. Contohnya di film yang membuatnya bangga pernah membuatnya, “Plan 9 From Outer Space” (1958). Lewat film ini, Ed Wood menggabungkan genre sci-fi dan horror, bayangkan teknologi alien yang (mungkin) terlalu canggih bisa menghidupkan orang mati menjadi zombie, that’s weird. Ada juga dia menggabungkan horror dan eroticOrgy Of The Dead” (1965), walaupun bukan sutradara di film ini Ed Wood menulis skenario dan production manager. Walau bagaimanapun, Ed Wood sampai sekarang menjadi legend di dunia perfilman cult, banyak kolektor yang mencari film karyanya. Kalau kamu penasaran dengan kisah hidup Ed Wood,  bisa melihat film biopic arahan Tim Burton dengan bintang Johnny Depp sebagai sutradara, penulis, dan produser itu, “Ed Wood” (1994).

Vividsm Then in Indonesia

Film jenis ini dengan hybrid genre di Indonesia sudah kita lihat waktu era tahun 1990-an.  Salah satunya film “Bercinta Dengan Maut”(1992) arahan John Miller produksi Soraya Intercine Films dengan pemain dari Amerika Tanya Offer. Film ini menggabungkan genre horror mistik dengan erotis, yang pernah hidup di tahun 1990’s patinya kalau nonton di bioskop ada trailer film ini yang sangat mengumbar keseksian pemain utamanya dengan bagian dadanya yang menyala karena dia adalah iblis. Ceritanya tentang penyihir wanita yang bangkit kembali karena jari tangan seorang perampok yang terputus di pemakaman lalu masuk ke cermin kecil di pekuburan itu (entak kenapa cermin itu bisa ada di sana), lalu bangkitlah iblis wanita seksi yang meneror semua lelaki di Jakarta. Walaupun film ini dinilai jelek, film ini adalah film paling laris pada zamannya dan meraih lebih dari 250.000 penonton. Kemudian muncullah film-film sejenis lainnya seperti “Misteri Janda Kembang”, “Kembalinya Si Janda Kembang”, “Guna-Guna Istri Muda”, “Wanita Jelmaan”, “Perjanjian Malam Keramat”, “Gairah Malam”, dan lain sebagainya. Memang, yang nggak suka dengan genre ini pastinya akan malas untuk rela mengeluarkan uang untuk membeli tiket. Tapi jika dinilai dari flow cerita dari awal sampai akhir konsisten dengan plot yang disebar ke khalayak. Kita akan terganggu dengan adegan ‘panas’ sepanjang film ini, tapi nggak ada adegan lain yang nggak ada hubungannya dengan film itu, dan nggak ada stock scene sebagai jeda seperti yang dilakukan oleh Ed Wood. Bisa dibilang, sineas Indonesia pada zamannya nggak desperate seperti Ed Wood kalau budgetnya pas-pasan.

Vividsm Now in Indonesia

Menjelang akhir tahun 1990-an, film jenis ini sudah nggak ada lagi dan sineas Indonesia jadi mati suri untuk membuat film. Dominasi film Hollywood menguasai perbioskopan Indonesia, nggak ada satu pun film lokal yang tayang. Sampai akhirnya ada film omnibus “Kuldesak” (1999) yang disutradarai oleh 4 sutradara yaitu Nan Achnas, Riri Riza, Mira Lesmana, dan Rizal Mantovani. Sebuah black comedy tentang mimpi dan kesepian yang dialami 4 anak muda yang hidup di era 1990-an. Film yang punya cerita bagus dan berhasil berjaya di Singapore International Film Festival 1999 kategori Best Asian Feature Film. Setelah itu film Indonesia mulai berusaha bangkit seperti “Ada Apa Dengan Cinta?”, “Jelangkung”, “Daun Di Atas Bantal”, dan lain sebagainya. Nah, mulai ke pertengahan menjelang akhir tahun 2000-an, vividsm kembali merajai perbioskopan Indonesia yang sekali lagi melakukan hybrid genre. Menurut produser yang memproduksi film-film itu, market penontonnya punya animo yang luar biasa untuk menonton film itu. Which market? Itu yang selalu menjadi pertanyaan kita semua. Apa semua penonton di Indonesia suka dengan film-film ini? Sedikit survey, kebanyakan penonton film-film jenis ini adalah bocah SMP dan siswa SMA pria antara umur 13 – 16 tahun, dan tampaknya mereka menonton demi melihat idola mereka hampir telanjang. Hampir nggak ada perbedaan dengan jenis film ini dengan yang dulu, bedanya semakin ‘kesini’ semakin asal di dalam penceritaan , eksekusinya lemah dan ada adegan yang nggak berhubungan dalam inti film ini, kebanyakan ending-nya pun nggak menandakan conclusion yang jelas. Film-film vividism yang paling dikenal jadi bahan cibiran adalah “Darah Janda Kolong Wewe Nafsu Pocong”, “Genderuwo”, “Rumah Pondok Indah”, “Rintihan Kuntilanak Perawan”, “Skandal Cinta Babi Ngepet”,”Cinn…Tentangga Gue Kuntilanak”, “Pocong Mandi Goyang Pinggul” dan “Dendam Pocong Mupeng”. Yang paling baru saat ini adalah “Nenek Gayung”, “Kungfu Pocong Perawan”, dan yang akan datang “Pacarku Kuntilanak Kembar”. Jika dibuat film-film seperti ini terus apa jadinya ya moral masyarakat Indonesia? And for those film maker who produce this movie, WAKE UP karena penonton sudah pintar memilih untuk menonton film yang berkualitas even dengan genre horror.

