Stylish, Retro, and (Kinda) Funny. Review of “Men In Black 3”

Pembasmi alien jahat dengan black suit ke layar lebar setelah 10 tahun sejak film “Men In Black 2” (2002), but this time they’re back in time. Tagline yang menarik untuk film ini, membuat rasa excited untuk menonton film ini menjadi lebih bermakna (apaan sih jadi lebih bermakna, lebay deh). Well okay, Barry Sonnefeld memang jenius untuk menambah aktor utama baru yaitu Josh Brolin yang terkenal dengan peran serius, even memang di sini dia berperan serius. Mengangkat tema time traveler sebagai main story, tentunya menjadi elemen yang menarik untuk diikuti.

Agent J (Will Smith), terkejut karena partnernya, Agent K (Tommy Lee Jones), ternyata sudah meninggal 40 tahun yang lalu. Padahal, baru semalam dia bekerja dengannya. Melalui Agent O (Emma Thompson), sebagai kepala divisi agent pembasmi alien yang baru menggantikan Agent Zed, Agent K diharuskan untuk kembali ke tahun 1969 untuk mencari tahu misteri kematian Agent K. Sesampainya di tahun 1969, Agent J bertemu Agent K muda (Josh Brolin) yang tentunya merasa terganggu dengan kehadiran Agent K. Penjahat alien paling sadis, Boris The Animal (Jemaine Clement), yang ternyata kembali ke tahun 1969 untuk membunuh Agent K muda untuk merubah sejarah. Di sinilah misteri itu terkuak, dan ada hal yang nggak diketahui Agent J jauh sebelum dia bergabung menjadi salah satu agent di divisi pembasmi alien.

Okay, here’s the review. Lebih baguskah film ini? INDEED. Saya setuju ini adalah “Men In Black” paling seru. Pertama, kita akan melihat alien retro dengan dandanan ala film-film alien zaman vintage. Berhubung kembali ke tahun 1969, suasananya lebih berwarna dari segi costume design sampai dandanan vintage tahun 1960-an (jangan lupa juga hippies style yang ada di film ini). Barry tetap mempertahankan komedi yang segar di sekuel ini. kita akan dibuat tertawa dengan dialog-dialog lucu mulai dari dialog Will Smith dan juga kekonyolan para alien yang ada di film ini. Oh and don’t forget, ada Andy Warhol juga (bukan asli ya) dan cameo Lady Gaga. Nicole Scherzinger juga beraksi di awal film sebagai pacar Boris The Animal, tapi sayang berhasil mencuri perhatian tapi aktingnya harus diasah lagi supaya lebih berkesan, jadinya malah terlupakan begitu saja. Jemaine Clement yang kita kenal sebagai salah satu personil Flight Of The Concorde, menampilkan akting yang keren sebagai Boris The Animal, bahkan Saya sendiri hampir nggak mengenali kalau dia ternyata Jemaine. Gadget-gadget retro yang keren juga ditampilkan begitu sempurna di sini. Walaupun di tengah-tengah cerita agak membosankan karena terlalu banyak ‘omong’, “Men In Black 3” tetap fresh sebagai sekuel yang bagus dan layak ditonton.

Overall, this is a very entertained movie. Banyak pilihan format 2D, 3D, atau IMAX 3D. Well, Saya sarankan tontonlah format IMAX 3D untuk experience yang seru. Etan Cohen sebagai penulis skenario nggak salah dipilih untuk membuat film ini lebih menarik. Good job Barry and Etan.

Advertisements

“Belenggu”, A New Indonesian Thriller From UPI

Film Indonesia sepertinya sudah mulai berkembang dan semakin berkualitas saat ini, salah satunya untuk genre thriller (belum bisa bilang berkembang kalau horor karena masih di dominasi sama horor berbau vulgar). Kali ini, Upi sepertinya akan menjadi salah satu sineas muda yang akan ikutan merilis film genre thriller yang berkualitas. Setelah mengumpulkan 5 sutradara muda di horor omnibus yang bagus di “HI5TERIA“, kali ini Upi mengarahkan pemain-pemain handal Indonesia seperti Abimana Arya, Imelda Therine, Laudya Cynthia Bella, Bella Esperance, dan Teuku Wikana dalam film “Belenggu“.

