Good Remake and Nice Action. Review of “Dredd”

 

Sudah banyak tokoh komik yang di adaptasi menjadi film layar lebar Hollywood. Kayaknya, Hollywood ingin tokoh komik yang nggak terlalu dikenal masyarakat secara worldwide, cuma dikenal di Amerika dan Eropa saja, untuk diadaptasi ke layar lebar. Misalnya, “Hellblazer” dengan tokoh John Constantine lewat film “Constantine”, lalu ada “Sin City”, ‘The Spirit”, sampai serial “The Walking Dead”. Let’s flashback to 1995, tokoh Judge Dredd yang berasal dari komik diadaptasi menjadi film dengan bintang Slyvester Stallone berjudul sama. Dengan setting dystopia modern di tahun 2139, film yang mengandalkan action ini meskipun karakter Judge Dredd dibuat mirip seperti komik, tapi film ini sukses jadi sasaran cacian kritikus film yang menilai kalau film ini punya storyline yang lemah. Sekarang, tahun ini muncul remake pertama dari karakter hakim yang dikenal tanpa ampun ini dibuat dengan sutradara Pete Travis (Vantage Point) dan si hakim berwajah garang itu diperankan Karl Urban, kali ini dengan judul lebih singkat, “Dredd”. Walaupun remake, sang sutradara bilang kalau semua jalan cerita berdiri sendiri dan nggak ada hubungannya sama yang pertama. Lebih tepat dibilang reboot dong.

Setting masih dystopia yang menggambarkan kejahatan Amerika menjadi Mega City One, hukum yang berlaku di sini diawasi oleh para hakim (judges) yang berpatroli layaknya polisi untuk menghentikan kejahatan dengan langsung menyebutkan hukuman bagi pelaku kejahatan. Kali ini, Judge Dredd (Karl Urban), mengawasi dan menilai hakim baru bernama Judge Anderson (Olivia Thirlby) yang masih pemula dan mempunyai kemampuan psikis yaitu bisa membaca pikiran dan melihat masa depan. Mereka menyelidiki gembong narkoba bernama Ma-Ma (Lena Headey) yang menguasai satu blok gedung di Peach Trees dengan memproduksi narkoba bernama Slo-Mo yang membuat efek lambat bagi orang yang mengkonsumsinya. Berhasil menangkap anak buahnya, tapi Dredd dan Anderson terjebak tidak bisa keluar dari blok itu. Terjadilah aksi Judge Dredd melawan semua anak buah Ma-Ma.

Okay, here’s the review. mungkin yang sudah menonton film ini pasti akan teringat sama film ‘The Raid“, yes correct.. Kemiripannya adalah pertarungan besar-besaran di satu gedung selama film itu berjalan. Hanya saja kelebihan dari film ini, meskipun haya satu tempat lokasinya,  masih mempunyai alur cerita yang mengalir dengan enak walaupun hanya aksi baku tembak. Membuat remake film bukan hal yang mudah, untungnya remake film Judge Dredd ini lebih baik dari film pertamanya. Walaupun formulanya masih menyamai film awalnya dengan aksi tembak-tembakan yang seru, tetap masih ada satu kesatuan cerita yang bisa diikuti dengan baik. Karl urban berhasil memerankan Dredd dengan baik, dengan mimik muka yang garang even kita nggak akan melihat wajahnya di balik helm ala Judge Dredd. Visualisasi yang dibuat persis komiknya, dan musik yang noisy lengkap membuat film ini menjadi seru untuk dinikmati. Jangan lupa, efek slow motion yang divisualisasikan sangat bagus ketika oramg sedang mengkonsumsi Slo-Mo.

Overall, film yang menghibur dan sedikit berdarah-darah tapi seru untuk dinikmati. Sayangnya, format 3D yang harusnya jadi nilai jual utama film ini nggak dirilis di Indonesia, padahal banyak efek spektakuler yang bisa semakin seru untuk dinikmati dalam format 3D. Salah satu pilihan seru untuk mengisi waktu luang kalian, it’s worthed.

