Scary Image of Sadako Was Gone. Review of “Sadako 3D”

Koji Suzuki yang sekarang sudah berumur 55 tahun, menggebrak dunia dengan novel berjudul “Ringu” yang dia tulis, novel horor ini laris di pasaran dan menjadi best seller di Jepang. Tahun 1998, adaptasi novel itu diangkat menjadi film dengan judul sama dan lahirlah icon hantu Jepang dengan rambut panjangnya keluar dari layar TV bernama Sadako. Kesuksesan film ini melahirkan sequel “Ringu 2” (1999) dan juga “Ring 0: Birthday” (2000) yang juga sukses di Jepang dan banyak dicari pecinta horor Asia di seluruh dunia. Kesuksesan “Ringu” membuat Hollywood membuat ulang film itu dengan judul “The Ring” (2005) dengan sutradara Gore Verbinski dan dimainkan oleh Naomi Watts. Siapa sangka kalau remake itu sukses besar, menggantikan nama Sadako menjadi Samara, dilanjutkan dengan “The Ring Two” (2005) dengan berganti sutradara menjadi sutradara asli “Ringu“, Hideo Nakata. Walaupun, mendapat kritik yang buruk, tetap saja sequel ini masih sukses secara finansial. Kali ini, Koji Suzuki menulis lagi novel berjudul “S“, yang menceritakan kutukan Sadako masih berlanjut dengan medium baru dan juga video kutukan baru. Dan lahirlah “Sadako 3D“, yang diangkat dari novel terbaru Koji Suzuki itu.

Akane (Satomi Ishibara), seorang guru SMA yang pendiam, tiba-tiba dikejutkan dengan kematian salah satu muridnya karena bunuh diri. Akane nggak percaya itu bunuh diri, karena muridnya itu adalah murid yang ceria. Terakhir, yang dia tahu muridnya itu menonton sebuah video yang menampilkan seorang cowok yang bunuh diri, dan itu dipercaya sebagai video kutukan karena siapapun yang menontonnya akan mati. Awalnya, Akane nggak percaya akan video itu, tapi ketika dia menyelidiki sendiri, dia dalam bahaya sekaligus pasangannya Takanori (Koji Sato) juga terancam mati. Dengan inisial “S” yang disebutkan oleh cowok yang ada di video itu, Akane menguak misteri video itu dan mencegah inisial “S” yang ternyata adalah Sadako.

Okay, here’s the review. Antusias adalah kata yang tepat buat Saya (dan para penggemar Sadako tentunya), menunggu film ini dan kita semua tahu kalau “Ringu” adalah salah satu film horor terbaik Jepang yang sukses bikin ketakutan. Melihat film terbaru Sadako ini, antusias Saya berubah menjadi kekecewaan besar. Sebenarnya, ada yang logis dari cerita film ini untuk menggambarkan masa modern, yaitu video yang tersebar melalui You Tube dan bisa diakses dari laptop atau smartphone. Itu saja yang logis, keseluruhan cerita menjadi dipaksakan dan video kutukan yang sudah dibentuk dari awal mengerikan, berubah menjadi video bunuh diri cowok stress yang nggak seram sama sekali. Efek 3D nya memang bagus, kita akan diberikan sensasi gambar keluar layar, hanya saja terlalu banyak adegan 3D slow motion yang berlebihan dan diulang-ulang, jangan lupa juga Sadako yang keluar layar tapi hanya tangan dan setengah badan saja dan terus begitu. Penggambaran Sadako di film ini jauh berbeda dan jauh dari kata seram dibandingkan versi pertamanya, Sadako nya jadi banyak dan seolah-olah Sadako tertular T-Virus atau sosok makhluk gaib seperti di “Silent Hill“. Dan ending film ini kurang penjelasan, kenapa Sadako dibangkitkan lagi, lalu apa sebenarnya hubungan Akane dan Sadako, lalu siapa sebenarnya sesosok wanita di akhir film. Well, citra Sadako sebagai hantu Jepang seram hilang sudah di film ini, bukannya takut tapi bisa juga mengundang tawa sekaligus kekecewaan.

