Not So Thrilling Than The Previous One. Review of “Taken 2”

Tahun 2008, Luc Besson sebagai produser dan dibesut oleh sutradara Pierre Morel, memproduksi film aksi berjudul “Taken. Memasang aktor utama Liam Neeson yang bercerita tentang sepak terjang mantan agen CIA yang menyelamatkan putrinya dari penculikan yang dilakukan oleh sekelompok organisasi kejahatan dari Albania. Siapa sangka dengan budget yang hanya US$ 25 juta, berakhir dengan pemasukan lebih dari US$200 juta di seluruh dunia. Film ini menampilkan trik-trik yang seru ketika sang mantan agen berusaha menyelamatkan putrinya dengan cara brutal sampai membunuh lawannya yang mengganggu. Performa Liam Neeson sangat memukau dan kita dibuat tegang waktu menonton film ini. Kesuksesan film ini ternyata menggiurkan produser untuk membuat sequel. Dan here it is, “Taken 2”, yang sudah dirilis di layar bioskop Amerika dan juga Indonesia. Kali ini, sutradaranya beralih ke Oliver Megaton dan setting film yang awalnya di Paris beralih ke Istanbul.

Setahun setelah peristiwa penculikan anaknya, Kim (Maggie Grace), Bryan Mills (Liam Neeson) lebih intens untuk bertemu anak semata wayangnya itu dan mengajarkan menyetir mobil. Ternyata, pernikahan mantan istrinya, Lenore (Famke Jansen), dengan suami barunya sedang bermasalah. Bryan mengajak Kim dan Lenore untuk berlibur ke Istanbul bersamanya. Liburan yang awalnya reuni keluarga berubah menjadi bahaya. Ayah dari pelaku penculikan anaknya, menculik Lenore dan Bryan untuk misi balas dendam karena Bryan membunuh sang anak. Kim yang berhasil lolos harus gantian menyelamatkan orang tuanya, sebelum mereka dibunuh.

Okay, here’s the review. Formula yang ditampilkan di sequel ini memang sama dengan yang pertama yaitu penculikan dengan trik-trik yang seru. Bahkan kekuatan film ini ada pada pendeteksi lokasi sewaktu Bryan diculik hanya waktu matanya ditutup. Action yang seru dengan adegan laga juga melengkapi film ini. Tapi sayangnya, formula yang sama nggak bisa memunculkan ketegangan yang cukup intens. Adegan demi adegan mengalir biasa saja, bahkan cenderung mudah ditebak apa yang akan terjadi sebelumnya. Dibandingkan dengan film pertamanya, sequel film seakan-akan layaknya film action biasa yang kurang greget, malah akting para pemainnya menjadi sia-sia. Padahal, kita akan berharap kalau anaknya lah yang benar-benar menyelamatkan orang tuanya, tapi pada kenyataannya justru hanya menjadi pembantu sang ayah untuk menyelamatkan diri.

Overall, bukan film yang jelek tapi juga bukan film yang istimewa. Kalaupun nantinya akan dibuatkan sequel-nya lagi lebih baik direct to video saja. Untuk keindahan sinematografi karena setting di Istanbul, masih lumayan bagus untuk dinikmati walaupun dibalut dengan ketegangan yang biasa untuk ukuran film action.

(this review also published on http://www.freemagz.com)

 

Incredible Bicycle Chase. Review of “Premium Rush”

Salah satu elemen penting dalam film action adalah kejar-kejaran di jalan raya. Biasanya sepeda motor atau mobil menjadi ‘bintang’ utama di samping aktor-aktris yang tampil di film itu. Tapi, kalau ‘bintang’ itu diganti menjadi sepeda? Apakah masih seru? Justru inilah formula baru yang bikin Joseph Gordon-Levitt rela bersepeda di jalan raya. Sepertinya, Joseph Gordon-Levitt membuktikkan kalau dia adalah salah satu A-List aktor Hollywood yang juga akan menjadi bad-ass dude. Setelah mendampingi Christian Bale di “The Dark Knight Rises”, kali ini dia memacu adrenalinnya dengan mengendarai sepeda di jalan raya lewat arahan sutrada David Koepp. Fyi, David Koepp akhirnya kembali lagi setelah menyutradarai drama komedi “Ghost Town” (2008). Kali ini dia menyuguhkan thriller action yang berbeda dan setting hanya satu hari saja.

