James Bond With A Touch Of Drama But All GREAT. Review of “Skyfall”

Nggak kerasa usia karakter fiktif terkenal James Bond karya novelis Ian Fleming ini sudah berumur 50 tahun sejak karakter ini mulai difilmkan. Pertama kali diperkenalkan di layar lebar dengan Sean Connery sebagai James Bond lewat “Dr. No” (1962), tokoh ini langsung disukai pecinta film dan punya fanbase sendiri. Berbagai generasi sudah memerankan James Bond setelah Sean Connery mulai dari Roger Moore, Timothy Dalton, George Lazenby, Pierce Brosnan, dan sekarang yang lebih garang Daniel Craig. Sejak muncul di “Casino Royale” (2006), sosok baru James Bond yang garang ini tambah disukai, membuktikkan kalau Daniel Craig berhasil membawa karakter james Bond menjadi lebih fresh. Setelah “Quantum Of Solace” (2008), sekarang James Bond beraksi lagi lewat “Skyfall” yang kali ini dijanjikan lebi punya sisi drama yang kelam tanpa harus meninggalkan action khas James Bond dengan sutradara peraih Oscar, Sam Mendes.

James Bond a.k.a 007 (Daniel Craig) sedang melakukan misi di Istanbul bersama agen MI6 Eve (Naomie Harris). Dalam misinya mengejar penjahat bernama Patrice (Ola Rapace), Bond tertembak dan dinyatakan tewas dalam misi. Sedangkan M (Judi Dench), harus menghadapi terror masa lalunya yang bisa mengancam nyawanya. Teror dimulai ketika kantor MI6 dibobol dan diledakkan, M harus memutar otak dan mengusut siapa dalang semua ini. Ternyata, Bond nggak tewas, dia masih hidup dan menyendiri. Ketika dia tahu kantor MI6 diserang, dia kembali ke London untuk membantu M mencari tahu apa motif sang teroris. Kali ini kesetiaan James Bond dengan M diuji, walaupun harus mengetahui masa lalu M yang penuh kejutan yang juga menyangkut dirinya.

Okay, here’s the review. Film James Bond ini bisa dibilang menjadi salah satu film James Bond yang terbaik. Sam Mendes berhasil membawa film ini lebih kelam dengan sentuhan drama. Memamg villain yang ditampilkan di sini lebih melakukan aksinya karena urusan personal bukan yang terlalu tembak-tembakan ke arah sadis. Intrik dari pertengahan film menuju akhir membuat kita nggak bisa melewatkan satu dialog karena permasalahan dan konklusi yang ada di dialog. Twist yang seru dan juga di akhir film membuat film ini menjadi utuh. Sampai banyak yang berkata ‘oohhh ternyata selama ini itu si dia… well, itu karakter tersembunyi yang akhirnya muncul lagi. I’m not gonna say in here. Javier Bardem keren sekali memerankan main villain yang penuh intrik, you will love him.

Overall, nggak bisa dilewatkan film ini. Kalau ingin lebih seru dan menikmati keindahan landscape sinematografi serta suara yang dahsyat, better watch in IMAX. Dan Saya sudah nggak sabar untuk menantikan petualangan James Bond selanjutnya. Go BOND!!!

Advertisements

It Makes You Scare About The ‘Jumping’ But It’s All Predictable. Review of “Paranormal Activity 4”

Teknik found footage lagi-lagi jadi hype di perfilman Hollywood, apalagi dengan genre horor dan thriller menjadi jualan utama untuk menambah kengerian penonton sewaktu menonton film itu. Pertama kali, film found footage dibuat ada di film “Cannibal Holocaust” (1980) dengan kesadisan penuh eksplisit di film ini tapi sampai sekarang dicari oleh penggemar film gore. Kesuksesan itu juga melahirkan film “The Blair Witch Project” (1999) yang pada awalnya tertipu karena itu adalah kejadian nyata karena menampilkan wawancara di sebuah acara TV (sebelum film itu rilis) yang mengaku anggota keluarganya hilang, padahal itu adalah viral marketing untuk mempromosikan film ini, tapi tertipu pun penonton merasa puas karena walaupun horor tapi menampilkan cerita yang bagus serta kengerian yang luar biasa bikin kaget. Sekarang, ada “Paranormal Activity” film berbudget sangat kecil tapi menjadi box office hits karena bukan ‘penampakan’ yang jadi jualan tapi fenomena layaknya ‘uji nyali’ yang membuat film ini punya nilai plus. Kesuksesan itu menjadikan sequel yang sekarang sudah masuk angka 4. Are we still scare to watch this?

Sekuel kali ini menceritakan 5 tahun sejak insiden di film “Paranormal Activity 2”, ketika Katie dan keponakannya, Hunter, hilang. Sebuah keluarga yang tampak baik-baik saja harus menghadapi fenomena gaib sejak kedatangan anak kecil yang menginap di rumahnya bernama Robbie. Keluarga itu terpaksa menerima Robbie yang tinggal di seberang rumah mereka karena ibunya masuk rumah sakit. Suara-suara mengganggu sampai kekerasan fisik yang nggak lazim dialami keluarga itu dan sepertinya incaran utamanya adalah Wyatt, anak kecil yang merupakan anak paling kecil di keluarga itu.

Okay, here’s the review. “Paranormal Activity” 1 dan 2 memang diakui bagus dan nggak terkesan scripted. Itu yang membuat film ini mempunyai nilai lebih untuk sebuah film horor yang menegangkan. Masuk ke “Paranormal Activity 3” yang merupakan prequel, walaupun ada bagian yang membuat kita ketakutan, tapi sudah terlihat kalau itu scripted, nggak ada lagi kejutan-kejutan seru seperti film pertamanya. Yang ke-4 ini justru lebih biasa saja, banyak adegan yang hanya mengagetkan tapi semua adegan sampai akhir bisa diprediksi, dan nggak ada kejutan-kejutan lainnya yang membuat film ini seperti horor ‘garing’. Walaupun teknik pengambilan kameranya nggak hanya handycam saja dan menggunakan kamera laptop, tetap saja masih kurang menggigit untuk sebuah film horor.

Overall, film yang biasa saja dan tetap akan dibuat sequel nya. Kalau yang belum menonton film ini, siap-siap kecewa tapi begitu filmnya selesai jangan beranjak dulu dari kursi kalian karena ada post credit scene selama 30 detik yang berbahasa Spanyol.