Overall, film yang nggak istimewa untuk ukuran J-Horror. Mereka merusak citra hantu andalan mereka sendiri lewat film ini. Seharusnya, video yang ditampilkan bisa lebih seram atau bisa juga tetap menampilkan kengerian video yang ada di “Ringu“. So Sadako fans and J-Horror fans, I really highly not recommending this movie to watch on cinema, just watch it on DVD.

A Silly Story About Nazi. Review of “Iron Sky”

Nazi sepertinya masih seru untuk diangkat ke medium film. Apalagi dengan twist story yang kita saja sebagai orang awam nggak kepikiran, salah satu contoh adalah film produksi Norwegia “Dead Snow” (2009) karya sutradara Tommy Wirkola, yang menceritakan tentara Nazi menjadi zombie dengan menggabungkan horor dan komedi. Sekarang, genre sci-fi dimasukkan ke film arahan sutradara debutan, Timo Vuorensola. Film ini juga hasil ‘patungan’ dari tiga negara yaitu Australia, Finlandia, dan Jerman. Selain itu, film ini berhasil masuk official selection di Berlin International Film Festival 2012.

Tahun 2018. seorang astronot terbang keBulan. Ternyata, dia menemukan kalau ada sebuah benteng yang dibangun di sana. Setelah diselidiki, benteng itu adalah markas Nazi yang sudah bersembunyi sejak tahun 1945. Ternyata, selama persembunyian lama Nazi di Bulan, Nazi ingin menguasai bumi dengan peraturan kolot dan peralatan kuno tapi canggih yang akan mengancam kehidupan manusia. Bahkan, politik Amerika pun juga melakukan sedikit kerjasama dengan Nazi, sampai pada akhirnya peperangan besar terjadi.

Okay, here’s the review. Premise yang di-published awalnya sangat seru untuk membuat rasa penasaran untuk menonton film ini, bayangkan saja Nazi selama ini bersembunyi di Bulan puluhan tahun dan sekarang saatnya untuk mereka menguasai Bumi. Begitu melihat filmnya, di luar ekspektasi. Timo menambahkan genre komedi untuk membuat film ini menjadi lucu dan nggak terlalu serius, tapi nyatanya humor yang ditampilkan kurang lucu. Entah kenapa, menurut Saya Nazi disini menjadi kurang ditakuti dan kurang sadis seperti pengga,baran Nazi pada umumnya. Ceritanya menjadi maksa, dengan slapstick yang nggak jelas. Walaupun ceritanya terbilang buruk, kelebihan film ini ada di CGI yang memukau sekaligus peperangan udara Nazi VS Amerika melakukan baku tembak. Tata kostum dan hair-do yang keren juga jadi nilai plus di film ini, sehingga membuat kita kalau menonton film ini dimanjakan dengan tampilan visual yang baik.

Overall, Saya rasa kalau ingin menikmati film ini cukup membeli blu-ray nya saja dengan tampilan High Definition 1080p. Seharusnya, premise awal yang awalnya terbilang beda, harusnya eksekusi lebih bagus dari premise singkat yang diumumkan. CGI bagus tapi cerita kurang mendukung sepertinya hanya buang-buang uang saja.

The Spy Who Bored Me (and Audiences). Review of “The Bourne Legacy”

Tahun 2002, Doug Liman menyutradarai film spionase tentang agen atau mata-mata yang terkena amnesia lewat “The Bourne Identity” yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Robert Ludlum. Matt Damon yang memerankan Jason Bourne berhasil membawa karakternya dengan baik, sehingga sukses di box office dan dilanjut dengan sequel-nya “The Bourne Supremacy” (2004) dan “The Bourne Ultimatum” (2007) yang juga diadaptasi dari novel yang berjudul sama. Bedanya, di film kedua dan ketiga disutradarai oleh Paul Greengrass yang membuat intrik dan misteri tentang identitas Jason Bourne sekaligus program Treadstone dan Blackbriar diulik lebih dalam, ketegangan pun memuncak dengan trilogy yang sempurna. The Bourne Trilogy membuktikan, kalau film bertema spionase nggak harus dengan senjata dan peralatan canggih, kepintaran memecahkan strategi dan ketangkasan sang agen atau mata-mata itulah justru membuat lebih seru untuk dinikmati sepanjang film. Cerita sudah selesai? Tentu nggak, ternyata produser tergiur untuk melanjutkan kisah Bourne. Tapi, bukan Bourne yang jadi inti kisah ini, namun orang lain yang ternyata juga ikut program yang sudah disebutkan di atas. Tony Gilroy yang menulis dan menyutradarai film ini (sebelumnya menjadi penulis skenario The Bourne Trilogy), mengutarakan kalau film ini lebih menceritakan lebih dalam lagi program Treadstone dan Blackbriar. Dengan memasang Jeremmy Renner sebagai pengganti Matt Damon, tampaknya akan menjadi film yang lebih seru lagi (we guess).