Di sepanjang jalanan kota Manhattan, di samping para penduduknya yang sibuk, ternyata ada yang lebih sibuk dan mengejar waktu untuk mencari nafkah di jalanan yang mengerikan. Mereka adalah kurir pengantar pesanan yang mengendarai sepeda. Wilee (Joseph Gordon-Levitt) adalah salah satu kurir itu, dia adalah salah satu kurir terbaik dan tercepat yang sering dipercaya untuk mengantar pesanan entah itu amplop atau barang. Suatu hari dia menerima pesanan dari seorang cewek bernama Nima (Jamie Chung) yang berupa amplop, dan harus sampai ke chinatown hanya dengan waktu 90 menit saja. Hal yang mudah bagi Wilee, tapi permasalahan muncul karena ada orang lain yang menginginkan amplop itu dengan cara apapun. Dan dimulailah kejar-kejaran seru di jalan raya dengan mengendarai sepeda.

Okay, here’s the review,hiatus selama 4 tahun untuk David Koepp ternyata menampilkan film yang total. Total di sini maksudnya total membuat adrenalin kita waktu melihat film ini naik dan wajah penonton berhasil dibuat tegang. Yup, he makes this movie absolutely good!!! Mungkin banyak yang berpikiran kalau kejar-kejaran mobil pasti lebih dahsyat, sekarang buang jauh-jauh pikiran mainstream itu. Kalian akan merasakan ketagangan luar biasa sewaktu melihat kejar-kejaran sepeda dengan sepeda, bahkan sepeda dengan mobil. Sudut pandang sewaktu Wilee mencari jalan yang tepat sewaktu tersudut di tengah jalan supaya nggak membuat dirinya celaka dan nggak mencelakai oran lain juga menarik, bahkan waktu Wilee mencari rute lewat GPS juga menjadi segmen yang sangat menarik. Joseph Gordon-Levitt menampilkan stamina akting yang luar biasa sebagai kurir bersepeda, dan perhatikan tangannya yang nanti dibalut seolah-olah dia mengalami kecelakaan, karena luka itu beneran ada waktu shooting dikarenakan waktu mengendarai sepeda dia menabrak taksi.

Overall, lupakan sejenak “Fast Five” atau film kejar-kejaran mobil lainnya. Kalian akan disuguhkan ketegangan yang luar biasa dengan trik-trik mengendarai sepeda untuk menemukan jalan alternatif sewaktu tersudut di jalan raya. Saatnya sepeda yang menguasai jalanan. Film thriller action yang seru untuk dinikmati, dan sukses menampilkan formula baru dalam film action.

(this review also published on http://www.freemagz.com)

The Worst Resident Evil Ever. Review of “Resident Evil: Retribution”

Thanks to Capcom, lahirlah game survival horror pertama yang berjudul “Resident Evil” di tahun 1996. Game pertama ditampilkan karakter Chris Redfield dan Jill Valentine menyelidiki sebuah rumah di tengah hutan yang ternyata dihuni oleh zombie hasil percobaan virus yang diproduksi oleh Umbrella Corporation. Game ini sukses sampai sekarang sudah mencapai seri ke-6 dan juga spin-off series game seperti “Resident Evil: Survivor“, “Resident Evil: Code:Veronica“, dan “Resident Evil: Operation Racoon City“. Tahun 2002, game sukses ini muncul dalam bentuk film dengan bintang Milla Jovovich dan Michelle Rodriguez yang berjudul sama. Film besutan Paul W.S. Anderson ini menceritakan prekuel dari game “Resident Evil”. Walaupun kritikus menilai film ini bukan film yang istimewa, perolehan seluruh dunia membuktikan kalau film adaptasi video game ini sukses secara komersil. Dilanjut dengan film-film lanjutannya “Resident Evil: Apocalypse” (2004) yang berganti sutradara ke Alexander Witt dengan menambahkan musuh Nemesis dan dua tokoh sentral dari gameResident Evil 3: Nemesis“, Jill Valentine dan Carlos Oliviera, lalu berlanjut lagi ke dua sequel-nya “Resident Evil: Extinction” (2007) menambahkan Claire Redfield dan “Resident Evil: Afterlife” (2010) dengan format 3D menambahkan Chris Redfield dan Albert Wesker. Tokoh utamanya justru tokoh original bernama Alice yang dimainkan Milla Jovovich yang sama sekali nggak ada di rangkaian seri video game “Resident Evil“. Sudah capek dengan filmnya? Jangan sedih, sekarang berlanjut ke “Resident Evil: Retribution” kali ini dirilis menggunakan format IMAX 3D. Fiuuhhhh….