Brutally Insane and Nice Twist. Review of “Modus Anomali”

Saya pertama kali melihat teaser film ini pertama kali waktu datang ke acara iNAFFF 2011 bulan November lalu, waktu opening film “Immortals”. Pertama yang Saya pikirkan adalah, Saya harus menonton film ini pada saat press screening, because I want to be the one of the journalist who watch this movie for the first time. Sayangnya, nggak dapat undangan press screening, tapi tetap nggak bisa menghindarkan Saya untuk menonton film ini karena Saya penyuka film thriller and sadistic. Thanks to @film_bioskop and @moviegoersID yang mengadakan nonton bareng di Blitz Megaplex Pacific Place di hari pemutaran perdananya untuk seluruh bioskop. Mendaftarkan diri Saya sebagai movie blogger (awalnya takut nggak kepilih karena masih baru jadi movie blogger), dan finally I’ve been chosen. Okay, enough for my story, let’s continue to review.

Saya selalu suka filmnya Joko Anwar, paling favorit waktu menonton “Pintu Terlarang“, itu film terkeren menurut Saya. Dan Saya pun menaruh ekspektasi yang lebih dari film ini. Pertama, this is the story, seorang cowok yang terkubur hidup-hidup (Rio Dewanto), hilang ingatannya dan bingung kenapa dia bisa ada di hutan itu. Dia mencari tahu apa yang terjadi dengan dirinya, sampai dia menemukan foto keluarganya. Dia menemukan sebuah cabin yang kosong, sebuah kamera video yang ada di cabin itu membuatnya penasaran. Sampai dia melihat istrinya yang sedang hamil dibunuh lewat rekaman video itu. Pembunuh gila ternyata berkeliaran di hutan itu dan satu demi satu misteri terpecahkan dengan hasil yang tidak terduga.

Okay, here’s the review. Kita akan terpesona di pembuka film ini dengan keindahan alam di sebuah hutan yang tampak subur, sampai dibuat kaget dengan kemunculan sosok Rio Dewanto bangkit dari kubur. Awal sampai pertengahan film mungkin terasa membosankan karena difokuskan pencarian identitas sebenarnya si cowok itu, tapi adegan pembunuhan istri yang terekam di video kamera dijamin membuat kamu miris. Di tengah-tengah cerita, kengerian dan ketegangan berhasil membuat adrenalin kita naik karena di bagian inilah the real insanity dari film ini. Lewat film ini, kalian akan dibuat seperti menyusun puzzle pikiran dimana kamu akan mengerti apa arti “Modus Anomali” itu sebenarnya. Jujur Saya sudah menduga dari awal siapa sebenarnya si pembunuh gila di film ini, tapi twist yang dibuat Joko Anwar lewat film ini memang Saya akui dan mungkin penonton lain setuju: F***IN’ BRILLIANT!!! Pendatang baru di luar Rio Dewanto, Surya Saputra, Hannah Al Rasyid, dan Marsha Timothy juga menunjukkan akting yang lumayan bagus dan mencuri perhatian walaupun hanya tampil di beberapa scene saja, tentunya mereka pastinya akan menjadi rising stars ke depannya.

