Smart Slasher From Thailand. Review of “Countdown”

20130124-212928.jpg

Sub genre slasher di fantastic genre sepertinya masih menjadi favorit untuk para pecinta film. Terutama film Hollywood yang sudah banyak memproduksi film ber genre ini, sayangnya hanya sedikit buatan Hollywood yang berkualitas, hanya mengutamakan darah bermuncratan dan keseksian para pemainnya, sekaligus unsur sex explicit yang juga jadi nilai jualan utamanya dibanding ceritanya. Apa jadinya kalau Thailand membuat film slasher? Kita pasti sedikit skeptis dengan hasilnya, karena negri itu justru lebih kuat di genre horor. Dengan production house GTH yang sukses dengan film “4Bia” dan “Phobia 2″, mereka optimis dengan genre slasher baru berjudul “Countdown”. Karya debut sutradara Nattawut Poonpiriya ini diharapkan bisa membuat film slasher yang tidak hanya menonjolkan kesadisan tapi juga cerita yang bagus.

20130124-213116.jpg

Perayaan malam tahun baru selalu dinanti di setiap negara. Terutama di New York selalu ramai di Time Square untuk berkumpul bersama-sama. Tapi, tidak berlaku oleh 3 sahabat asal Thailand yang tinggal di sana. Mereka adalah Jack (Pachara Chirativat), Bee (Jarinporn Junkiet), dan Pam (Pataraya Krueasuwansiri). Mereka tinggal di satu apartemen dan ingin pergantian malam tahun baru 2013 tidak membosankan. Lalu Jack menemukan brosur pengedar ganja bernama Jesus yang bisa dipanggil ke rumah untuk private party. Ketika Jesus ke apartemen mereka, awalnya berjalan sangat fun sambil menunggu detik-detik pergantian tahun. Tapi, justru malam tahun baru itu berubah menjadi malam mimpi buruk mereka.

20130124-213225.jpg

Okay, here’s the review. Kamu berpikir film ini menjadi tipikal film slasher mainstream yang biasa dibikin Hollywood? At first mungkin kamu akan berpikir begitu, tapi kamu harus membuang pikiran itu. Film ini adalah film slasher yang bagus dan mengutamakan cerita tanpa harus banyak darah bersimbah. Cerita yang mengalir dengan sangat rapi dengan akting para pemainnya yang chemistry-nya seimbang. Film ini juga bisa mempermainkan pikiran kamu ketika menontonnya, kamu akan berpikir apakah itu nyata atau bukan. Twist ending yang pintar sekaligus cerdas yang bisa bikin kamu tertipu tanapa menghilangkan esensi cerita sepanjang film. Sutradara debutan ini patut diberi applause meriah karena berhasil membuat film slasher yang sebenarnya.

20130124-213326.jpg

Overall, terganggu dengan banyaknya adegan banyak darah yang tidak logis? Sepertinya kamu harus menonton film ini. Walaupun tidak terlalu berdarah, siap-siap saja merasa miris dengan beberapa adegan sadisnya. Salah satu film fantastic genre yang recommended untuk ditonton di awal tahun ini.

This review also published in http://www.freemagz.com

Beautiful Cinematography and Fun Story. Review of “The Hobbit: an Unexpected Journey”

20121227-152027.jpg

Cerita tentang dunia fantasi dan khayalan dengan makhluk-makhluk seperti peri, kurcaci, raksasa, dan penyihir sudah banyak di filmkan sejak lama. Nggak hanya cerita anak-anak saja yang menciptakan dunia fantasi, namun orang dewasa juga bisa menikmati cerita film bergenre fantasi dengan ceritanyang lebih gelap dan sedikit banyak adegan kekerasan. Thanks to J.R.R. Tolkien, yang membuat literatur trilogyThe Lord Of The Rings“. Dengan setting Middle Earth yang dihuni para makhluk fantasi seperti peri, penyihir, raksasa, orc, goblin, kurcaci, dan juga hobbit. Thanks also to Peter Jackson yang berhasil menghidupkan trilogy “The Lords Of The Rings” menjadi film yang sampai sekarang diminati pecinta film fantasi (khususnya semuanpecinta film) sekaligus mendekati penggambaran novel yang ditulis oleh Tolkien. Kesuksesan film ini mengganjar 11 piala Oscar untuk saga terakhir berjudul “The Return of The King” termasuk Best Picture di tahun 2004. Setelah itu, sutradara yang pernah menyutradarai film remake “King Kong” ini, berminat untuk kembali ke dunia Tolkien dengan mengadaptasi novel “The Hobbit” yang merupakan prequel cerita trilogyThe Lord Of The Rings” mengisahkan Bilbo Baggins yang menemukan the one ring pertama kali sebelum harus dihancurkan Frodo Baggins, dan ikut berpetualang bersama para kurcaci untuk merebut tanah mereka yang sudah hancur. Awalnya, proyek film ini akan digawangi oleh Guillermo Del Toro yang sukses dengan “Pan’s Labyrinth“, bahkan Del Toro sudah mempunyai vision sendiri dengan dunia Tolkien. Setelah sekian lama, dan proyek hampir terbengkalai Del Toro mundur dan Peter Jackson lah yang turun tangan untuk menggarap film yang akan menjadi trilogy ini.