Melanjutkan langsung dari kisah “Afterlife“, Alice (Milla Jovovich), akhirnya tertangkap di fasilitas Umbrella Corporation setelah gagal menyelamatkan semua orang yang ditahan di kapal Arcadia. Dia harus berhadapan dengan Jill Valentine (Sienna Guillory) yang di brain-washed oleh Umbrella menjadi top agent untuk menghalangi siapapun yang menghancurkan Umbrella termasuk Alice. Dibantu oleh Ada Wong (Li Bingbing), agent Umbrella yang membelot untuk membantu ALice selamat yang ternyata atas perintah Albert Wesker (Shawn Roberts) untuk menghancurkan Umbrella Corporation. Wabah T-Virus sudah menyerang ke seluruh dunia, dan umat manusia di ambang kehancuran. Bahkan Umbrella melakukan kloning besar untuk membuat simulasi infeksi T-Virus untuk dijual ke berbagai dunia. Alice dan Ada Wong berjuang untuk keluar dari fasilitas itu dan dibantu oleh pasukan khusus yang terdiri dari Leon S. Kennedy (Johann Urb), Luther West (Boris Kodjoe), dan Barry Burton (Kevin Durand), walaupun sampai titik darah penghabisan Alice.

Okay here’s the review. Saya penggemar berat video gameResident Evil“, dan Saya nggak mau ketinggalan untuk menonton filmnya. Film pertama menurut Saya not bad, yah walaupun ceritanya biasa saja cenderung mudah ditebak, tapi unsur dalam game-nya masih ada sehingga adaptasi itu lumayan berhasil. Film ke-2, menabahkan karakter Jill Valentine dan Carlos Oliviera mengikuti cerita “Resident Evil 3: Nemesis” juga lumayan dalam segi action walaupun sedikit dipaksakan ceritanya. Film ke-3, setting-nya yang cenderung mendekati wasteland cocok sekali dengan film yang menampilkan zombie apocalypse, dan fokus pada surviving, quite good. Sayangnya, di film ke-4 walaupun 3D nya bagus, ceritanya menjadi kacau dan banyak sekali adegan slow motion yang membuat mata kita capek untuk melihatnya. Saya sedikit berharap untuk film ke-5 ini apalagi lagi hype IMAX, sayangnya harapan itu hilang. Global di sini ternyata hanyalah simulasi yang dibuat Umbrella, justru sudah memaksakan dalam segi cerita. Lalu ditambah adegan slow motion yang kembali lagi ditampilkan even nggak terlalu banyak seperti di film ke-4. Paling parah karakter Ada Wong yang sepertinya membuat image aslinya di video game gagal divisualisasikan. Melihat akting Li Bingbing di sini kurang garang dan manipulatif, malah justru fokus berbicara bahasa Inggris dengan fasih instead of real acting, too bad. Action yang spektakuler memang, tapi nggak menambahkan thrilling kepada penonton. Kekecewaan Saya yang paling besar adalah karakter Leon S. Kennedy, di sini dia hanyalah tempelan yang hanya bisa menembak saja, padahal karakter aslinya dia itu bad-ass dude. Kemunculan kembali karakter Rain Ocampo karena kloning juga nggak menolong film ini, walaupun performa Michelle Rodriguez sudah maksimal. This is even worse than B Class movie.

Overall, buang jauh-jauh ekspektasi kalian khususnya penggemar gameResident Evil“. Sequel ini paling buruk yang pernah dibuat. Walaupun sudah dibuat dengan back sound noisy dan kental dengan musik dubstep, tetap nggak menolong kesuluruhan content film yang terasa datar dengan full effect. Rencananya, akan ada seri terakhir lagi dari film ini, dan akan mengumpulkan semua karakter sentral di game-nya. Oh not again.

Paranormal Activi-Fraud. Review of “Red Lights”

Tahun 2010, Saya melihat sebuah poster yang memasang nama Ryan Reynolds dengan judul “Buried”, dan sang aktor ini memang di poster itu digambarkan sedang ada di peti karena dikubur hidup-hidup. Of course, Saya excited dengan film ini langsung menontonnya di bioskop. Ternyata, memang film yang dibesut oleh Rodrigo Cortes ini benar-benar bikin membuat kita serasa menjadi klautrofobia beneran. Setting dan tempat hanya di peti saja, tapi sukses meningkatkan adrenalin bahkan bisa membuat kita isa berteriak sedikit. Nggak disangka, film berbudget kecil ini sukses besar untuk peredarannya di Amerika dan seluruh dunia. Setelah kesuksesan “Buried”, Rodrigo Cortes kembali lagi merilis film thriller yang kali ini mengulik kegiatan pekerja paranormal yang mempunyai keahlian untuk menyembuhkan orang (healer). Dan faktanya, Rodrigo sudah mempunyai ide cerita ini sebelum dia membuat “Buried”.

Dr. Margaret Matheson (Sigourney Weaver) adala seorang peneliti kegiatan paranormal sekaligus psikiater. Bersama asistennya, Tom Buckley (Cillian Murphy), mereka menyelidiki aksi pelaku kegiatan paranormal yang komersil yang berujung pada penipuan publik. Bahkan, mereka sering memergoki paranormal yang mengaku sebagai healer yang ternyata bohong karena dalam show-nya dibantu lewat suara dari operator melalui earphone handy talkie. Sampai akhirnya muncul kembali paranormal buta terkenal, Simon Silver (Robert De Niro), setelah 30 tahun hiatus. Tom memaksa untuk menyelidiki Simon yang awalnya ditentang Margareth, dan berujung pada pemecahan misteri yang di luar akal sehat.