Cerita film ini mengisahkan sekelompok orang yang terbelenggu dengan masa lalu yang pernah mereka hadapi. Beberapa kejadian yang menimpa orang-orang ini, ternyata saling berkaitan satu dengan lainnya. Jalinan diantara semua orang itu  berakhir pada sebuah dendam. Premis cerita yang cukup menjanjikan, sepertinya akan ada kejutan yang menarik di film ini. Teaser poster-nya pun juga dibuat misterius dengan gambar orang berkostum kelinci, tapi dibuat creepy, membuat kita bertanya-tanya siapakah sebenarnya “kelinci” itu. Melihat teaser trailer-nya, mood dan tone warna sentuhan vintage (dan ada sentuhan sephia), mewakili sekali kalau film ini adalah thriller yang penuh misteri. Melihat teaser-nya pun Saya jadi ingat setting bar saloon ala western movie, dengan salah satu karakter yang memakai topi koboi. Rencananya film ini akan rilis pertengahan tahun ini, I really can’t wait for this movie, dan semua pecinta thriller pastinya akan menunggu film ini.

Box of “The Possession”

Selain dikenal sebagai sutradara film trilogySpider-Man“, Sam Raimi juga dikenal sebagai sutradara dan produser film horor yang berkualitas. Gaya horor Sam Raimi selalu mengandalkan classic horror atau American horror yang bisa membuat kita super kaget dengan adegan-adegan mengejutkan seperti yang ada di film “Drag Me To Hell” (2009). Sekarang, setelah mengangkat tema possessed dan mystic di trilogyEvil Dead” (1981 – 1992), Sam Raimi kembali memproduseri tema yang sama lewat film “The Possession” dengan inspirasi kejadian nyata. Dengan sutradara asal Denmark, Ole Bornedal (“I Am Dina” (2002)), dibantu duo penulis Juliet Snowden dan Stiles White (“Knowing” (2009)), sepertinya ini akan menjadi film “kerasukan” yang berbeda dari yang lain.

Cerita film ini berfokus pada seorang ayah (Jeffrey Dean Morgan) yang sudah bercerai, meluangkan waktu bersama anak ceweknya yang masih kecil. Pada suatu hari sang ayah mengajak anaknya ke sebuah bazaar yang menjual barang-barang bekas, sang anak tertarik dengan kotak musik antik yang dijual di sana. Begitu membelinya, kekuatan supernatural merasuki sang anak dan sang ayah pun bersama mantan istrinya berusaha untuk menghilangkan kutukan mengerikan itu dari dalam tubuh anaknya.

Tema kerasukan memang sudah sering diangkat, tapi Sam Raimi pintar untuk menambahkan elemen roh jahat yang (mungkin) terkunci dalam kotak itu untuk siap merasuki sekaligus menyiksa sang anak. Artwork poster yang keren membuat kita jadi bertanya-tanya akan seperti apa setan yang merasuki tubuh sang anak. Melihat trailer-nya pun cukup menjanjikan untuk membuat kita meringis ngeri, apalagi ketika ada tangan yang keluar dari mulut sang anak. Apakah ini akan lebih creepy dari film exorcism lain seperti “Devil Inside Me” atau “Exorcimus“? Mark your date in August 31, now see the trailer below.

Good Opening, Boring On Ending. Review of “Intruders”

Membaca sinopsis cerita dan trailer film ini, awalnya membuat Saya sangat excited menonton film yang disutradari oleh Juan Carlos Fresnadillo ini. Apalagi dipasang aktor-aktor keren seperti Clive Owen, Carice Van Houten, dan Daniel Bruhl di film horror-thriller ini. Semakin kuat rasa penasaran penonton yang menyukai genre horror-thriller untuk menonton film ini, tapi apa memang sebagus yang dilihat trailer-nya? Hmm…keep reading this post.