Not So Thrilling Than The Previous One. Review of “Taken 2”

Tahun 2008, Luc Besson sebagai produser dan dibesut oleh sutradara Pierre Morel, memproduksi film aksi berjudul “Taken. Memasang aktor utama Liam Neeson yang bercerita tentang sepak terjang mantan agen CIA yang menyelamatkan putrinya dari penculikan yang dilakukan oleh sekelompok organisasi kejahatan dari Albania. Siapa sangka dengan budget yang hanya US$ 25 juta, berakhir dengan pemasukan lebih dari US$200 juta di seluruh dunia. Film ini menampilkan trik-trik yang seru ketika sang mantan agen berusaha menyelamatkan putrinya dengan cara brutal sampai membunuh lawannya yang mengganggu. Performa Liam Neeson sangat memukau dan kita dibuat tegang waktu menonton film ini. Kesuksesan film ini ternyata menggiurkan produser untuk membuat sequel. Dan here it is, “Taken 2”, yang sudah dirilis di layar bioskop Amerika dan juga Indonesia. Kali ini, sutradaranya beralih ke Oliver Megaton dan setting film yang awalnya di Paris beralih ke Istanbul.

Setahun setelah peristiwa penculikan anaknya, Kim (Maggie Grace), Bryan Mills (Liam Neeson) lebih intens untuk bertemu anak semata wayangnya itu dan mengajarkan menyetir mobil. Ternyata, pernikahan mantan istrinya, Lenore (Famke Jansen), dengan suami barunya sedang bermasalah. Bryan mengajak Kim dan Lenore untuk berlibur ke Istanbul bersamanya. Liburan yang awalnya reuni keluarga berubah menjadi bahaya. Ayah dari pelaku penculikan anaknya, menculik Lenore dan Bryan untuk misi balas dendam karena Bryan membunuh sang anak. Kim yang berhasil lolos harus gantian menyelamatkan orang tuanya, sebelum mereka dibunuh.

Okay, here’s the review. Formula yang ditampilkan di sequel ini memang sama dengan yang pertama yaitu penculikan dengan trik-trik yang seru. Bahkan kekuatan film ini ada pada pendeteksi lokasi sewaktu Bryan diculik hanya waktu matanya ditutup. Action yang seru dengan adegan laga juga melengkapi film ini. Tapi sayangnya, formula yang sama nggak bisa memunculkan ketegangan yang cukup intens. Adegan demi adegan mengalir biasa saja, bahkan cenderung mudah ditebak apa yang akan terjadi sebelumnya. Dibandingkan dengan film pertamanya, sequel film seakan-akan layaknya film action biasa yang kurang greget, malah akting para pemainnya menjadi sia-sia. Padahal, kita akan berharap kalau anaknya lah yang benar-benar menyelamatkan orang tuanya, tapi pada kenyataannya justru hanya menjadi pembantu sang ayah untuk menyelamatkan diri.

Overall, bukan film yang jelek tapi juga bukan film yang istimewa. Kalaupun nantinya akan dibuatkan sequel-nya lagi lebih baik direct to video saja. Untuk keindahan sinematografi karena setting di Istanbul, masih lumayan bagus untuk dinikmati walaupun dibalut dengan ketegangan yang biasa untuk ukuran film action.

(this review also published on http://www.freemagz.com)

 

Incredible Bicycle Chase. Review of “Premium Rush”

Salah satu elemen penting dalam film action adalah kejar-kejaran di jalan raya. Biasanya sepeda motor atau mobil menjadi ‘bintang’ utama di samping aktor-aktris yang tampil di film itu. Tapi, kalau ‘bintang’ itu diganti menjadi sepeda? Apakah masih seru? Justru inilah formula baru yang bikin Joseph Gordon-Levitt rela bersepeda di jalan raya. Sepertinya, Joseph Gordon-Levitt membuktikkan kalau dia adalah salah satu A-List aktor Hollywood yang juga akan menjadi bad-ass dude. Setelah mendampingi Christian Bale di “The Dark Knight Rises”, kali ini dia memacu adrenalinnya dengan mengendarai sepeda di jalan raya lewat arahan sutrada David Koepp. Fyi, David Koepp akhirnya kembali lagi setelah menyutradarai drama komedi “Ghost Town” (2008). Kali ini dia menyuguhkan thriller action yang berbeda dan setting hanya satu hari saja.