Aaron Cross (Jeremy Renner), adalah mantan angkatan darat yang menjadi sukarelawan untuk ikut program tersembunyi dari CIA dengan penghapusan identitas. Masalah yang muncul adalah program ini akan dibocorkan oleh seorang jurnalis ke seluruh dunia dengan sumber yang diduga adalah orang yang dulu menjalankan program alias Jason Bourne yang sekarang sebagai penjahat Amerika. Dengan kasus hampir terbongkarnya program ini, Ret. Col. Eric Byer (Edward Norton), berusaha menyelamatkan program ini. Di sisi lain, Aaron harus meminum obat berwarna hijau dan biru, untuk tetap dalam kondisi sehar karena pengaruh dari program yang dia jalankan. Sedangkan cerita beralih ke Dr. Marta Shearing (Rachel Weisz), dokter yang bekerja di salah satu laboratorium besar, terancam dibunuh karena insiden yang terjadi di laboratorium itu. Aaron Cross yang selama ini bersembunyi di Alaska, sadar dia juga diburu untuk menghilangkan saksi. Aaron membantu Dr. Marta dalam menguak program yang disebut Treadstone dan Blackbriar itu sambil menyibak tabir misteri identitasnya dan kenapa dia diburu sekaligus diancam dibunuh.

Okay, here’s the review. Banyak kesalahan besar yang ada di film ini, pertama film ini juga diadaptasi dari novel berjudul sama karya Eric Van Lustbader (Eric membeli hak cipta kisah Bourne sepeninggal Robert Ludlum) ini jauh sekali perbedaannya dengan cerita novelnya. Di novel, karakter Jason Bourne masih menjadi karakter utama dan nggak ada yang namanya Aaron Cross, jadinya film ini menjadi kehilangan arah. Lalu, setengah adegan pertam terlalu banyak dialog yang bukannya membuat kita menyusun puzzle di pikiran kita, tapi justru membuat bosan. Karakter Jason Bourne hanyalah tempelan di berkas-berkas dokumen, sebenarnya kalau film ini berjudul “The Aaron Identity” akan lebih cocok. Apa yang diutarakan Tony Gilroy untuk menguak lebih dalam lagi tentang program Treadstone dan Blackbriar ternyata masih tanggung, masih banyak pertanyaan yang sekiranya akan ada di pikiran penonton, bahkan dijelaskan ada program baru LARX yang hanya menjadi tempelan sekilas. Ending-nya pun nggak terlalu istimewa, justru bisa dibilang itu nggak ada conclusion yang jelas bagaimana nasib Aaron dan Marta. Berbicara tentang akting, Jeremy Renner dan Rachel Weisz masih menunjukkan performa akting yang bagus, chemistry mereka lumayan terbentuk lewat film ini. Yang menjadi kelebihan di sini hanyalah adegan aksi, kepintaran, dan ketangkasan Aaron untuk memberantas orang-orang yang akan memburunya, ciri khas itu masih ada walaupun hanya di bagian menjelang akhir saja yang bisa membuat adrenalin kita naik. Rilis juga di IMAX, dan Saya sangat nggak merekomendasi menonton format ini. Efek IMAX 2D nggak istimewa, cukup nonton di format bioskop pada umumnya dan kalau bisa tontonlah di hari biasa dengan harga tiket murah.