Cerita diawali di tahun 1980-an di Madrid,  seorang anak kecil bernama Juan (Izan Corchero), dihantui oleh sesosok makhluk berjubah gelap bertudung di kepalanya. Makhluk itu selalu muncul ketika Juan menulis cerita tentang makhluk yang dinamakan “Hollow Face” itu di secari kertas. Ibunya, Luisa (Pilar Lopez De Ayala), menganggap anaknya hanya mengalami mimpi buruk dan berhalusinasi sampai membawanya ke seorang Pastur bernama Antonio (Daniel Bruhl) untuk menghilangkan mimpi buruk itu. Beralih ke masa sekarang di London, John (Clive Owen), hidup bahagia bersama dengan istrinya, Susanna (Carice Van Houten), dan anaknya yang cantik Mia (Ella Purnell). Kebahagiaan itu kemudian beralih menjadi kengerian karena Mia dihantui oleh “Hollow Face” karena Mia menemukan secarik kertas yang  berisikan cerita tentang makhluk itu. Makhluk itu kembali lagi karena Mia menclanjutkan menulis cerita tentangnya kemudian membuat Mia hampir gila, Ternyata, ada misteri tentang masa lalu John yang nggak terduga yang berhubungan dengan “Hollow Face“.

Okay, here’s the review. Film ini memang membawa khas horor Spanyol yang bisa membuat kita ketakutan mental daripada harus takut dengan sosok hantunya. Tapi apakah metode itu berhasil? Nggak terlalu berhasil. Awal film ini menjanjikan karena menjelaskan kenapa “Hollow Face” bisa hadir untuk menghantui Juan, suspense sangat terasa waktu Juan berusaha melawan makhluk itu. Kemudian di tengah-tengah cerita film ini, ketakutan itu terasa biasa saja dengan banyaknya dialog yang membosankan. Nilai plus dari film ini adalah alur flashback dan forward yang menerangkan apa (atau siapa)  “Hollow Face” itu sebenarnya, kenapa ada hubungan Mia dan Juan yang dihantui makhluk itu, dan tentunya twist yang memang nggak terduga. Juan Carlos Fresnadillo yang pernah mengarahkan “28 Weeks Later” itu harusnya mempertahankan suspense yang sudah dibentuk di awal film, justru khas horor Spanyol menjadi sedikit rusak di film yang jadinya hampir menjadi drama daripada horror-thriller.

Overall, film ini biasa saja dan nggak sukses untuk membuat adrenalin kita meningkat karena ketakutan waktu berada di tengah-tengah sampai akhir film. Sayang sekali, awal yang bagus tapi harus menjadi flat seiring berjalannya cerita, Tapi, jika ingin tahu twist yang lumayan bagus bisa jadi film ini menjadi referensi menarik untuk dijadikan koleksi.

First Trailer of “Skyfall”

 

My name is Bond……James Bond.”

Perkenalan khas mata-mata Inggris ini memang selalu melekat di otak kita setiap melihat filmnya. Setelah 4 tahun menunggu, akhirnya film terbaru dari James Bond siap di rilis di bulan November tahun ini dengan IMAX experience (dan juga di jaringan bioskop lainnya). Film baru tentunya juga sutradara baru, kali ini sineas yang membuat film “American Beauty” (1999) menyabet piala Oscar kategori Best Picture di ajang Academy Awards 2000, Sam Mendes, yang duduk di kursi sutradara mengarahkan Daniel Craig dan Judi Dench di film ini. Sam Mendes dikenal selalu memasukkan drama yang kelam di film arahannya. Sepertinya drama kelam kehidupan James Bond dan M akan lebih ditonjolkan di sini walaupun tetap dibalut action ala Bond. Berbeda di installment baru film Bond sebelumnya, judul film ini nggak membentuk angka 007 (kode agen James Bond) di poster filmnya seperti yang dilakukan di “Casino Royale” (2006) dan “Quantum Of Solace” (2008). Angka 007 diletakkan di bawah judul “Skyfall” dan sepertinya memakai pakem awal pemberian judul di film-film Bond sebelum diperankan Daniel Craig.

Cerita film ini masih nggak terlalu di blast secara detail untuk mempertahankan kejutan yang ada di keseluruhan film ini. Diceritakan kesetiaan James Bond (Daniel Craig) kepada M (Judi Dench) sedang diuji, dan sepertinya M juga dihantui oleh masa lalunya yang kelam. M16 kemudian diserang, James Bond harus mencari tahdalang penyerangan itu dan menghentikan ancaman yang bisa membahayakan M dan juga M16.