20121227-152418.jpg

Seperti yang diceritakan di atas, kisah film ini berfokus pada Bilbo Baggins (Martin Freeman), seorang hobbit yang menikmati hidup tenangnya di Shire, Middle Earth. Suatu hari, dia kedatangan Gandalf the Grey (Ian McKellen), penyihir yang mengajakanya berpetualang. Awalnya Bilbo nggak menghiraukan ajakan Gandalf malah justru mengabaikannya, dan terjadilah hal yang di luar dugaannya. Sekelompok kurcaci yang dipimpin oleh Thorin Oakenshield (Richard Armitage) datang ke rumah Bilbo, kedatangan mereka membuat Bilbo nggak nyaman karena persediaan makanan Bilbo habis dimakan mereka. Setelah menjelaskan petualangan mereka yang ingin merebut tanah para kurcaci yang hilang, Erebor, Bilbo masih enggan berpetualang malah diakaui sebagai master pencuri oleh Gandalf untuk membantu para kurcaci. Namun, Bilbo justru merubah niatnya untuk ikut berpetualang bersama mereka. Dan perjalanan yang nggak terduga pun terjadi.

20121227-152652.jpg

Okay, here’s the review. Keputusan tepat untuk Peter Jackson kembali menyutradarai film ini, karena dialah yang memang mengerti dunia Middle Earth. Terbukti dengan sinematografi yang indah, lengkap dengan visual effects yang spektakular untuk memanjakan mata kamu dari awal hingga akhir film ini. Alur ceritanya sangat flowy dan nggak membosankan, sampai kita nggak terasa sudah 3 jam duduk di bioskop. Suatu terobosan baru yang dilakukan oleh Peter Jackson, karena dia mengambil gambar dengan 48 frame/second High Frame Rate (HFR) yang membuat tampilan gambar menjadi lebih tajam, kita akan disuguhkan gambar seperti kita menonton film blu-ray di HD TV 1080p dengan layar lebar. Kalau kamu penikmat visualisasi dalam menonton film, format 3D dengan HFR sangat direkomendasikan. Tapi, jika kamu yang belum terbiasa dengan format ini, pastinya akan terganggu karena gambar terlalu cepat dan membuat mata capek sekaligus pusing. Jangan sedih,masih ada format 2D dan IMAX 3D yang recommended, tinggal pilih sesuai dengan kenyamanan kamu untuk menonton film ini.

20121227-152758.jpg

Overall, apapun format film ini yang kamu pilih, kamu akan tetap dimanjakan oleh visual yang sempurna lewat film babak pertama dari film ini. Tentunya film ini nggak boleh kamu lewatkan begitu saja. Dan sangat nggak sabar untuk menanti lanjutannya “The Hobbit: The Desolation of Smaug” yang akan rilis tahun depan.

The Horror’s So Silent Literally. Review of “Silent Hill: Revelation”

SHRposter

Tahun 2006, film yang diangkat dari video game berjudul “Silent Hill” dirilis. Antusias pecinta video game survival horror produksi Konami ini sangat tinggi karena tampilan visual di video game “Silent Hill” sangat bagus dengan penampakan monster unik dan artsy, terutama suster pembunuh yang berjalan meliuk-liuk. Film yang dibesut Cristophe Gans ini sukses menampilkan visual yang keren seperti di video game-nya, sayangnya dari segi cerita jauh di atas ekspektasi. Survival horror yang dibentuk lewat film ini sama sekali kurang memberikan suspense untuk penontonnya. Setelah sekian lama dan dijanjikan akan dibuatkan sequel. 6 tahun berlalu akhirnya lahirlah sequel film ini “Silent Hill: Revelation” yang dirilis dengan format 3D. Katanya, akan lebih seram daripada film pertamanya.