Okay, here’s the review. Saya nggak akan banyak me-review film ini karena ada twist yang nggak bisa Saya ceritakan karena menghindari spoiler yang belum menonton film ini. Sekali lagi, Rodrigo Cortes menyuguhkan drama thriller yang memukau tanpa harus menggunakan banyak efek CGI. Sayangnya kelemahan film ini membuat semua orang yang menontonnya akan banyak menimbulkan pertanyaan seperti: “lho kok….ternyata….tapi kok bisa ya……kapan begitunya…nah terus maksudnya apa?”. Jadi, disarankan kalau yang memang ingin menelaah lagi film ini endingnya kenapa bisa begitu, untuk menonton dua kali.

Overall, walaupun masih belum mengungguli “Buried” di tingkat thrilling, tapi film ini nggak perlu dilewatkan buat kalian yang suka dengan cerita tentang kegiatan paranormal dan cenayang. Saya waktu selesai menonton film ini sedikit ragu, apakah healer yang diadakan dalam show secara komersil ternyata bohong juga? Well, only God knows.

Scary Image of Sadako Was Gone. Review of “Sadako 3D”

Koji Suzuki yang sekarang sudah berumur 55 tahun, menggebrak dunia dengan novel berjudul “Ringu” yang dia tulis, novel horor ini laris di pasaran dan menjadi best seller di Jepang. Tahun 1998, adaptasi novel itu diangkat menjadi film dengan judul sama dan lahirlah icon hantu Jepang dengan rambut panjangnya keluar dari layar TV bernama Sadako. Kesuksesan film ini melahirkan sequel “Ringu 2” (1999) dan juga “Ring 0: Birthday” (2000) yang juga sukses di Jepang dan banyak dicari pecinta horor Asia di seluruh dunia. Kesuksesan “Ringu” membuat Hollywood membuat ulang film itu dengan judul “The Ring” (2005) dengan sutradara Gore Verbinski dan dimainkan oleh Naomi Watts. Siapa sangka kalau remake itu sukses besar, menggantikan nama Sadako menjadi Samara, dilanjutkan dengan “The Ring Two” (2005) dengan berganti sutradara menjadi sutradara asli “Ringu“, Hideo Nakata. Walaupun, mendapat kritik yang buruk, tetap saja sequel ini masih sukses secara finansial. Kali ini, Koji Suzuki menulis lagi novel berjudul “S“, yang menceritakan kutukan Sadako masih berlanjut dengan medium baru dan juga video kutukan baru. Dan lahirlah “Sadako 3D“, yang diangkat dari novel terbaru Koji Suzuki itu.

Akane (Satomi Ishibara), seorang guru SMA yang pendiam, tiba-tiba dikejutkan dengan kematian salah satu muridnya karena bunuh diri. Akane nggak percaya itu bunuh diri, karena muridnya itu adalah murid yang ceria. Terakhir, yang dia tahu muridnya itu menonton sebuah video yang menampilkan seorang cowok yang bunuh diri, dan itu dipercaya sebagai video kutukan karena siapapun yang menontonnya akan mati. Awalnya, Akane nggak percaya akan video itu, tapi ketika dia menyelidiki sendiri, dia dalam bahaya sekaligus pasangannya Takanori (Koji Sato) juga terancam mati. Dengan inisial “S” yang disebutkan oleh cowok yang ada di video itu, Akane menguak misteri video itu dan mencegah inisial “S” yang ternyata adalah Sadako.

Okay, here’s the review. Antusias adalah kata yang tepat buat Saya (dan para penggemar Sadako tentunya), menunggu film ini dan kita semua tahu kalau “Ringu” adalah salah satu film horor terbaik Jepang yang sukses bikin ketakutan. Melihat film terbaru Sadako ini, antusias Saya berubah menjadi kekecewaan besar. Sebenarnya, ada yang logis dari cerita film ini untuk menggambarkan masa modern, yaitu video yang tersebar melalui You Tube dan bisa diakses dari laptop atau smartphone. Itu saja yang logis, keseluruhan cerita menjadi dipaksakan dan video kutukan yang sudah dibentuk dari awal mengerikan, berubah menjadi video bunuh diri cowok stress yang nggak seram sama sekali. Efek 3D nya memang bagus, kita akan diberikan sensasi gambar keluar layar, hanya saja terlalu banyak adegan 3D slow motion yang berlebihan dan diulang-ulang, jangan lupa juga Sadako yang keluar layar tapi hanya tangan dan setengah badan saja dan terus begitu. Penggambaran Sadako di film ini jauh berbeda dan jauh dari kata seram dibandingkan versi pertamanya, Sadako nya jadi banyak dan seolah-olah Sadako tertular T-Virus atau sosok makhluk gaib seperti di “Silent Hill“. Dan ending film ini kurang penjelasan, kenapa Sadako dibangkitkan lagi, lalu apa sebenarnya hubungan Akane dan Sadako, lalu siapa sebenarnya sesosok wanita di akhir film. Well, citra Sadako sebagai hantu Jepang seram hilang sudah di film ini, bukannya takut tapi bisa juga mengundang tawa sekaligus kekecewaan.