Trailer pertama memang masih teaser, dan untuk ukuran teaser yang simple tapi keren dengan menampilkan beberapa potongan adegan action yang spektakuler, salah satunya kereta bawah tanah yang menabrak tembok bata. Kita dibuat penasaran tentang apa itu Skyfall sebenarnya waktu Bond diinterogasi oleh salah satu agen, dan hanya dijawab dengan kata “Done…“. Sejak diganti Daniel Craig, image James Bond menjadi semakin keren dan lebih sangar sekaligus membuat fans James Bond menjadi tambah banyak. Dari premis ceritanya ini akan menjadi lebih kelam, pastinya kalau kalian fans berat James Bond you will not miss this movie especially in IMAX. See the teaser trailer below.

A Sci-Fi Comedy on “Extraterestrial”

Spanyol ternyata nggak cuma sekedar telenovela saja yang jadi andalan (nggak tahu apakah itu serial drama itu masih hype di sana), tapi ide cerita untuk sebuah film layar lebar juga nggak kalah bagus dari Hollywood. Kali ini tema alien sci-fi dibalut dengan komedi siap jadi andalan lewat film ini. Di sutradarai oleh Nacho Vigalondo, yang pernah menyutradarai film “Timecrimes” (2007), film low budget sci-fi tentang time traveler. Dari judulnya saja “Extraterestrial“, flm ini berfokus tentang invasi alien ke bumi.

Semua orang tahu apa yang dilakukan merekakalau tiba-tiba di atas langit dipenuhi oleh UFO yang siap menyerang. Pastimya lari secepat mungkin untuk menyelamatkan diri. Tapi, bagaimana kalau invasi alien dimulai waktu seorang cowok terbangun di sebuah flat cewek yang disukainya yang baru saja ditemuinya semalam? It’s randow, right.

Sinopsis ceritanya menarik dan membuat penasaran untuk menonton filmnya. Artwork poster nya juga menarik seakan-akan ini film ber-genre full sci-fi. Trailer film ini menandakan kekonyolan pasangan yang berusaha tenang dan sikap lucu mereka untuk menghadapi invasi alien dengan UFO besar di atas langit. Jason Reitman, sutradara “Juno” dan “Up In The Air” menilai film ini sebagai “The Woody Allen Science Fiction“, dan juga mendapat kritik positif dari berbagai media dan kritikus. Kita tunggu saja filmnya rilis di Indonesia (semoga dirilis oleh Blitz Megaplex). Before that, enjoy the trailer below.

 

Electronic Rock Music Rules. Review of “The Raid: Redemption”

Demam “The Raid” sepertinya masih belum berakhir. Walaupun di Indonesia sendiri sudah sukses (apalagi Internasional), semua orang masih membicarakan film karya sutradara Gareth Evans ini. Di Amerika, film ini berubah judul menjadi “The Raid: Redemptionunder releasing by Sony Pictures dengan music score yang digarap oleh Mike Shinoda (Linkin Park) dan Joseph Trapanese. Rilisan Amerika akhirnya dirilis juga di Indonesia, sukses membuat semua orang penasaran dengan hasil music score-nya dan kembali menjadi hype saat ini.

Okay, Saya nggak akan review keseluruhan filmnya karena sudah saya review di blog ini (lihat older post paling awal) tapi Saya akan review bagaimana music score yang membawa film ini dari awal sampai akhir seru untuk di ikuti. Kita semua tahu tipikal Mike Shinoda jika membuat musik untuk Linkin Park, bernuansa electronic dicampur hard rock yang keren. Hal itu berlaku ketika membuat music score film ini. Baguskah? BRILLIANT!!!! Duo Mike dan Joe membuat nuansa musik electronic rock berhasil membawa film ini semakin seru untuk diikuti. Walaupun nggak terlalu berisik dan bising, nuansa musik yang dibuat duo Mike dan Joe sangat flowly dengan filmnya, apalagi di bagian adegan action yang ada di film ini. Saya sampai terkesima dengan scoring yang dibuat Mike dan Joe, sampai Saya sendiri nggak sadar kalau ada adegan tambahan yang nggak ada di film “The Raid” rilisan Indonesia, kalau kalian mau menonton film ini perhatikan saja dimana letak adegan tambahan yang ada di “The Raid: Redemption“.