Overall, buat kamu yang suka dengan film thriller dan sedikit brutal dicampur (rada) sadis, sangat direkomendasikan menonton film ini. Nikmatilah disturbing pictures yang ada di film ini karena itulah yang membuat menarik menonton film jenis ini. Saya setuju kalau genre film ini di Indonesia terus diproduksi dengan ‘keniatan’ cerita sekaligus twist yang membuat kita akan nggak menduganya, dan stop membuat film horor yang cuma menonjolkan keseksian tokoh utamanya saja dengan tipikal hantu kuntilanak dan pocong. Is there any sequel possibilities ofModus Anomali“? Nggak harus dibuat sequel-nya, tapi kalau memang nantinya ada harus lebih brutal lagi.

*Congratulation for @film_bioskop and @moviegoersID yang pertama kalinya menyewa satu teater untuk event nobar. Salute to you guys, and indeed movies unite us.

 

The Funny Things About Snow White and The Evil Queen. Review of “Mirror Mirror”

Kembali ke masa kecil, pastinya kita semua akan tahu cerita dongeng Snow White karya Brothers Grimm yang kita kenal dengan nama Indonesia Putri Salju. Tahun 1937, Walt Disney membuat animasi panjang berjudul “Snow White and the Seven Dwarfs“, dan menjadikan salah satu animasi klasik Walt Disney terbaik sepanjang masa (Saya juga suka film ini walaupun masuk kategori Disney’s Princess).Legenda Snow White masih menjadi kisah klasik yang menarik untuk diangkat lagi ke medium apapun, termasuk film. Tahun ini saja sudah ada film “Mirror Mirror” dan “Snow White and the Huntsman” yang menampilkan sisi lain dongeng Snow White. Sutradara Tarsem Singh yang pernah menyutradari film “The Fall” dan “Immortals“, mencoba menampilkan sisi lain cerita dongeng Snow White versinya lewat “Mirror Mirror“, pastinya khas sutradara Tarsem selalu identik dengan kemewahan gambar yang keren.

Diceritakan di sebuah kerajaan, Snow White (Lily Collins) harus dikurung di istana megah warisan ayahnya karena meninggal di hutan. Dia harus tinggal dan di bawah otoriter ibu tirinya yang jahat, Ratu Clementia (Julia Roberts).Kerajaannya di ambang kebangkrutan karena sang ratu jahat suka menghambur-hamburkan uang untuk pesta pribadinya dan Snow White pun tidak boleh keluar dari istana sekaligus nggak boleh keluar dari kamarnya ketika sang ratu mengadakan pesta. Snow White akhirnya menyelinap keluar, menemukan bahwa rakyatnya menderita karena kelaparan. Biasanya rakyatnya yang suka menyanyi dan menari malah menderita karena pajak tinggi. cerita beralih ke pangeran Alcott (Armie Hammer) yang datang ke istana. ternyata sang Ratu punya rencana yang licik, yaitu menikahi sang pangeran lalu membuatnya kaya lagi. Snow White menyelinap ke pesta penyambutan pangeran dan ingin meminta bantuan sang pangeran tertangkap oleh sang ratu lalu dibuang ke hutan untuk dibunuh. Tapi bawahan sang Ratu tak tega membuniuhnya lalu Snow White lari dan bertemu dengan 7 kurcaci yang gemar mencuri. Bersama 7 kurcaci itu Snow White berusaha mengembalikan tahta yang harusnya menjadi miliknya sekaligus membantu rakyatnya.