Overall, film yang nggak istimewa untuk ukuran J-Horror. Mereka merusak citra hantu andalan mereka sendiri lewat film ini. Seharusnya, video yang ditampilkan bisa lebih seram atau bisa juga tetap menampilkan kengerian video yang ada di “Ringu“. So Sadako fans and J-Horror fans, I really highly not recommending this movie to watch on cinema, just watch it on DVD.

A Silly Story About Nazi. Review of “Iron Sky”

Nazi sepertinya masih seru untuk diangkat ke medium film. Apalagi dengan twist story yang kita saja sebagai orang awam nggak kepikiran, salah satu contoh adalah film produksi Norwegia “Dead Snow” (2009) karya sutradara Tommy Wirkola, yang menceritakan tentara Nazi menjadi zombie dengan menggabungkan horor dan komedi. Sekarang, genre sci-fi dimasukkan ke film arahan sutradara debutan, Timo Vuorensola. Film ini juga hasil ‘patungan’ dari tiga negara yaitu Australia, Finlandia, dan Jerman. Selain itu, film ini berhasil masuk official selection di Berlin International Film Festival 2012.

Tahun 2018. seorang astronot terbang keBulan. Ternyata, dia menemukan kalau ada sebuah benteng yang dibangun di sana. Setelah diselidiki, benteng itu adalah markas Nazi yang sudah bersembunyi sejak tahun 1945. Ternyata, selama persembunyian lama Nazi di Bulan, Nazi ingin menguasai bumi dengan peraturan kolot dan peralatan kuno tapi canggih yang akan mengancam kehidupan manusia. Bahkan, politik Amerika pun juga melakukan sedikit kerjasama dengan Nazi, sampai pada akhirnya peperangan besar terjadi.

Okay, here’s the review. Premise yang di-published awalnya sangat seru untuk membuat rasa penasaran untuk menonton film ini, bayangkan saja Nazi selama ini bersembunyi di Bulan puluhan tahun dan sekarang saatnya untuk mereka menguasai Bumi. Begitu melihat filmnya, di luar ekspektasi. Timo menambahkan genre komedi untuk membuat film ini menjadi lucu dan nggak terlalu serius, tapi nyatanya humor yang ditampilkan kurang lucu. Entah kenapa, menurut Saya Nazi disini menjadi kurang ditakuti dan kurang sadis seperti pengga,baran Nazi pada umumnya. Ceritanya menjadi maksa, dengan slapstick yang nggak jelas. Walaupun ceritanya terbilang buruk, kelebihan film ini ada di CGI yang memukau sekaligus peperangan udara Nazi VS Amerika melakukan baku tembak. Tata kostum dan hair-do yang keren juga jadi nilai plus di film ini, sehingga membuat kita kalau menonton film ini dimanjakan dengan tampilan visual yang baik.

Overall, Saya rasa kalau ingin menikmati film ini cukup membeli blu-ray nya saja dengan tampilan High Definition 1080p. Seharusnya, premise awal yang awalnya terbilang beda, harusnya eksekusi lebih bagus dari premise singkat yang diumumkan. CGI bagus tapi cerita kurang mendukung sepertinya hanya buang-buang uang saja.

The Spy Who Bored Me (and Audiences). Review of “The Bourne Legacy”