Overall, film action nggak harus dengan scoring musik rock cadas seperti film action pada umumnya, Mike dan Joe sekali lagi berhasil membuat film ini menjadi lebih seru dan menegangkan dengan scoring mereka. Mike Shinoda pernah bilang kalau dia nggak akan membuat music score jika filmnya dinilai biasa saja, berarti itu membuktikan “The Raid” adalah film dengan kualitas bagus dan Indonesia boleh bangga tentang itu. Bukan berarti scoring music oleh duo Fajar dan Yogi di film rilisan Indonesia nggak bagus, kita masih harus menghargai karya anak bangsa even itu di music score saja. We proud of Indonesian movie.

It’s Horror, No It’s Dark Comedy, No It’s Gothic Horror…Which One Is Right? Review of “Dark Shadows”

Tim Burton dikenal sebagai sutradara visioner dan selalu khas membawa unsur gothic – dark ke dalam filmnya. Karya-karyanya selalu membuat kita mencari DVD semua filmnya untuk dikoleksi. Saya ingat sekali waktu sutradara nyentrik ini membuat “Batman” (1989), film yang bagus dengan pembawaan suasana Gotham City yang gelap lalu melahirkan sequelBatman Returns” (1992) dengan penampilan total Michelle Pfeifer sebagai Catwoman. Apapun adaptasi yang dibuat film dengannya, selalu dibawa ke suasana yang ‘gelap’.

Sekarang, Tim mengadaptasi opera sabun horor yang pernah berjaya tahun 1966 – 1971 di chanel ABC. Ceritanya juga masih mengikuti opera sabunnya. Barnabas Collins (Johnny Depp), bangsawan pemilik Collinwood Manor yang dikutuk menjadi Vampir, terbangun dari tidur panjangya setelah 200 tahun terkunci di peti matinya. Dia mengalami cultural shock ketika kota kecil yang dibangun keluarganya, Collinsport, berkembang menjadi lebih modern. Dia terkubur pada tahun 1752 dan dia terbangun di tahun 1972. Barnabas bertemu dengan generasi terbaru keluarga Collins di rumah megahnya, yang ternyata membutuhkan bantuannya karena usahanya bangkrut. Barnabas yang masih cinta keluarganya, membantu menyelamatkan keluarga Collins yang terancam bangkrut. Angelique (Eva Green), seorang pengusaha yang berhasil menghancurkan bisnis keluarga Collins, ternyata otak dibalik itu. Termyata, Angelique adalah penyihir yang dengan sihirnya bisa bertahan sampai 200 tahun dan yang menyihir Barnabas menjadi Vampir. Selain menghadapi Angelique, Barnabas harus mempertahankan cintanya demgan pengasuh baru di Collinwood Manor, Vicky Winters (Bella Heathcoate), karena dialah keturunan dari cinta pertama Barnabas bernama Jossete.