Mengambil jalan cerita dari video gameSilent Hill 3”, Heather Mason (Adelaide Clemens) dengan nama asli Sharon DaSilva, harus hidup berpindah-pindah karena tuntutan pekerjaan dari ayahnya, Harry Mason (Sean Bean). Sebenarnya itu trik ayahnya, agar Sharon tidak ingat dan tidak kembali ke kota terkutuk Silent Hill. Suatu hari, ayahnya menghilang dan Heather teringat lagi dengan kota Silent Hill. Dia percaya kalau ayahnya terjebak di sana. Heather kemudian menemukan kenyataan yang menyeramkan, dan misteri dibalik pengungkapan reinkarnasinya.

Okay, here’s the review. Lebih bagus dari yang pertama? Completely not. Film ini memang menampilkan visual yang sama persis dengan game-nya, itu yang menjadi kelebihan film ini. Ya, itu saja kelebihannya. Cerita yang dibangun dari awal sampai akhir sama sekali membosankan cenderung banyak dialog yang dipaksakan. Horor nya juga tidak menampilkan greget yang membuat kita kebayang-bayang, hanya sekedar kaget-kagetan saja. Ending yang ditampilkan juga antiklimaks, dan semua hanya bilang “that’s it?”

Overall, walaupun didukung efek 3D yang bagus, tetap saja membuat film ini banyak kekurangan. Ini adalah salah satu film yang gagal mengadaptasi kesuksesan video game yang terkenal.

James Bond With A Touch Of Drama But All GREAT. Review of “Skyfall”

Nggak kerasa usia karakter fiktif terkenal James Bond karya novelis Ian Fleming ini sudah berumur 50 tahun sejak karakter ini mulai difilmkan. Pertama kali diperkenalkan di layar lebar dengan Sean Connery sebagai James Bond lewat “Dr. No” (1962), tokoh ini langsung disukai pecinta film dan punya fanbase sendiri. Berbagai generasi sudah memerankan James Bond setelah Sean Connery mulai dari Roger Moore, Timothy Dalton, George Lazenby, Pierce Brosnan, dan sekarang yang lebih garang Daniel Craig. Sejak muncul di “Casino Royale” (2006), sosok baru James Bond yang garang ini tambah disukai, membuktikkan kalau Daniel Craig berhasil membawa karakter james Bond menjadi lebih fresh. Setelah “Quantum Of Solace” (2008), sekarang James Bond beraksi lagi lewat “Skyfall” yang kali ini dijanjikan lebi punya sisi drama yang kelam tanpa harus meninggalkan action khas James Bond dengan sutradara peraih Oscar, Sam Mendes.

James Bond a.k.a 007 (Daniel Craig) sedang melakukan misi di Istanbul bersama agen MI6 Eve (Naomie Harris). Dalam misinya mengejar penjahat bernama Patrice (Ola Rapace), Bond tertembak dan dinyatakan tewas dalam misi. Sedangkan M (Judi Dench), harus menghadapi terror masa lalunya yang bisa mengancam nyawanya. Teror dimulai ketika kantor MI6 dibobol dan diledakkan, M harus memutar otak dan mengusut siapa dalang semua ini. Ternyata, Bond nggak tewas, dia masih hidup dan menyendiri. Ketika dia tahu kantor MI6 diserang, dia kembali ke London untuk membantu M mencari tahu apa motif sang teroris. Kali ini kesetiaan James Bond dengan M diuji, walaupun harus mengetahui masa lalu M yang penuh kejutan yang juga menyangkut dirinya.

Okay, here’s the review. Film James Bond ini bisa dibilang menjadi salah satu film James Bond yang terbaik. Sam Mendes berhasil membawa film ini lebih kelam dengan sentuhan drama. Memamg villain yang ditampilkan di sini lebih melakukan aksinya karena urusan personal bukan yang terlalu tembak-tembakan ke arah sadis. Intrik dari pertengahan film menuju akhir membuat kita nggak bisa melewatkan satu dialog karena permasalahan dan konklusi yang ada di dialog. Twist yang seru dan juga di akhir film membuat film ini menjadi utuh. Sampai banyak yang berkata ‘oohhh ternyata selama ini itu si dia… well, itu karakter tersembunyi yang akhirnya muncul lagi. I’m not gonna say in here. Javier Bardem keren sekali memerankan main villain yang penuh intrik, you will love him.

Overall, nggak bisa dilewatkan film ini. Kalau ingin lebih seru dan menikmati keindahan landscape sinematografi serta suara yang dahsyat, better watch in IMAX. Dan Saya sudah nggak sabar untuk menantikan petualangan James Bond selanjutnya. Go BOND!!!

