First Trailer “House At The End Of The Street”

 

Sejak bermain bagus di “Winter’s Bone” dan dihargai dengan nominasi Best Actress In A Leading Role di ajang Academy Awards 2011, Jennifer Lawrence menjadi favorit produser dan juga sutradara Hollywood untuk ermain di film-film mereka. Setelah menjadi Mystique di “X-Men: First Class” dan bertarung sampai mati di “The Hunger Games“, kali ini Jennifer akan menunjukkan kemampuan akting nya sebagai cewek yang mengalami horor di rumahnya di film besutan sutradara Mark Tonderai, “House At The End Of The Street“.

Mungkin lokasi rumah sebagai tempat teror dan horor sudah sangat common karena sering sekali filmaker Hollywood mengambil tema ini sebagai setting seperti “Silent House” dan “The Amityville Horror“. Tentunya kalau megangkat tema rumah sebagai setting horor atau teror filmaker harus pintar mengolah cerita lebih fresh dan harus punya twist yang nggak terduga. Well, semoga di film ini bisa membuat kamu tambah ketakutan dan menjadi paranoid dengan apa yang disebut rumah.

Film ini menceritakan tentang seorang keluarga yang pindah ke rumah barunya dan bertetangga dengan rumah di ujung jalan. Rumah tetangga itu punya cerita yang nggak diharapkan, katanya ada cewek berusia masih belia yang mati dibunuh. Ketika tokoh yang diperankan Jennifer Lawrence menyukai penghuni cowok di rumah itu yang ternyata adalah kakak sang cewek yang dibunuh, dia terseret dengan masa lalu yang kelam dan misteri dibalik pembunuhan itu.

Trailer pertama yang di publish punya flow flashback rewind yang menarik. Adegan trailer pertama menunjukkan wajah Jennifer yang ketakutan lalu memecahkan kaca, lalu adegan rewind yang mengajak kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Strategi promosi dari trailer yang jarang digunakan dan pastinya kita akan dibuat penasaran dengan jalan cerita yang ada. Mark your date for this movie 21st of September 2012, dan enjoy trailer dari film ini.

 

Facing Your Worst Nightmares. Review of “HI5TERIA”

Bosan dengan serangan film horor mainstream yang ‘mengawinkan’ horor atau thriller dengan kevulgaran? You don’t have to be worry, karena Starvision dan UPI production ‘mengabulkan’ pemberontakan kamu dengan film bergenre mainstream dengan cerita yang biasa-biasa saja itu. “Hi5teria”, nama judul film bergenre horor ini, memakai angka ‘5’ untuk mengganti huruf ‘S’ bukan terkesan bahasa alay, tapi untuk menegaskan bahwa ini adalah film omnibus dengan 5 cerita. Setiap segmen mempunyai cerita yang berbeda memadukan mitos, urban legend, dan kejadian sehari-hari. Saya sebagai penggemar film horor, terhibur sekali dengan film ini karena menambah ketegangan waktu menontonnya. Dan inilah review untuk setiap segmen di film ini. Warning it may contain spoiler.

Pasar Setan (Directed by Adriyanto Dewo)

Buat para pendaki gunung, pastinya tahu tentang desas desus ‘Pasar Setan’. Konon, jika sedang mendaki di tengah hutan gunung tersebut, bakal terdengar sayup-sayup suara ramai layaknya pasar, dan jika masuk ke ‘Pasar Setan’ itu bakal terseret ke dimensi lain dan nggak pernah ditemukan. Itulah premis yang diangkat untuk film ini, Sari (Tara Basro) sedang mendaki gunung bersama pacarnya. Tapi di tengah pendakian, Sari terpisah dengan pacaranya. Sari terus mencari pacarnya dan bertemu Zul (Dion Wiyoko) yang sedang melakukan pendakian pertamanya. Zul mendengar suara-suara keramaian seperti berada di pasar. Zul berusaha mendekati sumber suara itu walaupun sudah diperingatkan oleh Sari, tapi semuanya terlambat.

Urban legend ini sampai sekarang masih sering dibicarakan untuk para pendaki gunung, dan menjadi sebuah warning. Saya suka ide ceritanya dan punya twist menarik di dalamnya. Tapi ada satu kelemahan yang ada di segmen ini, yaitu kurang digambarkan dengan jelas ‘Pasar Setan’-nya itu sendiri. Visualisasi Pasar Setan hanya sedikit dan cuma difokuskan tentang pencarian orang dan bagaimana cara keluar dari gunung itu. Padahal, akan lebih menarik lagi jika divisualisasikan lebih jelas untuk ‘Pasar Setan’-nya itu sendiri.

Wajang Koelit (Directed by Chairun Nissa)

Seni tradisional Indonesia sunnguh kaya dan selalu menarik jika diangkat ke medium literatur tulisan atau film. Salah satu seni itu adalah dari Jawa, wayang kulit. Tradisional nggak lepas dari mistik, terutama memang kebanyakan seni tradisional jawa itu punya nilai mitos dan mistik yang selalu turun temurun dipercaya oleh masyarakat Jawa itu sendiri yang akhirnya dikenal dengan kepercayaan Kejawen. Segmen ini menggambarkan kemistikan itu, Nicole (Maya Otos), jurnalis asing yang datang ke Jawa Tengah untuk membuat tulisan tentang Wayang Kulit. Seiring berjalannya tentang riset Wayang kulit nya, Nicole tiba-tiba terseret ke dunia mistis yang membuatnya ketakutan sehingga akhirnya dia menyadari kalau dia dalam bahaya besar.