Pembuka film ini awalnya menjanjikan, karena diceritakan tentang asal-usul Barnabas, kenapa dia dikutuk menjadi Vampir, dan juga asal usul keluarga Collins dengan dark mood yang menarik. Tapi, horor itu berubah menjadi komedi yang (jujur) menurut Saya nggak lucu sama sekali, tapi kebanyakan penonton waktu menonton film ini menganggap itu lucu. Mungkin adegan yang bisa membuat Saya tertawa waktu adegan bercinta Barnabas dengan Angelique yang melayang-layang dengan backsound lagu “My Everything” dari Barry White. Di tengah-tengah cerita, horor kembali muncul (walaupun nggak terlalu menegangkan) dengan kemunculan hantu Jossete yang dibuat dengan sentuhan efek vintage victorian ghost yang keren. Pacing dan flow cerita kemudian melambat, terlalu banyak dialog dan sepertinya Tim ingin membawa elemen opera sabun versi aslinya ke versinya dia, sayangnya menjadi terasa membosankan untuk di ikuti. Saya serasa waktu menonton film ini adalah perpadua film “Beetle Juice” (1988), “The Addams Family” (1991), dan “Death Becomes Her” (1992) yang menggabungkan horor dan komedi. Jika membandingkan ketiga film yang Saya sebutkan di atas, ketiganya masih konsisten untuk membuat dark comedy dari awal sampai akhir. Untuk “Dark Shadows“, sepertinya nggak bisa dibilang pure dark comedy karena kurang konsisten menampilkan humor dari awal sampai akhir, bahkan ada yang terlalu drama. Untuk sinematografi mulai dari setting dan mood sekaligus tone warnanya, Tim Burton masih bisa diacungi jempol karena menampilkan suasana yang sesuai dengan tahun 1752 dan 1972. Make-up para pemainnya juga berhasil memanjakan mata semua orang yang menontonnya karena semuanya dibuat sangat NIAT. Costume Designer by Collen Atwood yang berkaliber Oscar, menjadi nilai plus juga di film ini dengan kostum-kostum indahnya dengan vintage and victorian style yang serasa kita ingin sekali memakainya. Selain itu, akting para pemainnya juga nggak main-main, chemistry antar pemain yang memerankan karakter-karakternya sangat brilliant, terutama Chloe Grace Moretz yang sangat total memerankan Carolyn Collins yang hippies sekaligus rebel.

Overall, kalau kamu ingin memanjakan mata dengan setting gothic dark dan juga kostum beserta make-up yang indah di film ini, nggak ada salahnya menonton film ini. Tapi, jangan harap terpukau dengan flow ceritanya yang nggak jelas mau dibawa kemana genre film ini. Menurut Saya, ini karya gagal dari seorang Tim Burton walaupun nggak seburuk “Mars Attack!” (1996). Kalau seandainya film ini dibuat secara konsisten dengan satu genre dari awal sampai akhir, mungkin akan lebih menarik untuk dinikmati.

Anssembly Perfect!!! Review of “The Avengers”

Okay, mungkin Saya telat untuk me-review film kumpulan superhero Marvel yang spektakuler ini karena cuma satu alasan: HARUS NONTON DI IMAX. Saya sangat excited karena akhirnya IMAX ada di Jakarta setelah Keong Mas di TMII di bawah lisensi Cinema XXI. Walaupun masih satu studio dan lokasinya di Gandaria City, Saya nggak peduli yang penting harus nontn IMAX format 3D. Sayangnya, tiketnya selalu habis dan kali ini berkat antri dari jam 9 pagi, akhirnya kesampaian juga nonton IMAX. Sebenarnya Saya juga sudah menonton film ini dalam format Digital 3D (gara-gara kehabisan tiket IMAX), tapi tetap tulisan ini harus dibuat setelah nnonton di IMAX. Well, enough curhatnya sekarang let’s continue talking about this movie.

Bumi terancam bahaya, Loki (Tom Hiddleston) dari Asgard, datang ke bumi untuk menguasai dunia dengan cara membuka portal luar angkasa melalui medium Tessaract dan mendatangkan pasukan Chitauri miliknya. S.H.I.E.L.D yang dipimpin Nick Fury (Samuel L. Jackson) khawatir nasib umat manusia akan berakhir kalau Loki nggak dihentikan. Loki berhasil menmpengaruhi salah satu agen terbaik S.H.I.E.L.D, Clint Barton A.K.A Hawkeye (Jeremy Renner) dan salah satu ilmuwan S.H.I.E.L.D, Eric Selvig (Stellan Skarsgaard), untuk membantu usaha Loki menguasai dunia. Nick dibantu salah satu agennya Natasha Romanoff A.K.A Black Widow (Scarlett Johansonn) dan Agent Coulson (Clark Gregg), meyakinkan para manusia-manusia berkekuatan super seperti Tony Stark A.K.A Iron Man (Robert Downey, Jr), Steve Rogers A.K.A Captain America (Chris Evans), Bruce Banner A.K.A Hulk, dan Thor (Chris Hemsworth) untuk berperang melawan Loki. Loki ternyata mempunyai rencana tersembunyi yang berhubungan dengan salah satu superhero itu untuk melaksanakan niatnya. Pada akhirnya, para superhero yang tergabung dengan nama The Avengers ini harus berperang sampai kekuatan terakhir mereka untuk melawan tirani Loki sebelum umat manusia dilanda bahaya yang besar.