Overall, film ini kurang istimewa, membosankan, dan keluar dari pakem Bourne yang sudah dikenal penikmat trilogy-nya. Membuat beda novel memang boleh, tapi mengganti karakternya menjadi tokoh baru itu sudah fatal. Mungkin untuk para pecinta The Bourne Trilogy akan sangat kecewa dengan film ini, dan buat orang awam harus menunggu lama sampai adegan aksi yang menegangkan itu ada di bagian akhir, quite bored. Rumor mengatakan, bahwa ini akan dibikin trilogy baru, well I think, hilangkan nama Bourne menjadi Aaron. Period.

Asian Marvel Look-a-Like Superhero With More Touch of Drama. Review of “The Four”

Film bertema wuxia, memang selalu identik dengan keindahan visual dan tata koreografi untuk adegan kungfu. Flashback ke era tahun 1970-an sampai 1990-an, film jenis ini menjadi kancah per-mainstraem-an film produksi Cina dan Hong Kong yang paling sukses karena kental dengan legenda dan sejarah negara mereka sendiri. Untuk generasi oldies, pastinya tahu Cheng Pei Pei, cewek tangguhyang sangat lihai waktu berlaga di layar lebar. Generasi 1990-an pastinya kita akan kenal dengan Jet Li, Andy Lau, Aaron Kwok, dan Brigitte Lin atau Lin Ching Hsia. Untuk generasi sekarang, ada Donnie Yen, Zhang Ziyi, dan Liu Yifei. Kali ini, tema wuxia semakin maju dalam hal sinematografi. Terbukti, sineas Gordon Chan merilis film yang berdasarkan novel laris karya Woon Swee Oan (novelis yang berkebangsaan Malaysia) berjudul “The Four“.

Pada masa Dinasti Song, The Six Gate Constabulary membentuk 4 polisi detekteif untuk memecahkan kasus yang terjadi di kota. Di sisi lain, ada divisi The Divine Constabulary yang juga berperan sebagai detektif, tapi anggotanya adalah orang-orang biasa yang punya kekuatan khusus. Terjadilah kasus penggadaan uang palsu yang kedua divisi ini turun tangan menyelidikinya, walaupun sering berselisih. Ternyata, kasus penggadaan uang palsu itu hanyalah kasus kecil karena dibalik itu ada pasukan zombie yang akan menguasai dunia

Okay, here’s the review. Awalnya menjanjikan, karena dibuka dengan opening sequence sinematografi indah yang menggambarkan daratan Cina kuno. Tone warna yang sempurna dengan sentuhan modern menjadi keunggulan dalam film ini. Lalu, dimulailah pengenalan masing-masing karakter yang quite boring. Terutama dengan penggambaran rasa love interest antara karakter utama cowok dan cewek (lupa namanya, kalau yang cewek namanya Emotionless) yang terlalu digambarkan dengan jelas, esensi fantasi ala Cina kuno menjadi kurang kena. Untuk ukuran CGI, teknologinya sudah hampir menyamai Hollywood, efek terlihat lumayan bagus walaupun sedikit masih kasar. Intinya, kita akan dibuat bingun sebenarnya genre apa yang tepat untuk film ini, karena kurang cocok kalau dibilang fantasy-martial arts, justru banyak pencampuran superhero, thriller, dan horor karena ada zombie. Bahkan, menetapkan judul “The Four” rasanya kurang cocok karena ini cerita tentang 4 polisi di The Six Gate Constabulary atau fokus 4 karakter utamanya. Sepertinya tidak ada kefokusan yang jelas di film ini. Too bad Gordon Chan, sepertinya film terbaru kamu ini kurang WAH dalam segi cerita.

Overall, dengan tata production design yang WAH bukan berarti cerita dibuat kurang WAH. Itulah kekurangan film ini, menonton film ini hanyalah sebagai eye-candy saja dengan memanjakan visual kita mulai dari kostum sampai sinematografi yang keren. Bisa dibilang, film ini merupakan Marvel versi Cina dengan adanya nama-nama alias sesuai dengan karakteristik tokoh yang punya kekuatan khusus di film ini. Dan jangan sedih, akan ada sequel-nya untuk rilis di tahun 2013, Semoga bisa lebih baik dari yang sekarang.