Di sepanjang jalanan kota Manhattan, di samping para penduduknya yang sibuk, ternyata ada yang lebih sibuk dan mengejar waktu untuk mencari nafkah di jalanan yang mengerikan. Mereka adalah kurir pengantar pesanan yang mengendarai sepeda. Wilee (Joseph Gordon-Levitt) adalah salah satu kurir itu, dia adalah salah satu kurir terbaik dan tercepat yang sering dipercaya untuk mengantar pesanan entah itu amplop atau barang. Suatu hari dia menerima pesanan dari seorang cewek bernama Nima (Jamie Chung) yang berupa amplop, dan harus sampai ke chinatown hanya dengan waktu 90 menit saja. Hal yang mudah bagi Wilee, tapi permasalahan muncul karena ada orang lain yang menginginkan amplop itu dengan cara apapun. Dan dimulailah kejar-kejaran seru di jalan raya dengan mengendarai sepeda.

Okay, here’s the review,hiatus selama 4 tahun untuk David Koepp ternyata menampilkan film yang total. Total di sini maksudnya total membuat adrenalin kita waktu melihat film ini naik dan wajah penonton berhasil dibuat tegang. Yup, he makes this movie absolutely good!!! Mungkin banyak yang berpikiran kalau kejar-kejaran mobil pasti lebih dahsyat, sekarang buang jauh-jauh pikiran mainstream itu. Kalian akan merasakan ketagangan luar biasa sewaktu melihat kejar-kejaran sepeda dengan sepeda, bahkan sepeda dengan mobil. Sudut pandang sewaktu Wilee mencari jalan yang tepat sewaktu tersudut di tengah jalan supaya nggak membuat dirinya celaka dan nggak mencelakai oran lain juga menarik, bahkan waktu Wilee mencari rute lewat GPS juga menjadi segmen yang sangat menarik. Joseph Gordon-Levitt menampilkan stamina akting yang luar biasa sebagai kurir bersepeda, dan perhatikan tangannya yang nanti dibalut seolah-olah dia mengalami kecelakaan, karena luka itu beneran ada waktu shooting dikarenakan waktu mengendarai sepeda dia menabrak taksi.

Overall, lupakan sejenak “Fast Five” atau film kejar-kejaran mobil lainnya. Kalian akan disuguhkan ketegangan yang luar biasa dengan trik-trik mengendarai sepeda untuk menemukan jalan alternatif sewaktu tersudut di jalan raya. Saatnya sepeda yang menguasai jalanan. Film thriller action yang seru untuk dinikmati, dan sukses menampilkan formula baru dalam film action.

(this review also published on http://www.freemagz.com)

The Worst Resident Evil Ever. Review of “Resident Evil: Retribution”