It Makes You Scare About The ‘Jumping’ But It’s All Predictable. Review of “Paranormal Activity 4″

Teknik found footage lagi-lagi jadi hype di perfilman Hollywood, apalagi dengan genre horor dan thriller menjadi jualan utama untuk menambah kengerian penonton sewaktu menonton film itu. Pertama kali, film found footage dibuat ada di film “Cannibal Holocaust” (1980) dengan kesadisan penuh eksplisit di film ini tapi sampai sekarang dicari oleh penggemar film gore. Kesuksesan itu juga melahirkan film “The Blair Witch Project” (1999) yang pada awalnya tertipu karena itu adalah kejadian nyata karena menampilkan wawancara di sebuah acara TV (sebelum film itu rilis) yang mengaku anggota keluarganya hilang, padahal itu adalah viral marketing untuk mempromosikan film ini, tapi tertipu pun penonton merasa puas karena walaupun horor tapi menampilkan cerita yang bagus serta kengerian yang luar biasa bikin kaget. Sekarang, ada “Paranormal Activity” film berbudget sangat kecil tapi menjadi box office hits karena bukan ‘penampakan’ yang jadi jualan tapi fenomena layaknya ‘uji nyali’ yang membuat film ini punya nilai plus. Kesuksesan itu menjadikan sequel yang sekarang sudah masuk angka 4. Are we still scare to watch this?

Sekuel kali ini menceritakan 5 tahun sejak insiden di film “Paranormal Activity 2”, ketika Katie dan keponakannya, Hunter, hilang. Sebuah keluarga yang tampak baik-baik saja harus menghadapi fenomena gaib sejak kedatangan anak kecil yang menginap di rumahnya bernama Robbie. Keluarga itu terpaksa menerima Robbie yang tinggal di seberang rumah mereka karena ibunya masuk rumah sakit. Suara-suara mengganggu sampai kekerasan fisik yang nggak lazim dialami keluarga itu dan sepertinya incaran utamanya adalah Wyatt, anak kecil yang merupakan anak paling kecil di keluarga itu.

Okay, here’s the review. “Paranormal Activity” 1 dan 2 memang diakui bagus dan nggak terkesan scripted. Itu yang membuat film ini mempunyai nilai lebih untuk sebuah film horor yang menegangkan. Masuk ke “Paranormal Activity 3” yang merupakan prequel, walaupun ada bagian yang membuat kita ketakutan, tapi sudah terlihat kalau itu scripted, nggak ada lagi kejutan-kejutan seru seperti film pertamanya. Yang ke-4 ini justru lebih biasa saja, banyak adegan yang hanya mengagetkan tapi semua adegan sampai akhir bisa diprediksi, dan nggak ada kejutan-kejutan lainnya yang membuat film ini seperti horor ‘garing’. Walaupun teknik pengambilan kameranya nggak hanya handycam saja dan menggunakan kamera laptop, tetap saja masih kurang menggigit untuk sebuah film horor.

Overall, film yang biasa saja dan tetap akan dibuat sequel nya. Kalau yang belum menonton film ini, siap-siap kecewa tapi begitu filmnya selesai jangan beranjak dulu dari kursi kalian karena ada post credit scene selama 30 detik yang berbahasa Spanyol.

Good Remake and Nice Action. Review of “Dredd”

 

Sudah banyak tokoh komik yang di adaptasi menjadi film layar lebar Hollywood. Kayaknya, Hollywood ingin tokoh komik yang nggak terlalu dikenal masyarakat secara worldwide, cuma dikenal di Amerika dan Eropa saja, untuk diadaptasi ke layar lebar. Misalnya, “Hellblazer” dengan tokoh John Constantine lewat film “Constantine”, lalu ada “Sin City”, ‘The Spirit”, sampai serial “The Walking Dead”. Let’s flashback to 1995, tokoh Judge Dredd yang berasal dari komik diadaptasi menjadi film dengan bintang Slyvester Stallone berjudul sama. Dengan setting dystopia modern di tahun 2139, film yang mengandalkan action ini meskipun karakter Judge Dredd dibuat mirip seperti komik, tapi film ini sukses jadi sasaran cacian kritikus film yang menilai kalau film ini punya storyline yang lemah. Sekarang, tahun ini muncul remake pertama dari karakter hakim yang dikenal tanpa ampun ini dibuat dengan sutradara Pete Travis (Vantage Point) dan si hakim berwajah garang itu diperankan Karl Urban, kali ini dengan judul lebih singkat, “Dredd”. Walaupun remake, sang sutradara bilang kalau semua jalan cerita berdiri sendiri dan nggak ada hubungannya sama yang pertama. Lebih tepat dibilang reboot dong.

