First Trailer of “Prometheus”

Lupakan bakal dibuat film “Alien 5“, sekarang siap-siap dihajar franchise Alien yang sudah fix, “Prometheus“.

Disutradarai oleh Ridley Scott yang juga membuat film “Alien” tahun 1979, film ini merupakan prequel dari “Alien“. Yang namanya prequel, pastinya akan dibawa sebelum kejadian di film “Alien” dan menceritakan asal mula sang Alien itu sendiri, Prometheus.

Dirilis untuk Summer Movies tahun depan, first trailer ini dibuat dengan keren dengan menyusun huruf dari judul film itu sendiri. Sepertinya Ridley Scott masih ingin mempertahankan style di film “Alien“yang khas  dengan petualangan sci-fi outer space yang cukup menjanjikan dengan setting 2085.

Di sini tidak akan ada Ellen Ripley yang menjadi icon untuk franchise “Alien”. Kalian bakal gigit jari. Tapi, kekecewaan itu bakal hilang karena didukung casts yang keren seperti Noomi Rapace, Michael Fassbender, Idris Elba, Charlize Theron, dan Patrick Wilson. Mari menikmati trailer pertamanya di bawah ini, enjoy!!!

Advertisements

Review of “FISFIC 6.1”

Setelah disaring dari 25 besar menjadi 6 besar, akhirnya kumpulan 6 film dari finalis FISFIC (Fantastic Indonesian Short Film Competition) dikumpulkan menjadi satu dalam bentuk Omnibus.

Kumpulan film pendek yang diproduksi oleh Lifelike Pictures ini dirilis hanya di INAFFF 2011 dan juga diedarkan dengan format DVD oleh Jive. Dengan mentor yang absolutely brilliant seperti Gareth Evans, Joko Anwar, The Mo Brothers, Ekky Imanjaya, dan Eddy Rusly, ke-6 film dari 6 finalis ini patut diacungi jempol, dan menandakan kebangkitan film horor/thriller Indonesia yang selama ini menurun kualitasnya.

Dengan budget 10 juta, masing-masing finalis berjuang untuk menghasilkan karya yang baik. Tapi, walaupun bisa dibilang jauh dari film horor mainstream Indonesia pada umumnya, ada beberapa kekurangan juga yang ada di masing-masing film pendek ini. Let’s review one by one, but please no hard feeling about the review.

MEAL TIME (Written by Ian Salim and Elvira Kusno, Directed by Ian Salim)

Sebuah rumah tahanan yang dijaga oleh sipir Sutisna (Abimana), tiba-tiba dihadapi kericuhan. Semua tahanan yang ada di sana satu-satu tewas mengenaskan. Ternyata ada makhluk yang suka memakan otak manusia, dan diduga menyamar menjadi salah satu sipir di rumah tahanan itu. Ian Salim dan Elvira Kusno kembali unjuk gigi dalam membuat film pendek yang kali ini mengandalkan unsur misteri dan berdarah-darah, setelah sebelumnya sukses dengan film pendek “Yours Truly“. Sebagai film pembuka, Elvira dan Ian berhasil membuat penonton tegang akan jalan cerita yang mengalir dengan sempurna. Misteri demi misteri terkuak dalam film ini, dan suspense untuk film ini brilliant. Sayangnya, kita masih dibuat penasaran apa (atau siapa) makhluk itu sebenarnya. Ending yang kurang menggigit sebenarnya, tapi bisa ditutup dengan ketegangan dan twist yang jadi andalan di film ini. Ada yang sudah bisa menebak makhluk apa di film ini? There’s no answer yet.

RENGASDENGKLOK (Written by Yonathan Lim, Directed by Dion Widhi Putra)

Kisah ini terjadi pada waktu sehari sebelum pengumuman proklamasi kemerdekaan suatu bangsa. Tim pasukan penyelamat, ditugaskan untuk menjemput presiden sebelum sampai di lokasi pembacaan proklamasi. Tapi ternyata peristiwa sejarah yang tidak tertulis di mana pun, terkuak di sini. Ide cerita bagus, tapi eksekusi film ini sangat lemah. Dimulai dari zombie-zombie yang over-acting dan make up effect yang terlihat seperti tempelan, sampai akting para pemainnya yang kaku. Mungkin bermaksud ala ala Resident Evil, tapi tidak ada ketegangan yang bikin greget di film ini. Truly zombie failed.