Sebagai orang Jawa, Saya suka sekali dengan jalan cerita yang ada di segmen ini, bahkan salah satu keluarga Saya pun punya kepercayaan Kejawen jadinya apa yang Saya lihat di film ini hampir mendekati dengan kenyataan walaupun dibalut dengan cerita fiksi. Skenario yang brilian dengan twist yang membuat merinding menjadi kelebihan untuk segmen ini. Maya Otos yang Saya kenal sebagai komedian bermain bagus di sini, bahkan Saya sampai lupa kalau dia sebenarnya komedian. Walaupun ‘dedemit’ nya hanya bayangan, cukup membuat kamu parno untuk menonton pertunjukan Wayang Kulit yang sebenarnya.

Kotak Musik (Directed by Billy Christian)

Apartemen sepertinya menjadi hunian praktis yang jadi favorit kebanyakan orang untuk berlindung dari badai dan hujan (berat amat bahasanya). Tapi, jangan sedih, setiap apartemen selalu punya lantai yang…..angker. Okay, segmen ini menggambarkan kengerian yang dialami seorang cewek yang tinggal di apartemen. Farah (Luna Maya) seorang dosen yang nggak percaya dengan hal-hal supranatural membuktikan dalam sebuah buku karyanya “There is No Ghost”. Dia menjelaskan kalau hantu itu berasal dari pikiran manusia saja. Waktu riset bersama salah satu mahasiswanya, Teddy (Kris Hatta) untuk membuktikkan penampakan hantu di salah satu rumah tua, Farah menemukan kotak musik di sana. Waktu dibawa pulang, justru dia didatangi hantu anak kecil yang terus mengajaknya main, masih nggak percayakah dia dengan hantu? Atau dia juga harus sadar bahwa ada yang harus ditakuti lebih tinggi, yaitu Tuhan? Saya menjadikan segmen ini paling favorit, karena Saya jadi ‘parno’ tinggal di apartemen sendirian (I hate that, saya penakut soalnya). Selain itu, cerita ini menggabungkan nalar manusia, kepercayaan, science, dan hal gaib dibalut sedemikian rupa menjadi kesatuan cerita yang  membuat kita berpikir logis. Saya setuju, setan anak kecil itu lebih menakutkan daripada kuntilanak.

Palasik (Directed by Nicholas Yudifar)

Pelesit (bahasa Minangkabau: Palasik), adalah kepercayaan orang Minagkabau dan Melayu dengan sosok makhluk gaib. untuk adat Minang, Palasik dianggap sebagai manusia yang punya ilmu hitam. Sosok ini ditakuti oleh ibu hamil karena makanan Palasik itu adalah bayi atau janin yang masih di dalam rahim. Sosok Palasik digambarkan dengan kepala terbang. Ini adalah inti cerita dari segmen ini, seorang ibu hamil (Imelda Therine) sedang berlibur ke sebuah villa di dataran tinggi untuk berlibur dengan keluarganya. Liburan yang tenang itu berubah menjadi mimpi buruk karena terror kepala terbang yang terus mengejarnya, pada akhirnya dia harus terkejut dengan misteri kepala terbang itu.

Sama halnya dengan “Wajang Koelit” segmen ini menceritakan tentang mistik tradisional. yang paling menarik dari cerita ini, manusia lah hantu yang sebenarnya dengan ilmu hitam sebagai pesugihan. Ending film ini punya kejutan yang dijamin kamu bakal kebayang-bayang terus sosok palasik nya, dan disarankan…..jangan bawa ibu hamil kalau lagi berlibur ke villa.

Loket (Directed by Harvan Agustriansyah)

`

Menurut rumor yang beredar, katanya kalau parkir di lantai basement suka ada cerita hantu. Hmmm….kurang lebih rumor itu yang diangkat di segmen ini. Seorang penjaga loket (Ichi Nuraini), yang bertugas di parkiran basement tiba-tiba mengalami kejadian aneh. Dia didatangi hantu perempuan tua yang tampaknya dendam kepadanya. Penjaga loket itupun berusaha mengorek siapa hantu itu, dan ternyata semua itu di luar dugaannya.

Cerita segmen terakhir ini sangat sederhana dan punya setting yang cuma satu saja. Ide sederhana yang pintar tentang kengerian yang ada di parkiran basement. Sayang sekali, jalan ceritanya kurang jelas dan sepertinya sangat tanggung untuk menjadi penutup omnibus ini.

Overall, film omnibus ini worth to watch buat kamu yang suka dengan film horor. Uniknya film ini mmbuat kita tetap ketakutan walaupun setting-nya di siang hari dan tata lampunya terang, nggak seperti film horor lainnya yang selalu remang-remang. Upi sebagai produser rencananya akan membuat omnibus ini secara tahunan dengan cerita yang berbeda lagi. Sepertinya, genre film horor dibuat seperti ini dan yang mainstream mengandalkan cewek seksi dan vulgar semata harusnya dihentikan.