Setting masih dystopia yang menggambarkan kejahatan Amerika menjadi Mega City One, hukum yang berlaku di sini diawasi oleh para hakim (judges) yang berpatroli layaknya polisi untuk menghentikan kejahatan dengan langsung menyebutkan hukuman bagi pelaku kejahatan. Kali ini, Judge Dredd (Karl Urban), mengawasi dan menilai hakim baru bernama Judge Anderson (Olivia Thirlby) yang masih pemula dan mempunyai kemampuan psikis yaitu bisa membaca pikiran dan melihat masa depan. Mereka menyelidiki gembong narkoba bernama Ma-Ma (Lena Headey) yang menguasai satu blok gedung di Peach Trees dengan memproduksi narkoba bernama Slo-Mo yang membuat efek lambat bagi orang yang mengkonsumsinya. Berhasil menangkap anak buahnya, tapi Dredd dan Anderson terjebak tidak bisa keluar dari blok itu. Terjadilah aksi Judge Dredd melawan semua anak buah Ma-Ma.

Okay, here’s the review. mungkin yang sudah menonton film ini pasti akan teringat sama film ‘The Raid“, yes correct.. Kemiripannya adalah pertarungan besar-besaran di satu gedung selama film itu berjalan. Hanya saja kelebihan dari film ini, meskipun haya satu tempat lokasinya,  masih mempunyai alur cerita yang mengalir dengan enak walaupun hanya aksi baku tembak. Membuat remake film bukan hal yang mudah, untungnya remake film Judge Dredd ini lebih baik dari film pertamanya. Walaupun formulanya masih menyamai film awalnya dengan aksi tembak-tembakan yang seru, tetap masih ada satu kesatuan cerita yang bisa diikuti dengan baik. Karl urban berhasil memerankan Dredd dengan baik, dengan mimik muka yang garang even kita nggak akan melihat wajahnya di balik helm ala Judge Dredd. Visualisasi yang dibuat persis komiknya, dan musik yang noisy lengkap membuat film ini menjadi seru untuk dinikmati. Jangan lupa, efek slow motion yang divisualisasikan sangat bagus ketika oramg sedang mengkonsumsi Slo-Mo.

Overall, film yang menghibur dan sedikit berdarah-darah tapi seru untuk dinikmati. Sayangnya, format 3D yang harusnya jadi nilai jual utama film ini nggak dirilis di Indonesia, padahal banyak efek spektakuler yang bisa semakin seru untuk dinikmati dalam format 3D. Salah satu pilihan seru untuk mengisi waktu luang kalian, it’s worthed.

Not So Thrilling Than The Previous One. Review of “Taken 2″

Tahun 2008, Luc Besson sebagai produser dan dibesut oleh sutradara Pierre Morel, memproduksi film aksi berjudul “Taken. Memasang aktor utama Liam Neeson yang bercerita tentang sepak terjang mantan agen CIA yang menyelamatkan putrinya dari penculikan yang dilakukan oleh sekelompok organisasi kejahatan dari Albania. Siapa sangka dengan budget yang hanya US$ 25 juta, berakhir dengan pemasukan lebih dari US$200 juta di seluruh dunia. Film ini menampilkan trik-trik yang seru ketika sang mantan agen berusaha menyelamatkan putrinya dengan cara brutal sampai membunuh lawannya yang mengganggu. Performa Liam Neeson sangat memukau dan kita dibuat tegang waktu menonton film ini. Kesuksesan film ini ternyata menggiurkan produser untuk membuat sequel. Dan here it is, “Taken 2”, yang sudah dirilis di layar bioskop Amerika dan juga Indonesia. Kali ini, sutradaranya beralih ke Oliver Megaton dan setting film yang awalnya di Paris beralih ke Istanbul.

Setahun setelah peristiwa penculikan anaknya, Kim (Maggie Grace), Bryan Mills (Liam Neeson) lebih intens untuk bertemu anak semata wayangnya itu dan mengajarkan menyetir mobil. Ternyata, pernikahan mantan istrinya, Lenore (Famke Jansen), dengan suami barunya sedang bermasalah. Bryan mengajak Kim dan Lenore untuk berlibur ke Istanbul bersamanya. Liburan yang awalnya reuni keluarga berubah menjadi bahaya. Ayah dari pelaku penculikan anaknya, menculik Lenore dan Bryan untuk misi balas dendam karena Bryan membunuh sang anak. Kim yang berhasil lolos harus gantian menyelamatkan orang tuanya, sebelum mereka dibunuh.