Tahun 2002, Doug Liman menyutradarai film spionase tentang agen atau mata-mata yang terkena amnesia lewat “The Bourne Identity” yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Robert Ludlum. Matt Damon yang memerankan Jason Bourne berhasil membawa karakternya dengan baik, sehingga sukses di box office dan dilanjut dengan sequel-nya “The Bourne Supremacy” (2004) dan “The Bourne Ultimatum” (2007) yang juga diadaptasi dari novel yang berjudul sama. Bedanya, di film kedua dan ketiga disutradarai oleh Paul Greengrass yang membuat intrik dan misteri tentang identitas Jason Bourne sekaligus program Treadstone dan Blackbriar diulik lebih dalam, ketegangan pun memuncak dengan trilogy yang sempurna. The Bourne Trilogy membuktikan, kalau film bertema spionase nggak harus dengan senjata dan peralatan canggih, kepintaran memecahkan strategi dan ketangkasan sang agen atau mata-mata itulah justru membuat lebih seru untuk dinikmati sepanjang film. Cerita sudah selesai? Tentu nggak, ternyata produser tergiur untuk melanjutkan kisah Bourne. Tapi, bukan Bourne yang jadi inti kisah ini, namun orang lain yang ternyata juga ikut program yang sudah disebutkan di atas. Tony Gilroy yang menulis dan menyutradarai film ini (sebelumnya menjadi penulis skenario The Bourne Trilogy), mengutarakan kalau film ini lebih menceritakan lebih dalam lagi program Treadstone dan Blackbriar. Dengan memasang Jeremmy Renner sebagai pengganti Matt Damon, tampaknya akan menjadi film yang lebih seru lagi (we guess).

Aaron Cross (Jeremy Renner), adalah mantan angkatan darat yang menjadi sukarelawan untuk ikut program tersembunyi dari CIA dengan penghapusan identitas. Masalah yang muncul adalah program ini akan dibocorkan oleh seorang jurnalis ke seluruh dunia dengan sumber yang diduga adalah orang yang dulu menjalankan program alias Jason Bourne yang sekarang sebagai penjahat Amerika. Dengan kasus hampir terbongkarnya program ini, Ret. Col. Eric Byer (Edward Norton), berusaha menyelamatkan program ini. Di sisi lain, Aaron harus meminum obat berwarna hijau dan biru, untuk tetap dalam kondisi sehar karena pengaruh dari program yang dia jalankan. Sedangkan cerita beralih ke Dr. Marta Shearing (Rachel Weisz), dokter yang bekerja di salah satu laboratorium besar, terancam dibunuh karena insiden yang terjadi di laboratorium itu. Aaron Cross yang selama ini bersembunyi di Alaska, sadar dia juga diburu untuk menghilangkan saksi. Aaron membantu Dr. Marta dalam menguak program yang disebut Treadstone dan Blackbriar itu sambil menyibak tabir misteri identitasnya dan kenapa dia diburu sekaligus diancam dibunuh.

Okay, here’s the review. Banyak kesalahan besar yang ada di film ini, pertama film ini juga diadaptasi dari novel berjudul sama karya Eric Van Lustbader (Eric membeli hak cipta kisah Bourne sepeninggal Robert Ludlum) ini jauh sekali perbedaannya dengan cerita novelnya. Di novel, karakter Jason Bourne masih menjadi karakter utama dan nggak ada yang namanya Aaron Cross, jadinya film ini menjadi kehilangan arah. Lalu, setengah adegan pertam terlalu banyak dialog yang bukannya membuat kita menyusun puzzle di pikiran kita, tapi justru membuat bosan. Karakter Jason Bourne hanyalah tempelan di berkas-berkas dokumen, sebenarnya kalau film ini berjudul “The Aaron Identity” akan lebih cocok. Apa yang diutarakan Tony Gilroy untuk menguak lebih dalam lagi tentang program Treadstone dan Blackbriar ternyata masih tanggung, masih banyak pertanyaan yang sekiranya akan ada di pikiran penonton, bahkan dijelaskan ada program baru LARX yang hanya menjadi tempelan sekilas. Ending-nya pun nggak terlalu istimewa, justru bisa dibilang itu nggak ada conclusion yang jelas bagaimana nasib Aaron dan Marta. Berbicara tentang akting, Jeremy Renner dan Rachel Weisz masih menunjukkan performa akting yang bagus, chemistry mereka lumayan terbentuk lewat film ini. Yang menjadi kelebihan di sini hanyalah adegan aksi, kepintaran, dan ketangkasan Aaron untuk memberantas orang-orang yang akan memburunya, ciri khas itu masih ada walaupun hanya di bagian menjelang akhir saja yang bisa membuat adrenalin kita naik. Rilis juga di IMAX, dan Saya sangat nggak merekomendasi menonton format ini. Efek IMAX 2D nggak istimewa, cukup nonton di format bioskop pada umumnya dan kalau bisa tontonlah di hari biasa dengan harga tiket murah.

Overall, film ini kurang istimewa, membosankan, dan keluar dari pakem Bourne yang sudah dikenal penikmat trilogy-nya. Membuat beda novel memang boleh, tapi mengganti karakternya menjadi tokoh baru itu sudah fatal. Mungkin untuk para pecinta The Bourne Trilogy akan sangat kecewa dengan film ini, dan buat orang awam harus menunggu lama sampai adegan aksi yang menegangkan itu ada di bagian akhir, quite bored. Rumor mengatakan, bahwa ini akan dibikin trilogy baru, well I think, hilangkan nama Bourne menjadi Aaron. Period.