Here’s the review, jujur Saya suka dengan visualisasi Tarsem yang sangat bermain fantasi di sini. Cerita dongeng terasa hidup dengan setting, efek CGI, dan kostum yang WAH layaknya fairy tales. Tarsem juga menambahkan bumbu komedi di cerita Snow White versinya supaya terasa lebih segar. Apakah bumbu komedinya berhasil? Jawabannya iya, kita akan dibuat ketawa menyaksikan kekonyolan yang ada dari sang Ratu sampai bawahan sang Ratu itu sendiri. Bagian yang paling Saya suka waktu perawatan berlebihan Sang Ratu untuk terlihat lebih muda dan cantik. Julia Roberts berhasil mencuri perhatian dari awal sampai akhir di film ini sebagai ratu yang menyebalkan, jahat, jealous-an, bitchy, dan…..tukang kawin. Unsur ‘mirror…mirror on the wall…‘ tetap ada, dan black magic juga ada, lalu apel merah yang jadi khas Snow White juga ada di film ini mengikuti dongeng aslinya. 7 Kurcaci walaupun punya nama yang berbeda juga menunjukkan masing-masing personality-nya sesuai dengan nama mereka. Ada twist yang menarik menjelang akhir film (meskipun kurang menggigit), yang bisa bikin kalian akan berguman ‘oooooohhhh, ternyata dia…’. Sayangnya, flow ceritanya terasa bosan untuk diikuti orang dewasa yang menyaksikannya, dan bahkan terlalu dewasa untuk anak-anak ataupun remaja jadi terkesan tanggung. That’s too bad.

Overall, walaupun nggak terlalu istimewa dalam segi cerita, film ini cukup menghibur. Buat kalian yang suka dengan cerita dongeng dibalut dengan komedi segar, bisa jadi film ini menjadi tontonan yang bisa melepas stress karena rutinitas sehari-hari. Kalian juga akan dimanjakan visualisasi yang indah layaknya cerita dongeng. Apakah versi lainnya “Snow White and the Huntsman” yang katanya akan lebih setia dengan versi aslinya dengan ditambahkan elemen dark gothic lebih baik dari “Mirror Mirror“? We’ll see then.

Introducing David 8

Ini bukan film baru tentang tokoh bernama David 8, tapi ini adalah viral promo dari film “Prometheus” yang akan rilis bulan Juni nanti dan menjadi salah satu summer movie bertema sci-fi action paling ditunggu. Sepertinya, trailer terbaru dari cuplikan adegan film ini dianggap membosankan, mungkin rumah produksi menganggapnya begitu. That’s why, mereka meluncurkan viral video tentang salah satu karakter android yang diperankan Michael Fassbender, David 8.

Dalam video yang tampak seperti iklan penjualan robot ini, Weyland Corp. memperkenalkan generasi baru robot ciptaannya bernama David 8. Robot generasi baru ini adalah smart robot yang sangat menyerupai manusia yaitu bisa berpikir, bisa membantu mengatur jadal kerja, menemani bermain catur, sampai bisa menangis. David juga ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada orang yang menciptakannya.

Viral video ini memang unik, dan menjadi materi promosi paling seru jika dibandingkan harus menyaksikan trailer. Kita dibuat punya rasa penasaran yang tinggi untuk mengetahui karakter David 8 dan mengharuskan kita untuk menunggu tanggal 8 Juni (tanggal rilis film “Prometheus“). Artinya semakin tinggi minat kita untuk menonton filmnya (Saya sendiri juga punya minat yang tinggi untuk menonton film ini). Michael Fassbender aktingnya nggak bisa dianggap remeh, Saya pun hampir menganggap dia itu robot asli. Buat yang belum melihat viral video-nya, enjoy it below. See you on June, David.

 

Too Much Drama For Suspense-Thriller. Review of “The Witness”

Indonesia sepertinya sudah berani membuat film dengan genre suspense-thriller daripada main aman dengan genre horror low budget tapi dengan cerita cupu dan eksekusi lemah ditambah tokoh utama hantu pocong dan kuntilanak (jangan lupa cewek dengan baju minim yang jadi jualannya). Sineas Indonesia rupanya juga sudah pintar bagaimana menyiasati genre yang di ‘anak tiri’ kan ini menjadi tontonan yang menarik.

Kali ini, Skylar Pictures bekerja sama dengan GMA Films dari Filipina, menghasilkan film terbaru mereka yang bergenre suspense-thriller , “The Witness”,yang dibalut cerita drama dengan bintang utama asal Filipina, Gwen Zamora. Rilis duluan di Filipina tanggal 29 Maret 2012 ternyata langkah yang tepat, nggak disangka film ini laku di Filipina dengan jumlah penonton lebih dari 400.000. Satu lagi film Indonesia (karena memang pemain, sutradara, dan kru kebanyakan dari Indonesia) yang sukses di Filipina, sekaligus penilaian Cinema Evaluation Board (CEB) mengakreditasi kualitas film ini dengan nilai A. Bahkan media di Filipina juga menilai Filipina harus belajar membuat film dengan orang Indonesia. Semuanya itu nilai plus buat film ini.