Okay, here’s the review. Formula yang ditampilkan di sequel ini memang sama dengan yang pertama yaitu penculikan dengan trik-trik yang seru. Bahkan kekuatan film ini ada pada pendeteksi lokasi sewaktu Bryan diculik hanya waktu matanya ditutup. Action yang seru dengan adegan laga juga melengkapi film ini. Tapi sayangnya, formula yang sama nggak bisa memunculkan ketegangan yang cukup intens. Adegan demi adegan mengalir biasa saja, bahkan cenderung mudah ditebak apa yang akan terjadi sebelumnya. Dibandingkan dengan film pertamanya, sequel film seakan-akan layaknya film action biasa yang kurang greget, malah akting para pemainnya menjadi sia-sia. Padahal, kita akan berharap kalau anaknya lah yang benar-benar menyelamatkan orang tuanya, tapi pada kenyataannya justru hanya menjadi pembantu sang ayah untuk menyelamatkan diri.

Overall, bukan film yang jelek tapi juga bukan film yang istimewa. Kalaupun nantinya akan dibuatkan sequel-nya lagi lebih baik direct to video saja. Untuk keindahan sinematografi karena setting di Istanbul, masih lumayan bagus untuk dinikmati walaupun dibalut dengan ketegangan yang biasa untuk ukuran film action.

(this review also published on http://www.freemagz.com)

 

Incredible Bicycle Chase. Review of “Premium Rush”

Salah satu elemen penting dalam film action adalah kejar-kejaran di jalan raya. Biasanya sepeda motor atau mobil menjadi ‘bintang’ utama di samping aktor-aktris yang tampil di film itu. Tapi, kalau ‘bintang’ itu diganti menjadi sepeda? Apakah masih seru? Justru inilah formula baru yang bikin Joseph Gordon-Levitt rela bersepeda di jalan raya. Sepertinya, Joseph Gordon-Levitt membuktikkan kalau dia adalah salah satu A-List aktor Hollywood yang juga akan menjadi bad-ass dude. Setelah mendampingi Christian Bale di “The Dark Knight Rises”, kali ini dia memacu adrenalinnya dengan mengendarai sepeda di jalan raya lewat arahan sutrada David Koepp. Fyi, David Koepp akhirnya kembali lagi setelah menyutradarai drama komedi “Ghost Town” (2008). Kali ini dia menyuguhkan thriller action yang berbeda dan setting hanya satu hari saja.

Di sepanjang jalanan kota Manhattan, di samping para penduduknya yang sibuk, ternyata ada yang lebih sibuk dan mengejar waktu untuk mencari nafkah di jalanan yang mengerikan. Mereka adalah kurir pengantar pesanan yang mengendarai sepeda. Wilee (Joseph Gordon-Levitt) adalah salah satu kurir itu, dia adalah salah satu kurir terbaik dan tercepat yang sering dipercaya untuk mengantar pesanan entah itu amplop atau barang. Suatu hari dia menerima pesanan dari seorang cewek bernama Nima (Jamie Chung) yang berupa amplop, dan harus sampai ke chinatown hanya dengan waktu 90 menit saja. Hal yang mudah bagi Wilee, tapi permasalahan muncul karena ada orang lain yang menginginkan amplop itu dengan cara apapun. Dan dimulailah kejar-kejaran seru di jalan raya dengan mengendarai sepeda.

Okay, here’s the review,hiatus selama 4 tahun untuk David Koepp ternyata menampilkan film yang total. Total di sini maksudnya total membuat adrenalin kita waktu melihat film ini naik dan wajah penonton berhasil dibuat tegang. Yup, he makes this movie absolutely good!!! Mungkin banyak yang berpikiran kalau kejar-kejaran mobil pasti lebih dahsyat, sekarang buang jauh-jauh pikiran mainstream itu. Kalian akan merasakan ketagangan luar biasa sewaktu melihat kejar-kejaran sepeda dengan sepeda, bahkan sepeda dengan mobil. Sudut pandang sewaktu Wilee mencari jalan yang tepat sewaktu tersudut di tengah jalan supaya nggak membuat dirinya celaka dan nggak mencelakai oran lain juga menarik, bahkan waktu Wilee mencari rute lewat GPS juga menjadi segmen yang sangat menarik. Joseph Gordon-Levitt menampilkan stamina akting yang luar biasa sebagai kurir bersepeda, dan perhatikan tangannya yang nanti dibalut seolah-olah dia mengalami kecelakaan, karena luka itu beneran ada waktu shooting dikarenakan waktu mengendarai sepeda dia menabrak taksi.