Asian Marvel Look-a-Like Superhero With More Touch of Drama. Review of “The Four”

Film bertema wuxia, memang selalu identik dengan keindahan visual dan tata koreografi untuk adegan kungfu. Flashback ke era tahun 1970-an sampai 1990-an, film jenis ini menjadi kancah per-mainstraem-an film produksi Cina dan Hong Kong yang paling sukses karena kental dengan legenda dan sejarah negara mereka sendiri. Untuk generasi oldies, pastinya tahu Cheng Pei Pei, cewek tangguhyang sangat lihai waktu berlaga di layar lebar. Generasi 1990-an pastinya kita akan kenal dengan Jet Li, Andy Lau, Aaron Kwok, dan Brigitte Lin atau Lin Ching Hsia. Untuk generasi sekarang, ada Donnie Yen, Zhang Ziyi, dan Liu Yifei. Kali ini, tema wuxia semakin maju dalam hal sinematografi. Terbukti, sineas Gordon Chan merilis film yang berdasarkan novel laris karya Woon Swee Oan (novelis yang berkebangsaan Malaysia) berjudul “The Four“.

Pada masa Dinasti Song, The Six Gate Constabulary membentuk 4 polisi detekteif untuk memecahkan kasus yang terjadi di kota. Di sisi lain, ada divisi The Divine Constabulary yang juga berperan sebagai detektif, tapi anggotanya adalah orang-orang biasa yang punya kekuatan khusus. Terjadilah kasus penggadaan uang palsu yang kedua divisi ini turun tangan menyelidikinya, walaupun sering berselisih. Ternyata, kasus penggadaan uang palsu itu hanyalah kasus kecil karena dibalik itu ada pasukan zombie yang akan menguasai dunia

Okay, here’s the review. Awalnya menjanjikan, karena dibuka dengan opening sequence sinematografi indah yang menggambarkan daratan Cina kuno. Tone warna yang sempurna dengan sentuhan modern menjadi keunggulan dalam film ini. Lalu, dimulailah pengenalan masing-masing karakter yang quite boring. Terutama dengan penggambaran rasa love interest antara karakter utama cowok dan cewek (lupa namanya, kalau yang cewek namanya Emotionless) yang terlalu digambarkan dengan jelas, esensi fantasi ala Cina kuno menjadi kurang kena. Untuk ukuran CGI, teknologinya sudah hampir menyamai Hollywood, efek terlihat lumayan bagus walaupun sedikit masih kasar. Intinya, kita akan dibuat bingun sebenarnya genre apa yang tepat untuk film ini, karena kurang cocok kalau dibilang fantasy-martial arts, justru banyak pencampuran superhero, thriller, dan horor karena ada zombie. Bahkan, menetapkan judul “The Four” rasanya kurang cocok karena ini cerita tentang 4 polisi di The Six Gate Constabulary atau fokus 4 karakter utamanya. Sepertinya tidak ada kefokusan yang jelas di film ini. Too bad Gordon Chan, sepertinya film terbaru kamu ini kurang WAH dalam segi cerita.

Overall, dengan tata production design yang WAH bukan berarti cerita dibuat kurang WAH. Itulah kekurangan film ini, menonton film ini hanyalah sebagai eye-candy saja dengan memanjakan visual kita mulai dari kostum sampai sinematografi yang keren. Bisa dibilang, film ini merupakan Marvel versi Cina dengan adanya nama-nama alias sesuai dengan karakteristik tokoh yang punya kekuatan khusus di film ini. Dan jangan sedih, akan ada sequel-nya untuk rilis di tahun 2013, Semoga bisa lebih baik dari yang sekarang.

More Action, But Still Weak In Story. Review of “The Expendables 2”

Penggemar film laga (action), pastinya kalau yang sekarang sudah berumur 26 tahun ke-atas akan suka dengan film-film action kelas B yang dibintangi Dolph Lundgren, Jean Claude-Van Damme, bahkan Chuck Norris sekalipun. Tapi, Arnold Schwarzenegger dan Slyvester Stallone pernah merasakan film laga nggak harus kelas B hanya mengandalkan action saja sebut saja film “Terminator” dan “Rambo“. Generasi baru, Jason Statham, juga membuktikan kalau film laga masih bisa dinikmati kalangan muda dan dia berhasil memikat di trilogi “Transporter“. Janngan lupa juga cult action asal Cina pun juga masih diminati, sang bintang Jet Li pun menjadi salah satu bintang laga paling laris sampai saat ini. Well, Stallone ingin mengulang masa kejayaan film laga tahun 1980-an dengan mengumpulkan semua bintang laga dalam satu film. Dia menulis cerita dan menyutradarai film “The Expendables” (2010) yang sukses secara komersil di Amerika bahkan di seluruh dunia. Padahal, ceritanya biasa-biasa saja, bahkan hampir bisa dibilang ini film tanpa cerita hanya ‘gebug-gebugan’ saja oleh aksi para oom-oom yang (sepertinya) memakai steroid ini. Dicaci kritikus bukan berarti berhenti, jangan sedih masih ada sequel-nya yang akan kita bahas disini. Dan kali ini menggaet Jean-Claude Van Damme dan Chuck Norris, dan memperbanyak porsi Schwarzenegger dan Bruce Willis serta wajah baru Yu Nan dan Liam Hemsworth. Well, setidaknya Simon West yang menggantikan Stallone di kursi sutradara.