Thanks to Capcom, lahirlah game survival horror pertama yang berjudul “Resident Evil” di tahun 1996. Game pertama ditampilkan karakter Chris Redfield dan Jill Valentine menyelidiki sebuah rumah di tengah hutan yang ternyata dihuni oleh zombie hasil percobaan virus yang diproduksi oleh Umbrella Corporation. Game ini sukses sampai sekarang sudah mencapai seri ke-6 dan juga spin-off series game seperti “Resident Evil: Survivor“, “Resident Evil: Code:Veronica“, dan “Resident Evil: Operation Racoon City“. Tahun 2002, game sukses ini muncul dalam bentuk film dengan bintang Milla Jovovich dan Michelle Rodriguez yang berjudul sama. Film besutan Paul W.S. Anderson ini menceritakan prekuel dari game “Resident Evil”. Walaupun kritikus menilai film ini bukan film yang istimewa, perolehan seluruh dunia membuktikan kalau film adaptasi video game ini sukses secara komersil. Dilanjut dengan film-film lanjutannya “Resident Evil: Apocalypse” (2004) yang berganti sutradara ke Alexander Witt dengan menambahkan musuh Nemesis dan dua tokoh sentral dari gameResident Evil 3: Nemesis“, Jill Valentine dan Carlos Oliviera, lalu berlanjut lagi ke dua sequel-nya “Resident Evil: Extinction” (2007) menambahkan Claire Redfield dan “Resident Evil: Afterlife” (2010) dengan format 3D menambahkan Chris Redfield dan Albert Wesker. Tokoh utamanya justru tokoh original bernama Alice yang dimainkan Milla Jovovich yang sama sekali nggak ada di rangkaian seri video game “Resident Evil“. Sudah capek dengan filmnya? Jangan sedih, sekarang berlanjut ke “Resident Evil: Retribution” kali ini dirilis menggunakan format IMAX 3D. Fiuuhhhh….

Melanjutkan langsung dari kisah “Afterlife“, Alice (Milla Jovovich), akhirnya tertangkap di fasilitas Umbrella Corporation setelah gagal menyelamatkan semua orang yang ditahan di kapal Arcadia. Dia harus berhadapan dengan Jill Valentine (Sienna Guillory) yang di brain-washed oleh Umbrella menjadi top agent untuk menghalangi siapapun yang menghancurkan Umbrella termasuk Alice. Dibantu oleh Ada Wong (Li Bingbing), agent Umbrella yang membelot untuk membantu ALice selamat yang ternyata atas perintah Albert Wesker (Shawn Roberts) untuk menghancurkan Umbrella Corporation. Wabah T-Virus sudah menyerang ke seluruh dunia, dan umat manusia di ambang kehancuran. Bahkan Umbrella melakukan kloning besar untuk membuat simulasi infeksi T-Virus untuk dijual ke berbagai dunia. Alice dan Ada Wong berjuang untuk keluar dari fasilitas itu dan dibantu oleh pasukan khusus yang terdiri dari Leon S. Kennedy (Johann Urb), Luther West (Boris Kodjoe), dan Barry Burton (Kevin Durand), walaupun sampai titik darah penghabisan Alice.

Okay here’s the review. Saya penggemar berat video gameResident Evil“, dan Saya nggak mau ketinggalan untuk menonton filmnya. Film pertama menurut Saya not bad, yah walaupun ceritanya biasa saja cenderung mudah ditebak, tapi unsur dalam game-nya masih ada sehingga adaptasi itu lumayan berhasil. Film ke-2, menabahkan karakter Jill Valentine dan Carlos Oliviera mengikuti cerita “Resident Evil 3: Nemesis” juga lumayan dalam segi action walaupun sedikit dipaksakan ceritanya. Film ke-3, setting-nya yang cenderung mendekati wasteland cocok sekali dengan film yang menampilkan zombie apocalypse, dan fokus pada surviving, quite good. Sayangnya, di film ke-4 walaupun 3D nya bagus, ceritanya menjadi kacau dan banyak sekali adegan slow motion yang membuat mata kita capek untuk melihatnya. Saya sedikit berharap untuk film ke-5 ini apalagi lagi hype IMAX, sayangnya harapan itu hilang. Global di sini ternyata hanyalah simulasi yang dibuat Umbrella, justru sudah memaksakan dalam segi cerita. Lalu ditambah adegan slow motion yang kembali lagi ditampilkan even nggak terlalu banyak seperti di film ke-4. Paling parah karakter Ada Wong yang sepertinya membuat image aslinya di video game gagal divisualisasikan. Melihat akting Li Bingbing di sini kurang garang dan manipulatif, malah justru fokus berbicara bahasa Inggris dengan fasih instead of real acting, too bad. Action yang spektakuler memang, tapi nggak menambahkan thrilling kepada penonton. Kekecewaan Saya yang paling besar adalah karakter Leon S. Kennedy, di sini dia hanyalah tempelan yang hanya bisa menembak saja, padahal karakter aslinya dia itu bad-ass dude. Kemunculan kembali karakter Rain Ocampo karena kloning juga nggak menolong film ini, walaupun performa Michelle Rodriguez sudah maksimal. This is even worse than B Class movie.