RECKONING (Written by Zavero G. Idris and Katharina Vassar, Directed by Zavero G. Idris)

Di sebuah rumah yang ditempati sepasang suami istri tiba-tiba kemasukan 3 orang penyusup. Tampaknya seperti perampok, ternyata ‘mereka’ bukan manusia biasa. Film ini it’s so Hollywood, dan mencoba mengangkat mitos Lilith. Format hitam putih membuat ketegangan film ini memuncak. Tapi sayangnya, film ini banyak menggunakan dialog bahasa Inggris (malah hampir di setiap dialog). Sebenarnya tidak apa-apa menggunakan bahasa Inggris, but at least please use subtitle, karena nggak banyak yang ngerti Bahasa Inggris lho. Akting para pemainnya keren, dan cerita mengalir begitu sempurna. Apalagi adegan penyayatan perut (spoiler alert), bikin miris. Well Zavero, nice work, I know you can’t speak in Bahasa, next time use subtitle, yes.

RUMAH BABI (Written by Harry Setiawan, Directed by Alim Sudio)

Seorang wartawan bernama Darto (Anwari Natari) sedang melakukan investigasi di sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga Tionghoa. Keluarga itu suka memelihara babi dan menjadi bahan makanan sehari-hari. Darto merasa ada yang aneh di rumah itu dan juga keluarga yang menempatinya. Dengan kameranya sebagai saksi yang merekam semua kejadian di rumah itu, misteri pun terkuak. Okay, mari kita kenalan sama Alim Sudio, kalau yang masih asing dia itu yang menulis skenario untuk film horor cupu “Setan Budeg” dan “Air Terjun Pengantin”. Begitu dia direct film ini, hasilnya NO CUPU!!! Horor nya bikin takut setengah mati dan rasanya ingin menutup mata terus waktu menyaksikannya. Apalagi ditambah penampakan hantu nya yang dijamin bikin kamu ketakutan. Mamang BABI, film ini seram banget.

EFFECT (Written By Adriano Rudiman and Leila Safira, Directed by Adriano Rudiman)

Eva (Tabitha), karyawan muda yang selangkah lagi akan mendapatkan jabatan yang diinginkannya mendadak harus gigit jari karena harapan itu semuanya hilang gara-gara atasannya yang menyebalkan, Lenny (Sita Nursanti). Larut dalam kekecewaannya, Eva menemukan website yang mempunyai jasa melenyapkan orang yang dibenci, http://www.effect.org. Awalnya semua dianggap joke, tapi itu adalah awal mimpi buruk. Melihat film ini seperti perpaduan antara “Death Note” versi online dan dicampur elemen “Final Destination“, dimana cara kematian yang ditunjukkan di sini sangat detail. Ide cerita ini sebenenarnya sudah banyak dipakai untuk film Asia dan Hollywood seperti contoh di atas atau mungkin yang pernah lihat ada film Jepang berjudul “Pulse”. Format audio WAV untuk film ini agak annoying karena terlalu bising dan pecah, malah terkesan kurang editing di suara sekaligus tidak smooth. Tapi jangan lupakan akting Sita Nursanti yang berperan menjadi bos ibu-ibu yang rasanya pingin beneran dibunuh itu brilliant. Well, patut diakui juga Indonesiaternyata bisa membuat rancangan kematian ala “Final Destination” dengan sama bagusnya.

TAKSI (Written and Directed by Arianjie AZ and Nadia Yuliani)

Inilah finalis FISFIC 6.1 yang berhasil menjadi juara untuk membuat proyek film pendek bersama Gareth Evans, Joko Anwar, dan The Mo Brothers dalam satu rangkaian Omnibus persembahan Lifelike Pictures yang rencananya dirilis tahun 2012. Taksi adalah thriller yang menceritakan tentang seorang cewek bernama Vina (Shareefa Daanish) yang pulang lembur tengah malam, terpaksa harus menaiki taksi gelap karena tidak ada lagi kendaraan umum yang tersisa. Perjalanan pulang Vina dihadapkan dengan kejadian mencekam. Cocok banget jadi juara, karena dari semua film pendek yang ada di FISFIC 6.1, ini adalah yang terbaik. Ketegangan demi ketegangan di sepanjang perjalanan menaiki taksi membuat kita takut menaiki taksi malam-malam. Apalagi ditambah akting Daanish yang super brilliant setelah peran Dara. Cerita yang simple tapi digarap dengan sempurna, eksekusi yang luar biasa. Ini baru film thriller INDONESIA.

Yup, itu dia review ke-6 film di FISFIC 6.1. Buat yang belum nonton, langsung dibeli DVD nya di toko home video terdekat. Semoga tahun depan ada lagi kompetisi ini, supaya bisa menambah kualitas film horor/thriller Indonesia menjadi lebih berkualitas.