Pasukan yang dipimpin Barney Ross (Slyvester Stallone), kembali melakukan misi yang diberikan oleh Church (Bruce Willis). Dengan anggota barunya Billy The Kid (Liam Hemsworth) dan Maggie (Yu Nan), mereka menelusuri misi yang mereka jalani sampai pada akhirnya merugikan mereka dan harus mengorbankan salah satu anggotanya. Penuh dendam, Barney melacak keberadaan organisasi gelap yang dipimpin oleh Villain (Jean-Claude Van Damme), dan peperangan antar kelompok mereka terjadi dengan sengit.

Okay, here’s the review. Kalau dibandingkan dengan film pertama, sequel ini lebih baik menonjolkan action dari awal sampai akhir. Porsi Schwarzenegger yang lebih banyak juga mengobati rasa kangen fans bintang “Terminator” ini. Walaupun ceritanya masih biasa saja nggak terlalu istimewa, film ini masih bisa dinikmati semua orang penyuka film laga, ataupun fans Liam Hemsworth. Parade oom-oom steroid ini masih menunjukkan kepiawaiannya dalam berkelahi, dan yang paling stealing scene di sini adalah Jean-Claude Van Damme yang membuktikkan bahwa dia masih STNK (Sudah Tua Namun Kuat), dia masih bisa melakukan tendangan di udara. Sayangnya, Chuck Norris bisa dibilang hanya sebagai cameo di sini, penampilannya hanya sebentar dan nggak ada interaksi dengan yang lain kecuali dengan Stallone. Entah kenapa akting Yu Nan sedikit maksa di sini, dan kurang tangguh sebagai bad-ass chic dengan muka datar sepanjang film. Stallone juga kurang greget, Saya nggak tahu apa karakternya dibuat seperti itu (ekspresinya mendekati lagi giting dan mengantuk) atau memang nggak ada perkembangan akting, menurut Saya kurang garang. Banyak dialog yang bisa mengundang tawa, terutama adegan Bruce Willis dan Schwarzenegger waktu menembaki para penjahat di airport, justru itulah kelebihan film ini. Simon West berhasil mengungguli Stallone dalam menyutradarai film ini, keputusan yang bagus untuk memakai jasa sutradara “Lara Croft: Tomb Raider” ini.

Overall, nggak jelek tapi juga nggak istimewa. Buat kalian yang ingin terhibur dengan ketangguhan aktor-aktor berotot yang sudah tua ini, Saya rasa jangan dilewatkan. Jangan sedih, akan ada sequel lagi yang rencananya akan masuk Nicholas Cage. Should we wait for it? It’s up to you.

The First Look Of “Carrie”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Entertainment Weekly baru saja publish still photo pertama Chloe Grace Moretz sebagai Carrie White di film terbaru besutan sutradara Kimberly Peirce (Boys Don’t Cry). Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Stephen Kings, film thriller-horror yang akan rilis tahun 2013 ini sudah pernah difilmkan sebelumnya di tahun 1976, “Carrie“, yang disutradarai oleh Brian De Palma dengan bintang Sissy Spacek sebagai Carrie White dan Piper Laurie sebagai Margaret White (ibu dari Carrie). Entertainment Weekly juga menampilkan still photo pertama Julianne Moore sebagai Margaret White yang religius dengan penuh rasa penasaran, apakah akan lebih bagus atau bisa menyamai pakem dari film pertamanya.

Bercerita tentang Carrie White, seorang remaja yang sering di bully di sekolahnya karena dianggap aneh. Carrie dibenci semua teman-teman sesama cewek di sekolahnya. Sampai pada akhirnya waktu saat prom tiba, Carrie yang pada puncak kemarahannya karena bully dari teman-temannya itu berujung pada musibah yang bisa mengakhiri semua nyawa yang ada di sekolahnya itu, termasuk semua temannya. Well, what do you think? Seram yang mana pembawaan Carrie dan Margaret di film pertamanya atau yang versi baru? You decide, and set the date of this film release, March 15th 2013.