Overall, lupakan sejenak “Fast Five” atau film kejar-kejaran mobil lainnya. Kalian akan disuguhkan ketegangan yang luar biasa dengan trik-trik mengendarai sepeda untuk menemukan jalan alternatif sewaktu tersudut di jalan raya. Saatnya sepeda yang menguasai jalanan. Film thriller action yang seru untuk dinikmati, dan sukses menampilkan formula baru dalam film action.

(this review also published on http://www.freemagz.com)

The Worst Resident Evil Ever. Review of “Resident Evil: Retribution”

Thanks to Capcom, lahirlah game survival horror pertama yang berjudul “Resident Evil” di tahun 1996. Game pertama ditampilkan karakter Chris Redfield dan Jill Valentine menyelidiki sebuah rumah di tengah hutan yang ternyata dihuni oleh zombie hasil percobaan virus yang diproduksi oleh Umbrella Corporation. Game ini sukses sampai sekarang sudah mencapai seri ke-6 dan juga spin-off series game seperti “Resident Evil: Survivor“, “Resident Evil: Code:Veronica“, dan “Resident Evil: Operation Racoon City“. Tahun 2002, game sukses ini muncul dalam bentuk film dengan bintang Milla Jovovich dan Michelle Rodriguez yang berjudul sama. Film besutan Paul W.S. Anderson ini menceritakan prekuel dari game “Resident Evil”. Walaupun kritikus menilai film ini bukan film yang istimewa, perolehan seluruh dunia membuktikan kalau film adaptasi video game ini sukses secara komersil. Dilanjut dengan film-film lanjutannya “Resident Evil: Apocalypse” (2004) yang berganti sutradara ke Alexander Witt dengan menambahkan musuh Nemesis dan dua tokoh sentral dari gameResident Evil 3: Nemesis“, Jill Valentine dan Carlos Oliviera, lalu berlanjut lagi ke dua sequel-nya “Resident Evil: Extinction” (2007) menambahkan Claire Redfield dan “Resident Evil: Afterlife” (2010) dengan format 3D menambahkan Chris Redfield dan Albert Wesker. Tokoh utamanya justru tokoh original bernama Alice yang dimainkan Milla Jovovich yang sama sekali nggak ada di rangkaian seri video game “Resident Evil“. Sudah capek dengan filmnya? Jangan sedih, sekarang berlanjut ke “Resident Evil: Retribution” kali ini dirilis menggunakan format IMAX 3D. Fiuuhhhh….

Melanjutkan langsung dari kisah “Afterlife“, Alice (Milla Jovovich), akhirnya tertangkap di fasilitas Umbrella Corporation setelah gagal menyelamatkan semua orang yang ditahan di kapal Arcadia. Dia harus berhadapan dengan Jill Valentine (Sienna Guillory) yang di brain-washed oleh Umbrella menjadi top agent untuk menghalangi siapapun yang menghancurkan Umbrella termasuk Alice. Dibantu oleh Ada Wong (Li Bingbing), agent Umbrella yang membelot untuk membantu ALice selamat yang ternyata atas perintah Albert Wesker (Shawn Roberts) untuk menghancurkan Umbrella Corporation. Wabah T-Virus sudah menyerang ke seluruh dunia, dan umat manusia di ambang kehancuran. Bahkan Umbrella melakukan kloning besar untuk membuat simulasi infeksi T-Virus untuk dijual ke berbagai dunia. Alice dan Ada Wong berjuang untuk keluar dari fasilitas itu dan dibantu oleh pasukan khusus yang terdiri dari Leon S. Kennedy (Johann Urb), Luther West (Boris Kodjoe), dan Barry Burton (Kevin Durand), walaupun sampai titik darah penghabisan Alice.