Overall, buang jauh-jauh ekspektasi kalian khususnya penggemar gameResident Evil“. Sequel ini paling buruk yang pernah dibuat. Walaupun sudah dibuat dengan back sound noisy dan kental dengan musik dubstep, tetap nggak menolong kesuluruhan content film yang terasa datar dengan full effect. Rencananya, akan ada seri terakhir lagi dari film ini, dan akan mengumpulkan semua karakter sentral di game-nya. Oh not again.

Paranormal Activi-Fraud. Review of “Red Lights”

Tahun 2010, Saya melihat sebuah poster yang memasang nama Ryan Reynolds dengan judul “Buried”, dan sang aktor ini memang di poster itu digambarkan sedang ada di peti karena dikubur hidup-hidup. Of course, Saya excited dengan film ini langsung menontonnya di bioskop. Ternyata, memang film yang dibesut oleh Rodrigo Cortes ini benar-benar bikin membuat kita serasa menjadi klautrofobia beneran. Setting dan tempat hanya di peti saja, tapi sukses meningkatkan adrenalin bahkan bisa membuat kita isa berteriak sedikit. Nggak disangka, film berbudget kecil ini sukses besar untuk peredarannya di Amerika dan seluruh dunia. Setelah kesuksesan “Buried”, Rodrigo Cortes kembali lagi merilis film thriller yang kali ini mengulik kegiatan pekerja paranormal yang mempunyai keahlian untuk menyembuhkan orang (healer). Dan faktanya, Rodrigo sudah mempunyai ide cerita ini sebelum dia membuat “Buried”.

Dr. Margaret Matheson (Sigourney Weaver) adala seorang peneliti kegiatan paranormal sekaligus psikiater. Bersama asistennya, Tom Buckley (Cillian Murphy), mereka menyelidiki aksi pelaku kegiatan paranormal yang komersil yang berujung pada penipuan publik. Bahkan, mereka sering memergoki paranormal yang mengaku sebagai healer yang ternyata bohong karena dalam show-nya dibantu lewat suara dari operator melalui earphone handy talkie. Sampai akhirnya muncul kembali paranormal buta terkenal, Simon Silver (Robert De Niro), setelah 30 tahun hiatus. Tom memaksa untuk menyelidiki Simon yang awalnya ditentang Margareth, dan berujung pada pemecahan misteri yang di luar akal sehat.

Okay, here’s the review. Saya nggak akan banyak me-review film ini karena ada twist yang nggak bisa Saya ceritakan karena menghindari spoiler yang belum menonton film ini. Sekali lagi, Rodrigo Cortes menyuguhkan drama thriller yang memukau tanpa harus menggunakan banyak efek CGI. Sayangnya kelemahan film ini membuat semua orang yang menontonnya akan banyak menimbulkan pertanyaan seperti: “lho kok….ternyata….tapi kok bisa ya……kapan begitunya…nah terus maksudnya apa?”. Jadi, disarankan kalau yang memang ingin menelaah lagi film ini endingnya kenapa bisa begitu, untuk menonton dua kali.

Overall, walaupun masih belum mengungguli “Buried” di tingkat thrilling, tapi film ini nggak perlu dilewatkan buat kalian yang suka dengan cerita tentang kegiatan paranormal dan cenayang. Saya waktu selesai menonton film ini sedikit ragu, apakah healer yang diadakan dalam show secara komersil ternyata bohong juga? Well, only God knows.