More Action, But Still Weak In Story. Review of “The Expendables 2”

Penggemar film laga (action), pastinya kalau yang sekarang sudah berumur 26 tahun ke-atas akan suka dengan film-film action kelas B yang dibintangi Dolph Lundgren, Jean Claude-Van Damme, bahkan Chuck Norris sekalipun. Tapi, Arnold Schwarzenegger dan Slyvester Stallone pernah merasakan film laga nggak harus kelas B hanya mengandalkan action saja sebut saja film “Terminator” dan “Rambo“. Generasi baru, Jason Statham, juga membuktikan kalau film laga masih bisa dinikmati kalangan muda dan dia berhasil memikat di trilogi “Transporter“. Janngan lupa juga cult action asal Cina pun juga masih diminati, sang bintang Jet Li pun menjadi salah satu bintang laga paling laris sampai saat ini. Well, Stallone ingin mengulang masa kejayaan film laga tahun 1980-an dengan mengumpulkan semua bintang laga dalam satu film. Dia menulis cerita dan menyutradarai film “The Expendables” (2010) yang sukses secara komersil di Amerika bahkan di seluruh dunia. Padahal, ceritanya biasa-biasa saja, bahkan hampir bisa dibilang ini film tanpa cerita hanya ‘gebug-gebugan’ saja oleh aksi para oom-oom yang (sepertinya) memakai steroid ini. Dicaci kritikus bukan berarti berhenti, jangan sedih masih ada sequel-nya yang akan kita bahas disini. Dan kali ini menggaet Jean-Claude Van Damme dan Chuck Norris, dan memperbanyak porsi Schwarzenegger dan Bruce Willis serta wajah baru Yu Nan dan Liam Hemsworth. Well, setidaknya Simon West yang menggantikan Stallone di kursi sutradara.

Pasukan yang dipimpin Barney Ross (Slyvester Stallone), kembali melakukan misi yang diberikan oleh Church (Bruce Willis). Dengan anggota barunya Billy The Kid (Liam Hemsworth) dan Maggie (Yu Nan), mereka menelusuri misi yang mereka jalani sampai pada akhirnya merugikan mereka dan harus mengorbankan salah satu anggotanya. Penuh dendam, Barney melacak keberadaan organisasi gelap yang dipimpin oleh Villain (Jean-Claude Van Damme), dan peperangan antar kelompok mereka terjadi dengan sengit.

Okay, here’s the review. Kalau dibandingkan dengan film pertama, sequel ini lebih baik menonjolkan action dari awal sampai akhir. Porsi Schwarzenegger yang lebih banyak juga mengobati rasa kangen fans bintang “Terminator” ini. Walaupun ceritanya masih biasa saja nggak terlalu istimewa, film ini masih bisa dinikmati semua orang penyuka film laga, ataupun fans Liam Hemsworth. Parade oom-oom steroid ini masih menunjukkan kepiawaiannya dalam berkelahi, dan yang paling stealing scene di sini adalah Jean-Claude Van Damme yang membuktikkan bahwa dia masih STNK (Sudah Tua Namun Kuat), dia masih bisa melakukan tendangan di udara. Sayangnya, Chuck Norris bisa dibilang hanya sebagai cameo di sini, penampilannya hanya sebentar dan nggak ada interaksi dengan yang lain kecuali dengan Stallone. Entah kenapa akting Yu Nan sedikit maksa di sini, dan kurang tangguh sebagai bad-ass chic dengan muka datar sepanjang film. Stallone juga kurang greget, Saya nggak tahu apa karakternya dibuat seperti itu (ekspresinya mendekati lagi giting dan mengantuk) atau memang nggak ada perkembangan akting, menurut Saya kurang garang. Banyak dialog yang bisa mengundang tawa, terutama adegan Bruce Willis dan Schwarzenegger waktu menembaki para penjahat di airport, justru itulah kelebihan film ini. Simon West berhasil mengungguli Stallone dalam menyutradarai film ini, keputusan yang bagus untuk memakai jasa sutradara “Lara Croft: Tomb Raider” ini.

Overall, nggak jelek tapi juga nggak istimewa. Buat kalian yang ingin terhibur dengan ketangguhan aktor-aktor berotot yang sudah tua ini, Saya rasa jangan dilewatkan. Jangan sedih, akan ada sequel lagi yang rencananya akan masuk Nicholas Cage. Should we wait for it? It’s up to you.