Okay here’s the review. Saya penggemar berat video gameResident Evil“, dan Saya nggak mau ketinggalan untuk menonton filmnya. Film pertama menurut Saya not bad, yah walaupun ceritanya biasa saja cenderung mudah ditebak, tapi unsur dalam game-nya masih ada sehingga adaptasi itu lumayan berhasil. Film ke-2, menabahkan karakter Jill Valentine dan Carlos Oliviera mengikuti cerita “Resident Evil 3: Nemesis” juga lumayan dalam segi action walaupun sedikit dipaksakan ceritanya. Film ke-3, setting-nya yang cenderung mendekati wasteland cocok sekali dengan film yang menampilkan zombie apocalypse, dan fokus pada surviving, quite good. Sayangnya, di film ke-4 walaupun 3D nya bagus, ceritanya menjadi kacau dan banyak sekali adegan slow motion yang membuat mata kita capek untuk melihatnya. Saya sedikit berharap untuk film ke-5 ini apalagi lagi hype IMAX, sayangnya harapan itu hilang. Global di sini ternyata hanyalah simulasi yang dibuat Umbrella, justru sudah memaksakan dalam segi cerita. Lalu ditambah adegan slow motion yang kembali lagi ditampilkan even nggak terlalu banyak seperti di film ke-4. Paling parah karakter Ada Wong yang sepertinya membuat image aslinya di video game gagal divisualisasikan. Melihat akting Li Bingbing di sini kurang garang dan manipulatif, malah justru fokus berbicara bahasa Inggris dengan fasih instead of real acting, too bad. Action yang spektakuler memang, tapi nggak menambahkan thrilling kepada penonton. Kekecewaan Saya yang paling besar adalah karakter Leon S. Kennedy, di sini dia hanyalah tempelan yang hanya bisa menembak saja, padahal karakter aslinya dia itu bad-ass dude. Kemunculan kembali karakter Rain Ocampo karena kloning juga nggak menolong film ini, walaupun performa Michelle Rodriguez sudah maksimal. This is even worse than B Class movie.

Overall, buang jauh-jauh ekspektasi kalian khususnya penggemar gameResident Evil“. Sequel ini paling buruk yang pernah dibuat. Walaupun sudah dibuat dengan back sound noisy dan kental dengan musik dubstep, tetap nggak menolong kesuluruhan content film yang terasa datar dengan full effect. Rencananya, akan ada seri terakhir lagi dari film ini, dan akan mengumpulkan semua karakter sentral di game-nya. Oh not again.

Paranormal Activi-Fraud. Review of “Red Lights”

Tahun 2010, Saya melihat sebuah poster yang memasang nama Ryan Reynolds dengan judul “Buried”, dan sang aktor ini memang di poster itu digambarkan sedang ada di peti karena dikubur hidup-hidup. Of course, Saya excited dengan film ini langsung menontonnya di bioskop. Ternyata, memang film yang dibesut oleh Rodrigo Cortes ini benar-benar bikin membuat kita serasa menjadi klautrofobia beneran. Setting dan tempat hanya di peti saja, tapi sukses meningkatkan adrenalin bahkan bisa membuat kita isa berteriak sedikit. Nggak disangka, film berbudget kecil ini sukses besar untuk peredarannya di Amerika dan seluruh dunia. Setelah kesuksesan “Buried”, Rodrigo Cortes kembali lagi merilis film thriller yang kali ini mengulik kegiatan pekerja paranormal yang mempunyai keahlian untuk menyembuhkan orang (healer). Dan faktanya, Rodrigo sudah mempunyai ide cerita ini sebelum dia membuat “Buried”.

Dr. Margaret Matheson (Sigourney Weaver) adala seorang peneliti kegiatan paranormal sekaligus psikiater. Bersama asistennya, Tom Buckley (Cillian Murphy), mereka menyelidiki aksi pelaku kegiatan paranormal yang komersil yang berujung pada penipuan publik. Bahkan, mereka sering memergoki paranormal yang mengaku sebagai healer yang ternyata bohong karena dalam show-nya dibantu lewat suara dari operator melalui earphone handy talkie. Sampai akhirnya muncul kembali paranormal buta terkenal, Simon Silver (Robert De Niro), setelah 30 tahun hiatus. Tom memaksa untuk menyelidiki Simon yang awalnya ditentang Margareth, dan berujung pada pemecahan misteri yang di luar akal sehat.

Okay, here’s the review. Saya nggak akan banyak me-review film ini karena ada twist yang nggak bisa Saya ceritakan karena menghindari spoiler yang belum menonton film ini. Sekali lagi, Rodrigo Cortes menyuguhkan drama thriller yang memukau tanpa harus menggunakan banyak efek CGI. Sayangnya kelemahan film ini membuat semua orang yang menontonnya akan banyak menimbulkan pertanyaan seperti: “lho kok….ternyata….tapi kok bisa ya……kapan begitunya…nah terus maksudnya apa?”. Jadi, disarankan kalau yang memang ingin menelaah lagi film ini endingnya kenapa bisa begitu, untuk menonton dua kali.

Overall, walaupun masih belum mengungguli “Buried” di tingkat thrilling, tapi film ini nggak perlu dilewatkan buat kalian yang suka dengan cerita tentang kegiatan paranormal dan cenayang. Saya waktu selesai menonton film ini sedikit ragu, apakah healer yang diadakan dalam show secara komersil ternyata bohong juga? Well, only God knows.