Saya awalnya ber-ekspektasi penuh dengan adegan penuh darah dan Saya ingin ketegangan penuh waktu menonton film ini. Okay, itu ekspektasi awal Saya dan mungkin penonton lainnya juga ber-ekspektasi yang sama dengan Saya. Lalu bagaimana dengan eksekusi filmnya? Okay, here’s the review.

Kita mulai dari cerita dulu, Angel (Gwen Zamora) baru saja dipindah tugaskan dari Manila ke Jakarta di sebuah hotel di Jakarta. Dia dihantui mimpi seorang cowok bunuh diri dengan menembakkan pistol di mulutnya. Awalnya memang dia anggap semua itu hanya mimpi, tapi mimpi buruk itu seolah menjadi nyata ketika semua keluarganya dibunuh oleh orang yang motifnya nggak jelas (Pierre Gruno). Angel jadi satu-satunya saksi hidup yang kemudian kasusnya diselidiki oleh Detektif Indra (Marcelino Lefrandt). Selama pengamanan atas keselamatannya, Angel dihantui mimpi buruk yang terus menerus datang dan dihantui oleh adiknya yang meninggal karena insiden pembunuhan itu sekaligus menguak ada apa sebenarnya dibalik pembantaian keluarganya itu.Alur cerita film ini mengalir dengan baik, puzzle demi puzzle tersusun dengan baik dan nggak terlalu rumit untuk solving the cause of the murder. Tapi, yang mengganggu, adegan dramanya terlalu banyak sehingga membuat film ini kehilangan inti dari suspense itu sendiri. Adegan slow motion juga lumayan banyak yang mungkin akan membuat dramatis, tapi justru terlihat aneh, salah satu contohnya waktu Angel mengejar bayangan hantu adiknya di lorong hotel. Terakhir yang mengganggu juga karakter Angel terlalu banyak menangis, bahkan setelah berhasil membuat penjahatnya pingsan (maaf spoiler), dia sempat menangis, oh please!!!! Endingnya juga nggak terlalu istimewa, selesai begitu saja, coba kalau ditambahkan twist yang di luar dugaan pasti akan menambah ketegangan dari unsur suspense-thriller dari film ini, sekaligus mungkin akan membuat penonton lebih puas. Kelebihannya, film ini bisa memaksa penonton terus menduga-duga “pasti si ini atau si itu” yang jahat, tapi dugaan itu bisa hilang karena flow cerita film ini yang cukup kuat.

Overall, kalau kamu melihat desain poster dan sudah melihat trailer film ini sebelumnya, siap-siap dibuat kecewa akan eksekusinya, karena it is really too much drama yang memakan durasi. Intinya yang jelas, Saya kecewa dengan film ini yang berhasil membuat Saya (dan penonton lain tentunya yang mungkin punya ekspektasi awal ini pasti ‘berdarah-darah’) jadi ikut termewek-mewek.Tapi di luar kekurangan yang ada pada film ini, patut diacungi jempol karena bisa sukses di Filipina. Kalau kamu penasaran sama film ini, langsung datang ke bioskop terdekat kamu mulai tanggal 26 April 2012.

Gothic Horror on “Dark Shadows”

Genre horor memang selalu jadi genre favorit film maker karena low budget. Tergantung film maker ingin membuat horornya ke arah mana pure horror with ghost, horror thriller, atau sekalian gothic horror. Yang menarik kalau gothic horror dibuat menjadi film karena kostum dan make-up nya harus mendukung supaya mendapatkan mood yang kuat untuk menjadikan filmnya menjadi keren. Dan tentunya didukung dengan budget yang besar.