Dibuka dengan setting markas besar S.H.I.E.L.D dan kemunculan Loki, sukses menjadi adegan pembuka yang dahsyat. Kita dibuat terpukau dengan efek yang WAH di awal adegan. Lalu cerita berlanjut ke proses pengumpulan superhero yang harus saling menyesuaikan diri dan hampir berselisih satu sama lain. Full action dan penuh efek yang membuat kita sampai menganga karena terpukau pertarungan superhero melawan musuh yang sangat rapi. Walaupun di tengah-tengah cerita sedikit membosankan, justru itu yang harus kita perhatikan karena menceritakan kenapa mereka dikumpulkan untuk bergabung dalam The Avengers, begitu menuju penghujung film pertempuran besar-besaran yang spektakuler menjadi ‘santapan’ utama film ini. Joss Whedon berhasil membawa film ini menjadi lebih fun dan seimbang antara drama, action, dan komedi. Kita sukses dibuat tertawa dengan dialog cerdas sekaligus kekonyolan superhero yang nggak lebay tapi menghibur. Colbie Smulders sebagai Agent Maria Hill, sukses mencuri perhatian walaupun masih kurang tangguh dari Black Widow, sepertinya dia akan dipersiapkan untk lebih beraksi di sequel film ini, semoga bisa kejadian. Cerita “The Avengers” sangat setia dengan komik pertamanya yang terbit tahun 1963 dengan musuh utama Loki, walaupun cerita sedikit dirubah untuk menjembatani cerita film “Captain America: The First Avenger” dan “Thor” (bisa juga dibilang sedikit sequel dari dua film itu), supaya nggak melenceng dari premis awal cerita film “The Avengers“.

Overall, film satu ini ngak bisa kamu lewatkan begitu saja, Saya sangat menyarankan kalian menonton di IMAX 3D, karena experience gambar, suara, dan efek 3D nya lebih dahsyat dari format digital 3D. Jangan langsung beranjak dari kursi waktu film selesai, karena ada post credit scene yang nggak disangka. Well, kira-kira siapa lagi superhero Marvel yang akan bergabung di sequelThe Avengers“? Spider-Man? Wolverine? Atau mungkin Ant-Man? Yang pasti sequel-nya nanti harus lebih dahsyat.

 

Be Affraid of “Killer Joe”

Waktu lihat poster film ini apa yang Saya ingin segera melihat film ini adalah tagline-nya: “Murder Never Tasted So Good“. This gonna be crazy thriller-action movie in my mind, apalagi memasang Matthew McConaughey sebagai bintang utama di film ini. Dibesut oleh sutradara William Friedkin yang pernah mengarahkan Linda Blair di film “The Exorcist” (1974), pastinya kita nggak akan ragu dengan film ini melihat hasil “The Exorcist” sangat bagus.

Cerita film ini berfokus dengan seorang drug-dealer berusia 22 tahun bernama Chris (Emile Hirsch), yang harus mencari uang 6 juta dollar karena dagangannya dicuri ibunya, kalau uang itu nggak ada dia akan mati. Chris terpaksa menemui ayahnya dan membicarakan permasalahannya, sampai akhirnya membahas seseorang bernama Killer Joe (Matthew McConaughey), seorang detektif yang bisa disewa untuk membunuh. Siapa sebenarnya Killer Joe?

Premis ceritanya ringan, tapi film ini banyak pujian dari banyak kritikus. Terutama, yang paling dipuji adalah akting Matthew McCounaghey yang total di film ini. Saya sendiri belum melihat filmnya, tapi begitu melihat trailer-nya sepertinya ini akan menjadi film yang brutal apalagi dengan rating NC-17 dengan disturbing pictures. Pastinya, kalau kamu suka dengan film thriller-action jangan lewatkan yang satu ini. Review coming soon when I already watch this movie. Can’t wait.