Review of “The Raid”

Gareth Evans kembali membuat film yang mengandalkan action setelah “Merantau”. Kali ini dia mengangkat tema tentang penyerbuan SWAT team ke sarang bandar narkoba. Film ini sukses mendapatkan penghargaan tertinggi di ajang Toronto International Film Festival 2011 di segmen Midnight Madness dan juga berjaya di ajang international film festivals lainnya.
Waktu diputar di INAFFF 2011 November kemarin sebagai closing film, antusias penonton luar biasa karena tiket langsung habis dalam waktu sekejap.Awalnya Sedikit pesimis sebelum melihat film ini, karena awalnya berpikir hasilnya pasti biasa saja. Tapi begitu melihat dengan sendirinya, mulut langsung menganga.

Gareth berhasil membuat film ini sangat detail. Adegan fighting dan shooting guns sequence membuat kita yang melihat seperti real sekaligus rapi. Ceritapun mengalir dengan sempurna lengkap dengan kejutan tak terduga di akhir film. Karakter Mad Dog yang dimainkan Yayan Ruihan berhasil mencuri perhatian, surely this man can act and fight very brilliant. Sayangnya, Iko Uwais sebagai tokoh utama akting-nya kurang menggigit dan sedikit kaku. Walaupun kurang, bisa ditutupi dengan aksinya waktu melakukan adegan pencak silat menghajar para gembong narkoba. “The Raid” bahkan tidak kalah bagusnya dengan film-film action kelas atas Hollywood ala Jason Statham. You will not regret watching this movie.

Berkat kesuksesan “The Raid” di ajang Internasional, Sony Pictures Classic membeli hak edarnya untuk peredaran rilis di Amerika. Sony memilih Mike Shinoda untuk membuat music score untuk peredaran film ini di Amerika. Selain itu, Hollywood sudah memutuskan untuk membuat ulang film ini dibawah naungan Screen Gems Pictures yang merupakan anak perusahaan Sony Pictures dan Gareth Evans akan menjadi Executive Producers sekaligus Iko Uwais dan Yayan Ruhian menjadi Action Choreographer.

Fighting Sequence Iko Uwais melawan gembong narkoba di film “The Raid”

Gareth Evans sendiri ingin membuat semua orang di dunia melihat kalau Indonesia juga punya seni bela diri Pencak Silat yang juga bisa dipakai untuk adegan film action. Selama ini kita melihat kalau elemen fighting sequence di film action selalu memakai seni bela diri kung-fu.

Well, sekarang pertanyaannya, apakah nantinya versi Hollywood “The Raid” akan sebagus prodesor-nya? Melihat banyak kualitas remake film Asia Hollywood mengecewakan pasca “The Ring“. Dan siapa yang akan menggantikan peran Iko Uwais? Mark Wahlberg, Jason Statham, Liam Hemsworth, Chris Hemsworth, atau Chaning Tatum? Just Wait and see.

“The Raid” akan beredar di bioskop Indonesia dan Amerika bulan April 2011

 

Greetings from MovTastic

Hello fantastic lovers,
Buat kamu yang baru saja membuka blog ini, congrats you are the first one to open this blog. Horraayyy!!!!

Okay, kenapa blog ini dibuat? Simple saja, admin yang membuat ini suka banget sama film bergenre Fantastic (Horor, Thriller, Sci-Fi, Anime, Fantasy, Gore, Action, dan Fantasy), even dia juga pecinta film berbagai genre (termasuk adult). Keputusan lainnya karena dia ingin sekali memberikan informasi tentang news, upcoming movie, sampai review film fantastic genre.

Banyakk yang beranggapan film ber-genre fantastic selalu jelek dan dibilang sama saja dengan film kelas B. Well, mungkin pandangan itu benar, tapi walaupun kelas B dan berbudget murah, tidak semuanya dibilang jelek. Banyak film ber-genre fantastic yang sukses di pasaran bahkan ada yang masuk box office. Indonesia sendiri juga sudah sukses dengan genre-genre fantastic yang mereka buat (minus film horor yang isinya mengandung sex dan pocong) dan sudah masuk di berbagai festival film di Internasional.

So, tidak usah berpanjang lebar lagi soal greetings, saatnya kalian membuka lebar mata kalian terhadap pandangan tentang film Fantastic. Happy reading and enjoy the blog. Let The Fantastic begin!!!

*layout blog ini simple dan tidak aneh-aneh, karena admin sendiri sedikit gaptek buat mengutak atik blog-nya harap maklum. Yang penting isinya menarik dibaca. Begitu katanya. 😀