Ada unsur gothic pasti juga nggak lepas dari gaya penyutradaraan Tim Burton, sutradara satu ini selalu memasukkan undur gothic di setiap filmnya. Gothic ala Tim Burton nggak cuma kostum atau make-up tapi setting dan suasana filmnya yang dark. Itu bisa ditemukan di beberapa karyanya “Batman“, “Batman Returns“, “Sleepy Hollow“, “Sweeney Todd“, “Alice In Wonderland“, dan “Nightmare Before Christmas“. Kali ini, lewat karya terbarunya “Dark Shadows“, Tim Burton me-remake kembali soap opera gothic horor yang pernah sukses di era tahun 1960-an berjudul sama. Johnny Depp juga nggak ketinggalan di film ini karena sudah menjadi langganan di setiap filmnya sekaligus sang istri Helena Bonham Carter juga ikut main di sini, plus Michelle Pfeiffer yang berkolaborasi lagi dengan Tim Burton sejak berperan menjadi Catwoman di “Batman Returns“. Kali ini, Tim Burton memasukkan unsur komedi juga di sini. Pastinya ini akan menjadi filmnya yang paling seru. Bercerita tentang vampir bernama Barnabas Collins yang tidak sengaja dilepaskan setelah terpenjara selama 2 abad, kembali ke rumahnya yang ternyata sudah ditempati oleh pewaris keluarganya, dan eluarga barunya itu ternyata bermasalah dan meminta perlindungan dari Barnabas.

Trailer pertama sudah dirilis, dan menampilkan make-up sekaligus kostum yang mendukung. Johnny Depp dibuat lebih muda dengan dandanan vampir yang berumur 2 abad yang meyakinkan ditambah dengan bumbu komedi yang diperlihatkan di trailer ini. Film ini akan masuk di bioskop Indonesia dan sedang masuk sensor, siap dirilis bulan Mei ini. So Tim Burton fans, be ready for this movie.

 

Future Fugitive on “Looper”

Lagi-lagi tema masa depan dibuat menjadi ide cerita menarik untuk film genre action sci-fi. Kali ini sineas Rian Johnson yang pernah menggarap film “The Brother’s Bloom“, mengangkat tema masa depan untuk film berjudul “Looper” ini. Dibintangi oleh Joseph Gordon Levitt, Bruce Willis, dan Emily Blunt, sepertinya film ini akan menjadi tontonan menarik buat pecinta sci-fi action.

Diceritakan di tahun 2042, seorang pembunuh bayaran selalu menerima targetnya dari tahun 2072. Awalnya, itu semua hanyalah pekeerjaan yang menyenangkan buatdia, tapi sampai dia menyadari bahwa target selanjutnya adalah dirinya sendiri……dari masa depan. Melihat premis sinopsisnya, menarik sekali untuk ditonton dan dibuat penasaran kenapa tokoh utamanya dijadikan target pembunuhan di masa depan. It’s gonna be thrilling.

Melihat trailer-nya, masa depan yang ditampilkan nggak penuh dengan teknologi canggih seperti mobil terbang atau penggambaran masa depan pada umumnya di film sci-fi. Masa depan yang ditampilkan masih hampir sama dengan masa sekarang, hanya saja ditambahi pengiriman target dari masa depan. Kalau ada Bruce Willis pastinya adegan action-nya juga nggak kalah seru. Save your date on September 28th, 2012 and enjoy the trailer.

Truly It’s Like The Original Game With Great Action Special Effects, But Weak In Execution. Review of “Battleship”

Mainan keluaran Hasbro sepertinya menarik minat produser Hollywood untuk dibuatkan cerita untuk sebuah film action-sci-fi-and full special effects. Setelah sukses dengan seri “Transformers” dan “G.I. Joe“, kali ini giliran gameBattleship” yang diangkat menjadi sebuah film. Awalnya, board game ini adalah game strategi yang memerlukan 2 pemain tentang perang perlawanan kapal perang Angkatan Laut melawan kapal alien dari luar angkasa.

Premis cerita dari permainan ini memang disesuaikan dengan cerita filmnya. Ber-setting di Hawaii, seorang ilmuwan luar angkasa menemukan planet yang sumber dayanya mirip dengan bumi dan menamakannya Planet G, transmisi satelit dikirim ke planet itu dengan harapan bisa menangkap sinyal dari planet itu. Cerita beralih dengan karakter Alex Hopper (Taylor Kitsch) yang bermasalah dan hampir nggak punya harapan untuk masa depannya, akhirnya dia mendaftar ke angkatan laut karena paksaan kakaknya, Stone Hopper (Alexander Skarsgard) dan juga mempunyai misi untuk bisa dekat dengan cewek idamannya, Sam (Brooklyn Decker). Alex yang ternyata juga masih membuat onar di Angkatan Laut dan membuatnya hampir dipecat, tapi semua itu merubah perilakunya karena tiba-tiba muncul kapal alien raksasa yang menghancurkan akan menghancurkan semua frekuensi sinyal di Hawaii yang diduga berasal dari Planet G. Alex dibantu oleh kru kapal perangnya dan Lt. Raikes (Rihanna), melawan alien yang berteknologi canggih itu dengan strategi perang yang belum pernah dikuasainya.

Ceritanya memang mengikuti deskripsi board game-nya, tapi premis yang sama ternyata nggak punya alur yang kuat. Awalnya dijelaskan kalau transmisi sinyal yang dikirim ke Planet G untuk menyelidiki kehidupan di sana. Tapi begitu alien menyerang bumi nggak dijelaskan terlalu dalam, apa sebenarnya motivasi serangan alien itu untuk datang ke bumi dan pada akhirnya mengirim sinyal kembali ke planet asalnya, for what reason? Sending Decepticons to earth? Kelebihan film ini ada di adegan spektakular perang melawan kapal alien dan efek CGI yang nyata (dan nggak berlebihan seperti “Transformers“) menjadi adegan yang disukai dan ditunggu. Saya juga suka dengan strategi penyerangan lewat monitor radar yang sama persis dengan board game-nya, serasa kita semua ikut bermain dalam strategi penyerangan kapal alien itu. Rihanna di debut filmnya ini mungkin harus explore lebih dalam tentang akting, sebagai wanita tangguh di angkatan laut, aktingnya masih terlihat feminim walaupun sudah berpenampilan tangguh, I think she should learn how to become a tough girl to Michelle Rodriguez.

Overall, kalau kamu memang ingin menyaksikan adegan spektakular, film ini sangat direkomendasi untuk ditonton. Tapi kalau memang ingin berharap banyak dengan alur cerita dan ending yang seru, film ini kurang menggigit untuk sekelas sci-fi action. Ending yang sangat biasa saja juga melengkapi kekurangan film ini. Please don’t make the sequel for this movie.

 

“The Witness” Another Thriller From Indonesia

Image

Sepertinya genre thriller mulai lebih dilirik Indonesia untuk dijadikan film yang siap membuat kita semua ketakutan sekaligus menambah adrenalin waktu menontonnya. Setelah sukses di Indonesia dengan dirilisnya “Rumah Dara” (Gorylah Pictures) dan “The Perfect House” (VL Productions) yang sukses dan masuk di beberapa festival Internasional, Skylar Picture sepertinya ‘latah’ untuk membuat genre thriller di film terbarunya berjudul “The Witness“.

Film ini merupakan kerjasama antara Skylar Pictures dan GMA Networks di Filipina, memakai bintang utama aktris cantik asal Filipina, Gwen Zamora. Film yang disutradari Muhammad Yusuf dan sepenuhnya diproduksi di Indonesia ini menggunakan bahasa Inggris di sepanjang filmnya. Diputar duluan di Filipina bulan Maret 2012 yang lalu ternyata membuat animo penonton di sana tinggi dengan thriller ala Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri akan diputar di jaringan perbioskopan Blitz dan Cinema 21 tanggal 26 April 2012. Tanggal rilisnya sungguh berani, karena bebarengan dengan film Joko Anwar terbaru yang juga ber-genre thriller, “Modus Anomali“, yang juga berbahasa Inggris sepanjang filmnya.

Cerita film ini berfokus pada Angel (Gwen Zamora), seorang general manager hotel yang dipindah tugas dari Filipina ke Jakarta. Dia selalu dihantui mimpi aneh tentang pembantaian keluarganya dan juga seorang cowok yang menembakkan senjata ke mulutnya. Kejadian itu terjadi ketika dia menjadi saksi atas pembantaian keluarganya dan pada akhirnya menyelidiki sendiri misteri pembantaian keluarganya itu.

Selain dibintangi oleh Gwen Zamora, pemain Indonesia lainnya ikut main di film ini seperti Marcelino Lefrandt, Pierre Gruno, Kimberly Ryder, Agung Saga, dan Febby Febiola. Premis ceritanya klasik dan sangat berbau thriller-horror Asia, pastinya ada twist yang nggak disangka-sangka. Semoga saja film ini nggak mudah ketebak layaknya film thriller ala Asia yang lain. Saya juga nggak sabar menonton film ini. Tunngu review-nya di MovTastic.